Taujihat KUII VIII Tegaskan Solidaritas Palestina, Zaitun Rasmin: Ini Bukti Konkret Bukan Sekadar Simpati

Nasional8 Views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA- — Poin solidaritas kemanusiaan untuk Palestina yang termaktub dalam Taujihat Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII mendapat apresiasi khusus dari Ketua MUI Bidang Ukhuwah Islamiyah, Ustadz Dr. Zaitun Rasmin, Lc., M.A.

Poin tersebut masuk dalam taujihat resmi setelah Ustadz Zaitun menyampaikannya secara langsung dalam sidang pleno pengesahan hasil-hasil kongres.

Dalam forum tersebut, ia mengusulkan agar dukungan terhadap perjuangan dan kemerdekaan Palestina ditegaskan sebagai salah satu arah moral dan strategis KUII VIII.

Ustadz Zaitun, yang juga menjabat sebagai Pemimpin Umum Wahdah Islamiyah, menyampaikan rasa syukur atas diterimanya usulan tersebut dan dimasukkannya isu Palestina ke dalam taujihat resmi kongres.

“Alhamdulillah, ini adalah bukti bahwa KUII VIII tidak hanya berhenti pada retorika solidaritas, tetapi benar-benar menerjemahkannya menjadi arah dan komitmen yang mengikat bagi seluruh elemen umat Islam Indonesia,” ujar Ustadz Zaitun dalam keterangannya.

Menurutnya, dimasukkannya isu Palestina melalui forum pleno menunjukkan bahwa persoalan tersebut mendapat perhatian serius dari peserta kongres dan menjadi bagian dari sikap bersama umat Islam Indonesia.

Sejak rangkaian awal KUII VIII, Ustadz Zaitun telah mendorong agar Palestina tidak terlewat dari rekomendasi dan arah perjuangan kongres. Usulan itu kemudian kembali ditegaskannya dalam sidang pleno hingga akhirnya diterima dan dimasukkan dalam taujihat resmi.

“Palestina bukan hanya persoalan umat Islam, tetapi persoalan kemanusiaan, keadilan, dan penolakan terhadap penjajahan. KUII VIII memiliki posisi strategis untuk menyatukan sikap ulama, pimpinan ormas Islam, tokoh bangsa, akademisi, dan seluruh elemen umat dalam memperkuat dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina,” tegasnya.

Dengan disahkannya poin tersebut, Ustadz Zaitun menilai perjuangan advokasi Palestina dalam forum KUII VIII telah membuahkan hasil yang konkret dan terukur.

Beasiswa Rp22 Miliar sebagai Wujud Nyata Solidaritas

Selain memasukkan dukungan terhadap Palestina dalam taujihat, KUII VIII juga menjadi momentum penguatan langkah nyata melalui program beasiswa senilai Rp22 miliar bagi mahasiswa Palestina di Indonesia.

Program tersebut merupakan hasil kerja sama MUI dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI yang ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Ketua Umum MUI K.H. Anwar Iskandar dan Ketua BAZNAS RI Sodik Mudjahid pada pembukaan KUII VIII, Jumat, 24 Juli 2026.

Ustadz Zaitun mengapresiasi program itu dan mendorong agar pelaksanaannya terus dikawal secara berkelanjutan.

“Taujihat ini mengajarkan kita bahwa ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah insaniyah harus berbuah amal. Beasiswa ini bukan sekadar bantuan, tetapi investasi jangka panjang. Kita sedang menyiapkan generasi Palestina masa depan yang tumbuh bersama nilai-nilai perdamaian dan ukhuwah dari Indonesia,” ujarnya.

Ia menilai program beasiswa tersebut menjadi contoh bagaimana sebuah taujihat dan rekomendasi kongres dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata, bukan hanya menjadi dokumen atau pernyataan sikap.

Harapan agar Taujihat Tidak Berhenti sebagai Dokumen

Sebagai salah satu pimpinan ormas Islam peserta KUII VIII, Ustadz Zaitun berharap taujihat yang telah disahkan tidak berhenti sebagai hasil administratif kongres.

Menurutnya, seluruh ormas Islam di bawah naungan MUI perlu menjadikan taujihat tersebut sebagai pedoman moral dan arah gerakan dalam menjalankan program dakwah, pendidikan, kemanusiaan, dan kebangsaan.

“Taujihat ini harus menjadi ruh gerak seluruh ormas Islam, bukan hanya di forum kongres, tetapi juga di lapangan dakwah kita masing-masing. Terkhusus soal Palestina, ini harus terus dikawal, baik dari sisi diplomasi, kemanusiaan, maupun pendidikan,” pungkasnya.

Dengan masuknya poin Palestina atas usulan Ustadz Zaitun dalam sidang pleno, KUII VIII menegaskan posisinya sebagai forum yang tidak hanya merumuskan arah strategis bagi umat dan bangsa, tetapi juga menyuarakan tanggung jawab moral umat Islam Indonesia terhadap persoalan kemanusiaan global dan perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.[]

Comment