Sri Nurhayati, S.Pd.I: Dia Milikku, Milikmu, Milik Kita Kaum Muslimin

Berita780 Views
Sri Nurhayati, S.Pd.I
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKART – Semenjak terjadi peristiwa pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid, perbincangan tentang si kain hitam nan gagah itu terus bergulir. Walaupun sudah ditegaskan oleh penjelasan beberapa ulama dan pernyataan pihak yang berwewenang, bahwa itu adalah bendera tauhid yang merupakan panji Rasulullah tapi sebagian pihak ada yang masih menganggap kalau bendera yang dibakar itu adalah milik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mereka anggap ormas terlarang. 
Anggapan yang keliru akan bendera tauhid ini, ada pihak yang tidak suka dengan bendera tauhid ini, yang sekarang semakin dicintai pemiliknya. Bahkan ketidak sukaan mereka telah membuat mereka berupaya untuk menyebarkan ketidak sukaan mereka. Seperti dengan yang baru-baru ini menimpak Habib Riziq Syihab yang difitnah di Arab Saudi sana. Mereka menempelkan bendera yang merupakan benderanya ISIS. Tapi di media mereka ganti bendera itu dengan bendera tauhid. Karena mereka ingin umat percaya kalau bendera itu adalah bendera miliki ormas mereka anggap terlarang. Tapi anggapan mereka ditepis dengan banyaknya pihak yang menganggap dan meyakini, jika bendera yang dibakar itu bukan milik HTI, tapi dia adalah panji Rasulullah SAW, Ar Rayah yang telah diwariskan kepada kita kaum muslimin.
Ar Rayah, bendera hitam yang bertuliskan kalimat Laa Illaha illallah Muhammad Rasulullah, seperti sabda Rasulullah Muhammad SAW, yang diriwayatkan Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas r.a menyatakan Rasulullah bersabda bahwa, “Panji (ar rayah) Nabi SAW berwarna hitam, sedangkan benderanya (al liwa) berwarna putih.”
Dalam riwayat lain juga dinyatakan: “Rayah Rasulullah SAW berwarna hitam, dan liwanya berwarna putih. Tertulis di situ Laa Illaha Illallah Muhammad Rasulullah.” (HR. Abu Syaikh al Ashbahani dalam Akhlaaqan Naby SAW).
Sehingga wajar ketika terjadi pembakaran bendera ini oleh pemuda Banser pada Senin 22 Oktober 2018 lalu, saat peringatan Hari Santri di Garut. Telah memicu kemarahan kaum muslim, tidak hanya di Indonesia, tapi di negeri-negeri muslim pun, bahkan presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menangis, saat mengetahui aksi pembakaran bendera tauhid itu. 
Namun, seolah ada penyepelean akan kasus ini oleh para penguasa dan pihak yang berwenang, para pelaku pembakaran ini dibebaskan dengan alasan mereka tidak ada niatan jahat dalam membakar bendera tauhid itu. Padahal sejatinya tindakan mereka telah menorehkan luka yang perih mengiris hati umat seperti tersayat sembilu sehingga membuat umat ini pilu. Karena komitmen, ikrar yang menjadikan hidup dan mati mereka telah dihinakan oleh beberapa pemuda Banser yang melakukan pembakaran dengan sombong dan arogannya mereka membakar kain yang tidak hanya sehelai kain, tapi dia adalah panji Rasulullah, ar Rayah. Dengan bangganya mereka rekam dan mengupload ke media sosial.
Bahkan, selain membebaskan mereka para pelaku pembakaran, pihak penguasa dan pihak yang berkepentingan mengatakan bahwa bendera yang dibakar itu adalah milik HTI. Padahal sudag ditegaskan oleh Juru Bicara HTI, Ustadz Ismail Yusanto, bahwa HTI tidak memiliki bendera. Ar Rayah yang selalu ada dalam setiap acara bukan merupakan bendera atau simbol HTI, tapi adalah bagian dari syiar HTI untuk mengenalkan panji ini kepada kaum muslimin pemilik bendera ini.
