Penulis: apt. Noviana Irawaty, S.Si | Aktivis Muslimah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Di bumi Afrika itu, ada negeri bernama Sudan. Sebuah negeri muslim yang kaya raya, namun kini terpuruk dan berdarah. Padahal Allah telah menganugerahinya sumber daya alam luar biasa: emas lebih dari 1.500 ton, cadangan minyak lebih dari tiga miliar barel, dan tanah subur yang membentang luas (radarindonesianews.com, 9/11/2025).
Tapi semua itu belum mampu membuat rakyatnya sejahtera. Kekayaan melimpah, namun kehidupan rakyat justru miskin, tertindas, dan terusir dari tanahnya sendiri.
Mengapa bisa begitu? Karena kekayaan itu tidak dikelola dengan hukum Allah. Ia justru diperebutkan dan dikuasai oleh segelintir elite dan para penjajah modern yang menancapkan kuku kepentingannya. Maka kekayaan yang seharusnya menjadi berkah, berubah menjadi sumber malapetaka.
Dulu Bersinar di Bawah kepemimpinan Islam global, Kini Terpuruk Karena Sekularisme
Sudan bukan negeri sembarangan. Dulu, ia merupakan bagian dari wilayah besar negara adidaya, negeri yang tunduk pada satu pemimpin, satu hukum, dan satu arah perjuangan.
Dari tanah ini lahir para ulama dan lembaga pendidikan Islam ternama seperti Universitas Islam Omdurman, tempat banyak mahasiswa muslim dunia menimba ilmu — termasuk Ustaz Abdul Somad yang menuntaskan program doktoralnya di sana pada tahun 2019.
Namun sejak runtuhnya Khilafah tahun 1924 M, Sudan kemudian dikuasai rezim kolonial (Inggris dan Mesir) hingga kemerdekaannya pada 1956.
Kolonialisme bukan hanya menguras sumber daya, tetapi juga memutuskan umat Islam dari sistem hidup Islam. Sejak saat itu, Sudan hidup dalam cengkeraman sistem sekuler: rakyat muslim, tapi aturan yang dipakai bukan hukum Allah.
Konflik yang Menelan Jiwa
Kini, Sudan kembali menjadi ladang darah. Dua kekuatan bersenjata — SAF (tentara nasional) dan RSF (pasukan paramiliter) — saling berebut kekuasaan. Padahal dulu mereka bersama-sama menjatuhkan diktator Omar Al-Bashir. Tapi begitu kursi kekuasaan kosong, masing-masing ingin berkuasa sendiri.
Sejak April 2023, perang pecah di ibu kota Khartoum dan menyebar ke Darfur. Pecahnya konflik ini sejak April 2023 telah mendorong tragedi: lebih dari 150.000 jiwa dilaporkan tewas dan sekitar 12 juta orang terpaksa mengungsi.
Banyak infrastruktur vital hancur, sementara rakyat menghadapi bencana kelaparan. Banyak perempuan dan anak-anak hidup di kamp pengungsian tanpa makanan dan obat. PBB bahkan menyebut situasi di Sudan sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia (kompas, 4/11/2025).
Laman Republika.co.id (30/10/2025) melaporkan, “RSF Menggila di Sudan, Bunuhi Warga di Masjid dan Rumah Sakit”. Mereka muslim namun membantai rakyat yang muslim pula tanpa hak, lalu di mana akidah dan akal sehat mereka?
Sementara itu, seorang pejabat Sudan menyebutkan bahwa jumlah korban tewas di El-Fashir telah bertambah hingga sekitar 2.200 orang setelah kota tersebut dikuasai oleh pasukan RSF (republika.co.id, 6/11/2025). Dan laporan lain, RSF melakukan pembantaian massal, sehingga sebanyak 177.000 warga sipil terkatung-katung di kota El-Fasher (hidayatullah.com, 31/10/2025).
Sementara negara-negara besar seperti Amerika datang menawarkan “mediasi”, padahal mereka punya kepentingan besar atas emas, minyak, dan jalur perdagangan Sudan.
Amerika dan sekutunya tidak pernah datang membawa damai, tapi membawa kepentingan. Melalui proyek seperti The Quad, mereka menanamkan pengaruh politik dan ekonomi. Negeri muslim dijadikan ajang perebutan kekayaan dan penjualan senjata.
Sudan Adalah Cermin Umat
Sudan bukan satu-satunya. Gaza menangis, Rohingya menderita, Uighur terpenjara, dan kini Sudan pun merintih. Semua negeri muslim seolah menanggung luka yang sama: terpecah, lemah, dan tak punya pelindung sejati. Padahal kita satu umat, satu akidah, satu kalimat syahadat.
Dulu kita satu tubuh, ketika Islam dalam satu pemerintahan global masih berdiri. Umat Islam diatur dengan hukum Allah, pemimpinnya satu, tujuannya satu: menyebarkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Tapi sejak sistem itu runtuh, umat tercerai-berai dalam ratusan negara, masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri.
Thariqah Rasulullah, Jalan untuk Bangkit
Sudan tidak butuh sekadar gencatan senjata, tidak cukup dengan bantuan kemanusiaan sesaat. Solusinya bukan menambal sistem yang rusak, tapi mengganti sistem itu dengan yang benar.
Rasulullah saw. telah mencontohkan thariqah (metode) perubahan yang hak, yakni membangun kesadaran umat melalui dakwah, membentuk jemaah dakwah yang menyeru kepada Islam kafah, lalu menegakkan pemerintahan Islam yang menerapkan seluruh syariat Allah.
Dengan sistem Islam kafah inilah kekayaan alam tidak akan jadi rebutan segelintir orang, tapi dikelola untuk kemaslahatan rakyat. Dengan syariat Islam, keadilan akan kembali, penjajah asing akan diusir, dan umat Islam akan kembali bersatu di bawah satu kepemimpinan yang melindungi seluruh kaum muslimin di dunia.
Sudan Menanti Kebangkitan Umat
Hari ini, darah yang mengalir di Khartoum, di Darfur, di Gaza — semuanya menanti satu hal: kebangkitan umat Islam. Bukan kebangkitan dengan senjata semata, tapi kebangkitan dengan iman, ilmu, dan kesadaran bahwa kita harus kembali kepada aturan Allah secara menyeluruh.
Jika 1,8 miliar muslim di dunia bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam, tak ada kekuatan adidaya yang bisa menandingi. Barat hanya kuat karena umat Islam lemah dan terpecah. Tapi jika kita kembali menempuh thariqah Rasulullah saw., menyatukan hati dan langkah, maka janji Allah akan terwujud.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kamu bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi .…” (QS An-Nur: 55).
Sudan hanyalah satu kisah dari penderitaan panjang umat Islam. Namun di balik air mata dan darah itu, ada panggilan yang menggugah: saatnya kembali kepada Islam kafah. Bukan sekadar agama di masjid, tapi sistem kehidupan yang menegakkan keadilan dan melindungi umat dari kezaliman.
Sudan menanti, Gaza menanti, seluruh dunia menanti. Dan kebangkitan itu akan lahir dari hati umat yang sadar, bersatu, dan berjalan di atas thariqah Rasulullah saw. untuk menegakkan kembali kemuliaan Islam di muka bumi. Wallahu a’lam bishshawab.[]














Comment