Tahun Baru Hijrah dan Kebangkitan Komunal

Berita1377 Views

 

Penulis: Dr. Imam Shamsi Ali, Lc, M.A, PhD| Direktur Jamaica Muslim Center, Presiden Nusantara Foundation New York

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Umat Islam di seluruh dunia kembali memperingati pergantian tahun dalam kalender Islam, dari 1446 H ke 1447 H. Secara umum, pergantian tahun adalah sesuatu yang lumrah dan alami. Pergerakan alam semesta terjadi secara teratur, membawa manusia kepada perubahan demi perubahan. Karena itu, perubahan adalah bagian tak terpisahkan dari hukum alam.

Namun yang menarik, penanggalan Islam dimulai bukan dari kelahiran Nabi, atau dari peristiwa Isra’ Mi’raj, melainkan dari peristiwa Hijrah—yakni perpindahan Rasulullah SAW dari kota kelahirannya, Makkah al-Mukarramah, ke kota yang kelak menjadi tempat beliau wafat, Madinah al-Munawwarah.

Pemilihan Hijrah sebagai awal penanggalan Islam tentu bukan tanpa makna. Justru, ia menyimpan pesan strategis dan mendalam dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW.

Dari Milad hingga Fathu Makkah

Kita tentu ingat bahwa kebangkitan dakwah Islam melalui tahapan yang bertingkat: dari Milad (kelahiran), Nubuwwah (kenabian), Isra’ Mi’raj, Hijrah, hingga Fathu Makkah (penaklukan Makkah). Masing-masing fase tersebut memiliki makna dan urgensinya dalam proses kebangkitan dakwah Rasulullah SAW.

Isra’ Mi’raj, misalnya, menjadi simbol kebangkitan spiritual individu, sedangkan Hijrah merupakan awal dari kebangkitan komunal. Dari sinilah perjuangan dakwah berpindah dari skala personal menjadi kolektif—dari dakwah sembunyi menjadi dakwah terbuka dan terstruktur dalam masyarakat.

Penanggalan Hijriyah dan Identitas Umat

Penetapan Hijrah sebagai awal penanggalan Islam juga menegaskan pentingnya identitas kolektif. Umat Islam perlu memiliki acuan dan ukuran sendiri, termasuk dalam hal waktu. Penanggalan Hijriyah menjadi simbol bahwa umat ini tidak boleh larut dan terwarnai oleh identitas orang lain, melainkan harus mandiri dan memiliki pijakan yang kuat dalam berbagai aspek kehidupan.

Identitas ini tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga mencakup seluruh dimensi kehidupan: akidah, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Dalam hal ekonomi, misalnya, Islam tidak menganut kapitalisme murni, juga bukan sosialisme. Ia mengambil jalan tengah yang adil dan berkeadilan, berorientasi pada kemaslahatan dan keseimbangan.

Pilar-Pilar Kebangkitan Komunal

Untuk membangun kebangkitan komunal, ada tujuh pilar penting yang saya rumuskan dari dua sumber utama dalam Al-Qur’an: Surah Ali Imran (ayat 102–110) dan Surah As-Shaff (ayat 1–14). Ketujuh pilar itu adalah:

1. Fondasi Ruhiyah
Dalam Surah Ali Imran disebut: “ittaqullaha haqqa tuqatih”, dan di Surah As-Shaff: “sabbaha lillahi…”. Keduanya menunjukkan pentingnya koneksi spiritual dan hubungan hati dengan Allah SWT.

2. Introspeksi Diri (Self-Criticism)
Firman Allah: “lima taquluna ma la taf’alun” (mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu lakukan?) adalah ajakan untuk muhasabah dan perbaikan diri secara terus-menerus.

3. Persatuan dalam Keragaman
“Wa’tashimuu bihablillahi jami’an” (Ali Imran), dan “ka’annahum bunyanun marshus” (As-Shaff) menunjukkan pentingnya soliditas dan kebersamaan dalam langkah-langkah umat.

4. Kesadaran Sosial (Amar Ma’ruf Nahi Munkar). Umat diibaratkan satu tubuh—penderitaan satu bagian adalah penderitaan seluruhnya.

5. Penguasaan Persepsi dan Media
Dalam Surah Ali Imran disebut kata “afwah” (mulut-mulut), yang menandakan pentingnya memenangkan narasi melalui penguasaan media informasi.

6. Wawasan Kehidupan Berorientasi Ukhrawi. “Yauma tabyadhdhu wujuuhun wa taswaddu wujuuhun…” menegaskan pentingnya bekerja di dunia dengan orientasi akhirat yang jelas.

7. Keterlibatan dalam Perjuangan
“Wa tujahiduna fi sabilillah…” hingga “Nahnu ansharullah”, menunjukkan bahwa umat harus aktif dalam perjuangan membela kebenaran. Jangan biarkan saudaramu berjuang sendirian.

Esensi Hijrah adalah Perubahan

Inti dari Hijrah adalah perubahan—bukan sekadar perpindahan tempat. Segala sesuatu di alam ini mengalami perubahan: langit dan bumi, siang dan malam, semua bergerak tanpa henti. Begitu pula manusia, harus berubah—secara sadar dan terencana.

Agar umat Islam dapat bertahan hidup (survive), berkembang (develop), maju (progress), dan menjadi kuat (powerful), maka perubahan menjadi keharusan.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ada tiga bentuk perubahan mendasar:

1. Perubahan Mindset (Cara Pandang)
Cara pandang terhadap agama akan menentukan cara menjalankan agama. Jika agama hanya dipandang sebagai ritual, maka pelaksanaannya akan kering dan formalistik. Namun jika dipandang sebagai petunjuk hidup, maka agama akan menjadi fondasi yang kokoh dalam setiap aspek kehidupan.

2. Perubahan Karakter
Dari karakter lemah, malas, dan pesimis menjadi pribadi yang tangguh, aktif, optimis, dan berorientasi kemenangan. Dalam konsep iman: selama Allah membersamai, tidak ada kekalahan yang hakiki.

3. Perubahan Lingkungan. Lingkungan menentukan keberlangsungan. Jika umat ini hanya menjadi objek perubahan, maka ia akan larut dan luntur. Umat harus menjadi pelaku perubahan, bukan korban dari perubahan.

Akhirnya, dari markas besar PBB di New York, saya menyampaikan:

“Selamat memasuki Tahun Baru Islam 1447 Hijriyah.”

Semoga tahun ini menjadi awal kebangkitan baru yang penuh berkah, semangat perubahan, dan penguatan identitas kolektif umat. InsyaAllah!

Manhattan City, 27 Juni 2025
(Intisari khutbah di United Nations, New York, siang ini)

Comment