Penulis : Fani Ratu Rahmani | Aktivis Dakwah dan Pendidik
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Pada 29 Oktober 2023, diselenggarakan sebuah acara pemuda se-Indonesia dengan tema “Islam and Empowering Girls, Jadikan Hidup Sejahtera Mulia”. Acara yang diselenggarakan di beberapa titik daerah di Indonesia ini telah sukses menggaet kaum muslimah baik pelajar SMA maupun Mahasiswi se-Indonesia.
Acara yang dipelopori berbagai organisasi pergerakan muslimah ini dilatar belakangi dari keresahan dan kekhawatiran terhadap kondisi pemuda hari ini. Gambaran kondisi muslimah muda saat ini sangat jauh dari kodrat dan fitrahnya sebagai muslimah.
Ambil contoh saja, muslimah sekarang berada dalam kondisi ketidaksejahteraan. Ini mengharuskan mereka ‘survive’ dengan bekerja. Muslimah harus berdaya secara ekonomi. Kita bisa saksikan banyak perempuan yang menjadi tenaga kerja baik dalam maupun luar negeri. Bahkan di usia mereka yang masih muda harus mengkompromikan antara pendidikan dan pekerjaan agar tetap bisa berjalan keduanya. Ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup, karna biaya hidup yang mahal dan kesempitan hidup yang mencekik masyarakat.
Kemudian, kita juga tidak menutup mata atas jeratan ide-ide barat terhadap muslimah muda. Arus ideologi Barat yang berasaskan sekularisme atau pemisahan agama dari kehidupan sukses meracuni pikiran para aset umat.
Feminisme dan kesetaraan gender, childfree, liberalis, hedonisme ala barat yang menjunjung gaya hidup terpenuhinya kepuasan 3F (food, fun, and afashion), hingga disibukkan dengan obsesi materi. Ide-ide ini telah merangsek ke dalam pemikiran muslimah muda sehingga menjadikan para muslimah rusak dan juga merusak moralitas.
Dari uraian di atas, kita bisa simpulkan bahwa kondisi muslimah muda tengah dijajah secara pemikiran dan ekonomi. Penjajahan ini bersifat sistemis karna dilakukan oleh barat melalui penerapan kapitalisme sekuler liberal. Sistem yang dibidani oleh musuh-musuh Islam ini telah membajak kontribusi muslimah muda yang diharapkan dapat selaras dengan kodrat dan fitrahnya sebagai perempuan. Namun, kondisinya jauh panggang dari api.
Ada sebuah analogi bahwa bila ingin menghancurkan kondisi suatu bangsa, maka rusaklah kaum perempuannya. Lihatlah, ketika musuh-musuh Islam sangat mengilhami analogi ini, kita bisa lihat bagaimana dampaknya di masyarakat islam.
Perempuan yang jauh dari kodrat dan fitrahnya gagal mencetak generasi yang baik dan berkualitas. Generasi muda justru rusak karna terpapar oleh sistem yang sama, dan tidak dibentengi oleh punggawa-punggawa perempuan yang berperan sebagai madrasatul ula’ (sekolah pertama). Miris sekali, kondisi umat saat ini. Apakah Islam mampu hadir membawa solusi ?
Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, telah diturunkan oleh Allah dengan penuh kesempurnaan. Islam memiliki pandangan khas terhadap berbagai hal termasuk aturan-aturan yang memuliakan manusia, termasuk perempuan. Solusi islam terhadap perempuan bersifat integral dan komprehensif.
Di dalam Islam, perempuan adalah kemuliaan yang wajib dijaga. Apalagi muslimah yang notabene masih terkategori pemuda. Muslimah muda memiliki potensi besar untuk dibina agar memahami fitrah dan posisi strategisnya di tengah umat.
Perannya dinanti untuk menjadi aktor perubahan ke arah Islam, madrasah terbaik, serta menjadi Ummu Ajyal (Ibu generasi). Tentu, agar perempuan maksimal dalam perannya dibutuhkan adanya sebuah sistem universal Islam yang hadir di tengah perempuan dalam lingkup penerapan Islam secara kaffah hingga level negara.
Ketika Islam diterapkan dalam institusi negara, yang bertanggung jawab mengurusi urusan rakyat, termasuk pemenuhan kebutuhan hidup mereka, hingga mencapai derajat sejahtera adalah kholifah. Para khalifah mengamalkan hadis Nabi saw., “Imam (kepala negara) itu laksana penggembala dan dia bertanggung jawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR Bukhari)
Contoh saja di masa Umar bin Khathab. Umar bin Khaththab ra. adalah khalifah yang senantiasa turun ke lapangan. Beliau melihat secara langsung kondisi rakyat, apakah mereka hidup layak atau tidak. Beliau memastikan kebutuhan hidup rakyat orang per orang, laki-laki maupun perempuan, telah terpenuhi secara layak.
Dalam Islam, negara pun memastikan para wali yang mampu untuk menjalankan kewajiban menafkahi kaum perempuan. Namun, jika walinya tidak ada atau tidak memiliki kemampuan, perempuan mendapat nafkah dari negara.
Untuk itu, peran politik hakiki muslimah muda haruslah berjalan sesuai syariat. Memastikan berjalannya peran negara dalam mengurusi kemaslahatan rakyat dengan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar. Menyadarkan umat bahwa hanya sistem politik Islam yang mampu mewujudkan peran politik hakiki pemuda.
Mengapa? Sistem politik dan pendidikan Islam akan mencerdaskan pemuda terkait Islam kaffah sebagai pedoman dalam melakukan peran politiknya. Ini tentu semakin memancarkan ruh perubahan hakiki yang akan menyelamatkan Umat.
Muslimah muda jangan sampai menyerukan kebangkitan semu ala sistem kapitalis-sekuler yang mengusung perubahan demokratis. Kembalilah pada arus perubahan hakiki.
Walhasil, di sinilah kita akan menyaksikan terbitnya cahaya kebangkitan muslimah muda. Kebangkitan yang muncul dari kesadaran politis menuju kondisi yang diberkahi oleh Allah ta’ala.
Sudah saatnya kita sudahi episode buruk umat dalam naungan sekuler ini, dan berpindah pada posisi rahmat yakni dengan diterapkannya syariat di muka bumi ini. Wallahu a’lam bish shawab.[]









Comment