Susi Maryam Mulyasari, S. Pd.I: Guruku Sayang Guruku Malang

Berita667 Views
 Susi Maryam Mulyasari, S. Pd.I, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Diakui atau tidak, manusia yang paling berjasa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa adalah guru. Pahlawan tanpa tanda jasa disematkan kepada dirinya, besar jasanya namun tidak pernah ada pangkat jabatan yang diberikan kepadanya. Sosok guru adalah sosok yang sangat dibutuhkan oleh bangsa ini ditengah arus sekulerisme yang begitu dahsyat, ditambah di era digital sekarang penanaman nilai sangat dibutuhkan oleh siswa/siswi yang duduk dibangku sekolah.
Namun sistem sekuler telah mendegradasi peran vital guru hanya sekedar penyambung ilmu pengetahuan saja, tanpa dibarengi dengan penanaman nilai di benak para pelajar. Hasilnya bisa kita lihat bagaimana kewibawaan seorang guru bisa dilececehkan oleh anak didiknya, selain itu kita tidak pernah lupa terbunuhnya seorang guru oleh anak didiknya sendiri. Melihat kejadian ini tentu kita merasa miris.
Selain kewibaan guru sudah terdegradasi, kondisi ekonomi guru juga sangat memprihatinkan betapa tidak, beban tanggung jawab yang begitu besar tidak diimbangi dengan balas jasa yang diberikan oleh pemerintah kepada mereka. Tingkat kesejahteraan guru masih sangat dibawah ambang batas wajar terutama untuk guru/pengajar honorer. Nasib guru honorer sekolah tak sebanding dengan kebutuhan zaman sekarang. Mereka harus perpeluh dengan gilasan zaman dengan mengandalkan gaji setiap bulan sebesar Rp 200 ribu per bulan. Padahal, jasanya mengajar untuk mencerdaskan anak didik bangsa sudah berkisar 15 hingga 25 tahun. 
Pertanyaannya, siapa yang bertanggung jawab atas ini semua? 
Yang paling bertanggung jawab adalah pemerintah sebagai pemangku kebijakan, seharusnya pemerintah bisa memberikan sebuah aturan yang bisa mensejahterakan guru. Pengalokasian APBN untuk gaji guru seharusnya bisa dilakukan oleh pemerintah, namun nyatanya pemerintah sangat susah mengupayakan itu semua. Pengalokasian anggaran APBN lebih besar untuk dana birokarasi diantaranya diperuntukan kegiatan dinas anggota dewan keluar negeri dll. Di tambah dana sisa dari APBN harus dihabiskan walaupun masih ada sisa yang sebenarnya masih bisa dialokasikan untuk keperluan lain karena APBN kita di rancang berdasarkan sistem Balance sheet yang harus habis ditahun tersebut. 
Sistem sekuler yang diterapkan dinegeri kaum muslimin telah mampu merubah cara pandang tentang sebuah sistem pendidikan, sekulerisme telah mendistorsikan tujuan dari sistem pendiikan yang telah diselenggarakan hanya sebatas diorientasikan untuk keuntungan semata para pemilik modal, dalam hal ini pemerintah hanya sebagai pihak yang memfasilitasi terselenggaranya pendidikan tanpa mampu memberikan arahan serta bangunan pendidikan yang benar karena semuanya dikendalikan oleh para pemilik modal. 
Kalau kita bercermin sebagai studi komparasi, bagaimana sistem pendidikan yang diterapkan pada masa kekhilafahan Islam, yang terbukti mampu memberikan kontribusi bagi peradaban manusia yang tidak akan pernah dilupakan oleh sejarah. Banyak ilmuan muslim yang memberikan sumbangsih bagi kemaslahatan umat manusia melelui penemuan yang penomenalnya sebagai contoh misalnya Ibnu sina ahli kedokteran, al-khoarizmi ahli matematika, albiruni ahli astronomi, maryam astrulabi penemu astrolab sebagai pondasi awal diketemukanya GPS (kompas), sistem pendidikan Islam yang telah diterapkan pada masa kekhilafahan bukan hanya menghasilkan para ilmuan yang mempuni, tetapi tingkat kesejahteraan guru juga sangat diperhatikan, sosok guru sangat dikagumi kewibaannyanya karena fungsi guru bukan hanya transfer pengetahuan semata melainkan pihak yang bertanggung jawab terhadap penanaman nilai Islam kepada para pelajar. Sejarah mencatat pada masa kekhilafahan umar ibn khattab gaji guru kala itu mencapai 15 dinar setiap bulan. 
Dinar merupakan mata uang yang terbuat dari bahan logam mulia emas. Satu dinar setara dengan 4,25 gram emas, kalau 1 dinar setara dengan Rp 2.258.000,-. Artinya, pada masa khalifah Umar, gaji guru mencapai Rp 33.870.000,-. Namun sayangnya gaji guru tersebut sangat bertentangan dengan realita masyarakat sekarang.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengambil sistem pendidikan Islam, yang sudah terbukti mampu memberikan kesejahteraan guru serta masyrakat umum.[]

Penulis adalah seorang ibu rumah tangga, tinggal di Bandung

Comment