Penulis: Siti Nurhalizah, M.Pd | Pendidik
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Tahun Baru Islam kembali menyapa. Namun bukan dalam gemerlap perayaan atau semarak festival, melainkan dalam senyap luka yang belum juga pulih. Gaza masih menjadi ladang darah.
Lebih dari 56.000 jiwa telah gugur, termasuk perempuan dan anak-anak, dalam 20 bulan konflik yang masih berlangsung. Bahkan dalam satu insiden tunggal, puluhan orang tewas saat menunggu bantuan makanan. Ini menunjukkan betapa gentingnya krisis kemanusiaan yang mereka alami. Bukan hanya Gaza. Krisis meluas ke ranah pangan dan kemiskinan.
Data World Bank terbaru mencatat bahwa tingkat kemiskinan ekstrem di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang merupakan mayoritas penduduk muslim dunia meningkat dari 8,5 % (2022) menjadi 9,4 % (2025) (blogs.worldbank.org).
Demikian pula secara global menurut catatan Islamic Relief bahwa dari 600 juta muslim menghadapi krisis pangan.
Lebih dari itu, keterpurukan moral di kalangan umat Muslim dunia kini semakin nyata, terutama di kalangan generasi muda.
Laporan UNICEF dan berbagai media juga mengungkap penyimpangan etika di lembaga pendidikan Islam, seperti kekerasan fisik dan pelecehan seksual terhadap santri di Bangladesh, Pakistan, dan Indonesia (UNICEF, 2023).
Data Arab Barometer (2022) mencatat tren menurunnya religiositas di kalangan pemuda Arab, mengindikasikan pergeseran menuju sekularisme. Kekerasan di lembaga pendidikan Islam turut memperburuk citra moral umat; laporan KPAI (2022) dan investigasi media menyoroti maraknya kekerasan fisik dan pelecehan seksual di sejumlah pesantren yang kerap dipandang sebagai “pendidikan kedisiplinan”.
Ironisnya, meskipun aktivitas keagamaan masih bergerilya, misalnya trend datang ke pengajian, ikut acara dzikir dan shalawat akbar, dan sebagainya, akan tetapi sebuah penelitian di Yogyakarta terhadap 306 Muslim milenial menunjukkan bahwa banyak dari mereka belum benar-benar memahami ajaran Islam secara mendalam.
Pemahaman mereka masih dangkal baik dalam hal hubungan sosial maupun cara pandang hidup berdasarkan Islam, meskipun secara pribadi mereka merasa sudah religius (Zamhir & Suwarno, 2021).
Semua fakta ini menandakan bahwa di balik simbol-simbol keagamaan, umat Muslim Indonesia menghadapi tantangan serius dalam menjaga esensi moral dan nilai-nilai Islam sejati.
Ketika umat terbaik di dunia terus menerus mengalami konflik, kelaparan, dan kemiskinan, degradasi moral, timbul pertanyaan, apakah kita masih layak disebut “khayra ummah”?
Allah memperingatkan dalam QS Thaha: 124: “Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, baginya kehidupan yang sempit…”
Kehidupan umat yang “sempit” hari ini bukan karena takdir, tetapi karena menyimpang dari Islam sebagai sistem hidup menyeluruh (kaffah). Kita mendakwahkan pribadi yang soleh, namun menutup mata terhadap ketimpangan sistemik, hukum yang tidak adil, pendidikan sekuler yang jauh dari nilai-nilai agama, dan kezaliman di berbagai aspek lainnya.
Kezaliman demi kezaliman baik yang kita rasakan secara lokal maupun global tidak lepas dari diterapkannya sistem kapitalisme global dan runtuhnya institusi islam global.
Palestina bukan sekadar tanah konflik, tapi simbol benteng yang tumbang saat perisai umat Islam, Khilafah Utsmaniyah diruntuhkan pada 1924. Sejak itu, dunia Islam tak lagi punya satu suara, tak lagi punya tangan yang menggenggam pedang untuk membela kehormatannya.
