Oleh : Yulia Rizki, Freelance Writer
__________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Presiden Joko Widodo (Jokowi), Menko Maritim dan Investasi Luhut B. Pandjaitan hingga Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kompak mengatakan perekonomian tahun depan makin gelap.
Survei terbaru Reuters menyebutkan ‘penderitaan’ yang lebih besar bisa saja terjadi. Sebabnya, bank sentral Amerika Serikat (AS) semakin agresif menaikkan suku bunga.
Dalam survei seperti dikutip CNBC Indonesia (5/10/2022) tersebut dikatakan bahwa The Fed akan semakin agresif menaikkan suku bunga, dan ‘penderitaan’ yang lebih besar akan datang.
“The Fed juga menegaskan komitmen mereka untuk mengendalikan inflasi apa pun yang diperlukan, meski akan menyebabkan ‘penderitaan’ di perekonomian,” kata Justin Weidnerm ekonom di Deutsche Bank yang memprediksi suku bunga akan mencapai 4,75% – 5%, sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (28/9/2022).
Para ahli juga menyatakan resesi terjadi ketika ekonomi suatu negara mengalami peningkatan dalam jumlah pengangguran, penurunan ritel, produk domestik bruto (PDB) negatif.
Selain itu, terdapat kontraksi pendapatan dan manufaktur untuk jangka waktu yang lama maupun pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut seperti dikutip TribunnewsSultra.com, Rabu (5/10/2022).
Sebuah studi yang diterbitkan oleh Institut Ekonomi Jerman (IW) mengungkapkan bahwa krisis akibat pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina telah meningkatkan risiko resesi di Uni Eropa.
Studi tersebut mengungkapkan bahwa pendekatan nasional untuk krisis besar dapat dimengerti. Terkait perang Rusia-Ukraina saat ini berisiko menimbulkan perbedaan progresif dalam pembangunan ekonomi.
“Krisis yang terjadi saat ini memperkuat ketidakseimbangan ekonomi yang disebabkan oleh krisis akan membawa Uni Eropa di ambang resesi,” tulis studi tersebut seperti dilansir Antara, Jumat (12/8/2022).
“Tahun ini sulit dan tahun depan sekali lagi saya sampaikan akan gelap, dan kita tidak tahu badai besarnya seperti apa, sekuat apa tidak bisa dikalkulasi,” jelas Presiden saat memberikan arahan di Jakarta Convention Center, Kamis (29/9/2022).
Penyataan ini mengejutan rakyat di tengah kenaikan BBM yang dampaknya begitu terasa.
Kerap Kali sistem kapitalis yang diemban oleh ideologi Amerika Serikat ini menyakiti, menghiyanati dan merampas apa yang seharusnya menjadi milik rakyat.
Hal ini selalu terjadi dan terbukti bahwa ini bukan solusi memecahkan permasalahan. Rakyat butuh solusi agar terbebas dari ancaman krisis ekonomi dengan aturan yang shahih dan mampu adil dalam mengelola negara yaitu dengan kembali kepada aturan sang Pencipta dengan menerapkan aturan Allah Swt secara adil dan mampu menjelaskan kepemilikan yaitu kepemilikan individu, kepemilikan negara dan kepemilikan umum.
Selain itu dalam transaksi, islam menggunakan mata uang berbasis dinar dirham dan mengharamkan riba.
Sistem yang ditawarkan oleh islam berbanding terbalik dengan sistem kapitalis. Riba menyengsarakan rakyat sedangkan kapitalis menghalalkan riba yang mana hutang negara semakin membengkak akibat bunganya yang terus bertambah. Alat tukar 1 dolar sekitar 15000 Rupiah, sedangkah dirham dan dinar itu selalu stabil.
Sistem islam telah berhasil menanggulangi krisis ekonomi. Ketika pemerintahan Umar bin Khattab terjadi Wabash dan kemarau namun bisa terlewati tanpa mengoyahakan perekonomian.
Kini kita harus sadar dan buka mata bahwa kapitalisme sangat merusak tatanan ekonomi dan tidak mampu menemukan titik jalan keluar terhadap persoalan ekonomi dunia. Walahu a’lam bisshawab.[]









Comment