Tekanan Sistem Kapitalisme Lahirkan Mahasiswa Duck Syndrome

Opini408 Views

 

Penulis: Najjah Athiya | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Belakangan ini, fenomena duck syndrome marak dibicarakan di kalangan mahasiswa. Istilah ini menggambarkan kondisi seseorang yang tampak tenang di luar, tetapi sebenarnya menyimpan tekanan besar di dalam dirinya.

Analogi ini diibaratkan dengan seekor bebek yang tampak tenang saat berenang di permukaan air, padahal di bawahnya ia sibuk mengayuh kakinya agar tetap bisa mengapung.

Dikutip dari Kompas.com (22/08/2025), Anisa Yuliandri, psikolog dari Unit Pengembangan Karir dan Kemahasiswaan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa maraknya mahasiswa yang mengalami duck syndrome dipicu oleh tingginya ekspektasi terhadap diri sendiri maupun lingkungan.

Banyak mahasiswa merasa harus terus mempertahankan nilai IPK tinggi, aktif berorganisasi, mengikuti magang, berkompetisi di berbagai ajang, dan tetap eksis di media sosial.

Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya menjalani semua itu hanya karena takut tertinggal dari teman sebaya. Mereka berusaha menyesuaikan diri dengan tren terbaru, takut dicap pemalas, tidak kompetitif, atau dianggap tidak punya masa depan.

Menurut Anisa, tekanan eksternal seperti ini berpotensi mengganggu keseimbangan psikologis mahasiswa. Ditambah lagi, adanya budaya “selalu terlihat baik-baik saja” membuat banyak mahasiswa memilih menyembunyikan emosi mereka, memendam kelelahan, dan berusaha tampak tenang.

Fenomena ini berbahaya karena tidak kasat mata. Penderita duck syndrome sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami tekanan psikologis. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi masalah serius, seperti kecemasan kronis, insomnia, kelelahan ekstrem, depresi, hingga risiko bunuh diri.

Tuntutan perfeksionisme dan peran media sosial memperparah keadaan, sehingga mahasiswa semakin sulit keluar dari lingkaran tekanan.

Situasi tersebut tidak bisa dilepaskan dari sistem kapitalisme yang berlaku saat ini. Generasi muda ditekan untuk bekerja keras demi bertahan, sementara gaya hidup kapitalis menjerat mereka pada standar-standar semu yang justru menimbulkan stres.

Lemahnya iman dan minimnya pemahaman terhadap hakikat hidup menjadikan mahasiswa rentan mengalami krisis mental dan kehilangan arah.

Selama sistem sekuler kapitalisme terus diadopsi, problem multidimensi semacam ini sulit terselesaikan. Satu-satunya solusi hakiki hanyalah sistem Islam yang menyeluruh (kaffah).

Dalam sistem Islam, generasi dibina menjadi tangguh melalui penanaman iman yang kokoh dan tsaqafah Islamiyah. Islam membolehkan umatnya mengekspresikan rasa lelah, tetapi tetap dengan cara yang benar sesuai koridor syariat. Pendidikan Islam menumbuhkan keseimbangan antara akal (aqliyah) dan jiwa (nafsiyah), sehingga melahirkan generasi berkepribadian Islam.

Sejarah mencatat keberhasilan Islam dalam melahirkan sosok-sosok tangguh, seperti Muhammad al-Fatih, Salahuddin al-Ayyubi, dan generasi hebat lainnya. Mereka adalah bukti nyata bagaimana Islam berhasil membentuk generasi kuat, yang tidak mungkin lahir dari sistem sekuler kapitalisme.

Karena itu, hanya Islamlah yang mampu melahirkan generasi tangguh dan berkepribadian luhur. Wallahu a‘lam bi ash-shawab.[]

Comment