Sykes-Picot bukan sekadar peta perjanjian, tapi pisau yang membelah tubuh umat. Dari luka itulah Israel dilahirkan, pada tahun 1948, di pangkuan kolonialisme Barat.
Hari ini, Israel tidak berdiri sendiri. Ia hidup dari napas Amerika. Dalam satu dekade terakhir, miliaran dolar bantuan militer dikucurkan—bukan untuk pertahanan, tapi untuk menghancurkan. Menurut Congressional Research Service, lebih dari US$158 miliar telah digelontorkan ke Israel sejak 1948. Tahun lalu saja, US$3,8 miliar digelontorkan untuk bom, rudal, dan sistem tempur yang merobek-robek Gaza.
Namun yang lebih tragis dari peluru-peluru itu adalah diamnya dunia Islam. Negeri-negeri Muslim seperti dipasung. Bukan karena tak punya senjata, tapi karena kunci senjatanya digenggam oleh Washington.
Mereka hidup dalam struktur negara bangsa yang disusun oleh arsitek kapitalisme untuk memecah belah umat, menjauhkan mereka dari satu kepemimpinan Islam. Mereka disibukkan dengan utang luar negeri, subsidi BBM, KTT regional, dan ‘stabilitas politik’, agar umat tetap sibuk di ‘kandang’nya masing-masing.
Inilah wajah kapitalisme global yang menjadikan penjajahan sebagai proyek jangka panjang, derita sebagai statistik, dan “perdamaian” sebagai dalih untuk menertibkan perlawanan.
Dalam sistem ini, rakyat Palestina akan terus mengalirkan darahnya, dan dunia hanya akan menawarkan konferensi dan pernyataan kosong.
Palestina tidak menanti belas kasihan dunia. Ia menanti umat yang sadar bahwa selama dunia Islam tetap terpecah, selama para penguasanya lebih setia pada PBB daripada pada Allah dan Rasul-Nya, maka Al-Aqsha akan tetap terjajah.
Solusinya bukan “dua negara”, bukan “gencatan senjata”, tapi kembalinya satu kepemimpinan Islam yang menyatukan umat secara global, mencabut batas-batas artifisial, dan menjadikan pembebasan sebagai kewajiban syar’i, bukan sekadar wacana diplomatik.
Hanya jika Islam menjadi pijakan dalam seluruh aspek, baik aspek politik, ekonomi, sosial, dan hukum, maka kemuliaan dapat direbut kembali. Kepemimpinan islam global menjadi junnah umat bukan sekedar nostalgia, melainkan institusi rasional yang pernah mewujudkan hukum Allah secara nyata. Rasulullah ﷺ bersabda: “Imam adalah perisai; umat berlindung di belakangnya.” (HR Bukhari & Muslim).
Menegakkan Kepemimpinan islam global di bawah bendera tauhid berarti menjadikan hukum syariah sebagai payung kehidupan—mencegah penjajahan, menjamin hak rakyat, menjaga distribusi pangan, dan menyatukan umat.
Ia adalah jalan konkret untuk menjawab penderitaan Gaza, krisis pangan, dan kemiskinan yang melanda umat hari ini.
Namun kesadaran ini hanya akan tumbuh dengan dakwah yang ikhlas dan istiqamah.
Dibutuhkan jamaah dakwah yang bukan sekadar punya mimpi, tetapi aksi nyata, yang menyeru bukan atas nama kekuasaan, melainkan untuk menegakkan kalimat Allah dan membebaskan umat dari belenggu jahiliah modern.
Tahun Hijriyah yang baru ini adalah panggilan untuk hijrah sejati: berpindah arah dari sistem buatan manusia yang timpang, menuju sistem Allah yang penuh keadilan.
Saatnya menyatukan langkah, menyalakan kembali semangat membangun peradaban berdasarkan sistem politik ilahiyah, dan menebar rahmat Islam ke seluruh semesta.
Karena hanya dengan Islam kaffah kita layak disebut umat terbaik. Wallahu a’lam bishawab.[]














Comment