Sosial Media, Sumber Inspirasi Tindak Kekerasan?

Opini164 Views

Penulis: Puput Hariyani, S.Si | Business Woman

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  -— Di penghujung tahun 2025, publik dikejutkan oleh peristiwa tragis di Kota Medan. Seperti diberitakan Kompas.com, Rabu (10/12/2025), seorang ibu berinisial F (42) tewas dibunuh oleh anak kandungnya sendiri, AL (12), sekitar pukul 04.00 WIB. Saat korban tertidur, pelaku terbangun, mengambil pisau, lalu melukai ibunya hingga meninggal dunia.

Sebagaimana dijelaskan Kapolrestabes Medan Kombes Pol Calvin Simanjuntak, terdapat sejumlah faktor yang mendorong terjadinya aksi kekerasan tersebut.

Pertama, pelaku kerap menyaksikan kekerasan yang dilakukan korban terhadap kakaknya, termasuk ancaman penggunaan pisau terhadap sang ayah.

Kedua, pelaku melihat kakaknya dipukuli menggunakan sapu dan tali pinggang.

Ketiga, pelaku menyimpan sakit hati lantaran permainan gim daring kesayangannya dihapus. Selain itu, pelaku diketahui sering memainkan gim yang menampilkan adegan kekerasan menggunakan senjata tajam serta menonton serial anime dengan visual serupa.

Sementara itu, seperti dilaporkan CNN Indonesia, publik juga dihadapkan pada kasus teror bom yang melibatkan seorang mahasiswa di Kota Depok, Jawa Barat. Akibat cintanya ditolak, pelaku menjadi tersangka setelah menyebarkan ancaman bom ke sepuluh sekolah melalui surat elektronik.

Sebagaimana disampaikan Kasi Humas Polres Metro Depok AKP Made Budi, ancaman tersebut dikirim langsung ke email masing-masing sekolah dengan mengatasnamakan pihak tertentu.

Jika dicermati, rangkaian kasus kekerasan ini menunjukkan satu benang merah: kuatnya pengaruh media digital dalam kehidupan generasi hari ini. Media sosial, gim daring, dan konten visual yang sarat kekerasan telah menjadi ruang hidup yang nyaris tanpa sekat.

Akses terhadap konten berisi bullying, bunuh diri, pembunuhan, hingga penggunaan senjata tajam begitu mudah diperoleh anak-anak, sehingga memengaruhi emosi, perilaku, dan kesehatan mental mereka.

Ironisnya, meski kejadian semacam ini kerap berulang, langkah tegas untuk membatasi akses terhadap media yang berpotensi merusak generasi masih terkesan lemah. Pembiaran terhadap kondisi ini jelas berbahaya, sebab dampaknya tidak hanya bersifat individual, tetapi mengancam masa depan sosial secara kolektif.

Harus diakui, media sosial bukan satu-satunya penyebab rusaknya generasi. Ada pilar lain yang turut memberi andil besar. Ketakwaan individu yang semakin menipis, misalnya, membuat anak kehilangan kontrol diri dan nilai moral.

Keluarga pun kerap belum mampu menanamkan keimanan secara kokoh kepada putra-putrinya, baik karena keterbatasan ilmu maupun karena tuntutan ekonomi yang menyita waktu dan perhatian.

Di sisi lain, kontrol sosial masyarakat juga melemah. Gaya hidup individualistis melahirkan sikap acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar. Prinsip “yang penting keluargaku aman” menjadi ilusi, sebab anak dan keluarga kita tetap hidup dalam ruang sosial yang saling terhubung dan saling memengaruhi.

Negara sejatinya memegang peran sentral. Perlindungan terhadap warga negara semestinya mencakup jaminan keamanan ruang hidup, baik di dunia nyata maupun di dunia digital. Tanpa regulasi dan pengawasan yang kuat, ruang digital justru berpotensi menjadi ladang subur lahirnya kekerasan baru.

Seluruh persoalan ini tidak dapat diselesaikan secara parsial. Ia menuntut kerja sistematis yang menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari politik, ekonomi, pendidikan, hingga tatanan sosial dan budaya.

Dalam pandangan Islam, pengaturan kehidupan yang menyeluruh inilah yang diyakini mampu menghadirkan ketenteraman dan menjaga manusia dari kerusakan.

Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam, dengan seperangkat nilai dan aturan yang menuntun manusia menuju kehidupan yang aman, bermartabat, dan berkeadilan. Wallahu a’lam bi ash-shawab.[]

Comment