Pernyataan-pernyataan bahwa bendera yang dibakar itu adalah milik HTI terus dilontarkan baik di media nasional atau media sosial, yang tadinya awal pemberitaan menuliskan dalam framing mereka dengan kalimat, ‘Pembakaran Bendera Tauhid’, berganti menjadi ‘Pembakaran Bendera HTI’. Hal ini terus digulirkan di tengah-tengah umat, agar umat tidak bereaksi keras. Tapi alih-alih umat percaya akan apa yang mereka katakan, justru umat semakin yakin bahwa bendera itu bukan milik HTI, tapi milik mereka kaum muslimin. Hal ini bisa kita lihat dari aksi-aksi yang menyebar di belahan kota di Indonesia dihadiri umat dengan jumlah yang tidak sedikit. Ribuan orang rela turun ke jalan untuk menuntut keadilan akan kasus pembakaran ini dari penguasa.
Sungguh pernyataan bahwa bendera yang dibakar itu bukan bendera tauhid, tapi bendera HTI, adalah hal yang memaksakan sesuatu yang keliru. Kenapa? Karena Ar Rayah, si kain hitam gagah perkasa yang bertuliskan kalimat tauhid itu sejatinya adalah miliki kita semua kaum muslimin. Bukan milik HTI! Dia adalah panji Rasulullah, jadi dia adalah milikku, milikmu juga, milik kita semua kaum muslimin. Karena bendera itu adalah warisan Rasulullah SAW, nabi junjunan kita semua. Siapa saja yang mengakui Beliau sebagai nabi, sudah sepatutnya merasa memiliki bendera itu dan bangga ketika bisa memegang dan mengibarkannya.
Sungguh suatu kebanggaan bagi mereka yang mengetahui, dan memahami akan pentingnya kedudukan bendera/panji itu. Karena keberadaannya menunjukkan kegagahan dan keberanian para tentara kaum muslimin di masanya dalam menjaga dan mempertahankan keagungan dan kemulian Islam.
Seseorang yang dapat mengibarkanya, adalah orang-orang pilihan. Seperti saat Rasulullah SAW, ketika menjadi panglima pasukan di Khaibar, beliau bersabda, “Sungguh besok aku akan menyerahkan ar rayah ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai Allah dan Rasul-Nya.” Lalu Beliau menyerahkannya kepada Ali bin Abi Thalib,” (HR. Muttafaq’alaihi).
Para sahabat saat itu berharap bahwa orang yang disebutkan Rasulullah adalah mereka. Sehingga mereka tidak sabar untuk mengetahui siapa laki-laki yang disebutkan beliau. Sampai akhirnya mereka mengetahui siapakah laki-laki itu setelah beliau menyerahkan Ar Rayah kepada Ali bin Abi Thalib.
Keberaan ar Rayah, ketika Islam diterapkan dalam bingkai Khilafah, senagai institusi pelaksana syariah, ar Rayah dipegang oleh para komandan bagian-bagian pasukan. Didalam kitab Ajhizah Daulah Khilafah, dijelaskan bahwa Ar Rayah dibawa oleh para komandan-komandan pasukan ke medan peperangan. Karena itu Ar Rayah disebut sebagai Imduk Perang karena dibawa bersama komandan tempur di medan peperangan. Keberadaan Ar Rayah yang tetap berkibar menjadi pertanda kekuatan tempur komandan pertempuran. 
Namun, perlu dipahami ar Rayah tidak hanya dikibarkan saat terjadi peperangan saja. Ketika kondisi damai pun akan tetap berkibar ditup angin, dia akan diletakkan di instansi-instansi Negara. Adapan al Liwa dikibarkan di pusat kekuasaan atau kantor Khalifah sebagai pusat kepempimpinan dan sebagai panglima militer.
Oleh karena itu, suatu hal aneh, jika ada sebagian kaum muslimin yang alergi bahkan menghinakan panji Rasulullah SAW ini. Menyedihkan pula karena mereka tidak merasa memiliki panji itu. Padahal ia adalah panji milik Rasulullah SAW. Jadi ar Rayah itu bukan miliknya HTI, tapi milikku, milikmu, miliki kita kaum muslimin sebagai umat Rasulullah SAW. Wallahu’alam bish-showab.[]

Penulis adalah mentor Keputrian SMAT Krida Nusantara

Comment