Terbukti Hambat Bantuan Kemanusiaan, Nasionalisme Perlu Diboikot

Opini983 Views

 

 

Penulis: Fitriani, S.Hi | Staff Pengajar Ma’had Alizzah Deli Serdang

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Aksi Boikot Produk-produk Zionis masih terus berlangsung hingga kini. Masyarakat masih merasakan duka yang sangat dalam karena kebiadaban prilaku zionis membombardir rakyat Palestina. Puluhan ribu menjadi korban – sebagian besar adalah anak-anak, balita dan wanita.

Sungguh sangat menyakitkan dan menyedihkan kondisi rakyat Palestina kini. Maka sebagai bentuk empati kepada saudara-saudara muslim Palestina, masyarakat dunia dan negeri ini ramai-ramai membpikot dan tidak lagi menggunakan produk-produk yahudi tersebut. Disinyalir hasil keuntungan produk-produk tersebut digunakan untuk membantu pembiayaan Zionis membantai rakyat Palestina.

Seperti dilansir databoks.katadata.co.id (7/11/2022), selama periode 7 Oktober-6 November 2023, lebih dari 10.000 warga Palestina meninggal, terbanyak berada di Jalur Gaza yakni 10.022 orang, kemudian korban jiwa di Tepi Barat 147 orang.

Bukan hanya itu, serangan brutal zionis ke Palestina ini seperri ditulis republika.co.id (11/10/2023), sudah dipastikan ada upaya untuk genosida rakyat Palestina. Seperti diungkapkan oleh Riyad Mansour, utusan Palestina di PBB –  ia menyebut dan menggambarkan pengeboman dan janji Israel memberlakukan pengepungan penuh di Jalur Gaza “tidak kurang dari genosida.”

Sungguh penjajahan zionis terhadap Palestina yang masih terus terjadi dan masih berlarut-berlarut sejak 1948 lalu adalah karena tidak adanya kekuatan besar umat Islam yang mampu mengusir penjajah zionis saat ini.

Masalah utamanya adalah karena negeri-negeri kaum muslim dibatasi oleh sekat nasionalisme yang sudah berurat dan berakar di negeri muslim. Nasionalisme yang membatasi sebuah  teritorial itulah yang menjadi penyebab kaum muslim tidak bisa membantu saudaranya yang saat ini dibantai di Palestina dan lain lain.

Ditambah lagi para penguasa negeri-negeri muslim begitu asik menikmati kekuasaan sehingga lupa denam lewajibam mereka untuk melawan ketidak adilan dunia. Nasionalisme telah membelenggu para penguasa dan melempem di hadapan zionis penjajah.

Mirisnya,  saat ini penguasa-penguasa Arab telah menormalisasi hubungan dengan Zionis yahudi. Dengan traktaat itu mereka terikat dan tidak bisa mengirimkan bala tentara militer mereka dan tidak pula mampu melakukan embargo terhadap zionis tersebut.

Benarlah apa yang diungkapkan oleh Rasulullah SAW: Demi Allah bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi aku khawatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur. (HR.Bukhari Muslim)

Sudah seharusnya umat memahami dan menyadari penyebab mendasar diam dan ketidak mampuan penguasa muslim hari ini. Problem utamanya adalah karena ide nasionalisme yang menjadi penghambat sehingga para penguasa itu tidak mampu bergerak untuk mengirimkan pasukan militernya.

Ide nasionalisme juga menjadikan penguasa-penguasa muslim bersikap individualis dan seakan menjadi tidak peduli dengan saudara seakidah yang dibantai habis-habisan oleh zionis. Umat harus berani menyerukan untuk memboikot ide-ide yang membelenggu dalam mewujudkan kemerdekaan Palestina dan mewujudkan persatuan umat. Apalagi setelah nampak bagaimana pengaruh dari boikot produk hari ini.

Maka seruan berikutnya adalah boikot ide nasionalisme yang terbukti melemahkan kekuatan umat saat ini. Umat Islam wajib bersatu dalam naungan Islam kaffah yang akan menyelamatkan umat Islam yang teraniaya di seluruh penjuru dunia.

Dalam Islam juga telah dijelaskan bahwa sesama kaum muslim adalah bersaudara maka menjadi kewajiban pula untuk melindungi dan tidak membiarkan saudaranya dizalimi. Rasulullah SAW bersabda: Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menelantarkannya (HR. Muslim). Wallahu`alam bisshawab.[]

Comment