Terjerat Kelaparan dan Penjajahan, Saatnya Kirim Tentara ke Palestina 

Opini894 Views

 

Penulis: Novita Ratnasari, S.Ak. | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sebagaimana dilansir Middle East Eye pada 30 Juli 2025, lebih dari 60.000 warga Palestina telah gugur syahid sejak pecahnya Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret nyata genosida yang berlangsung tanpa henti.

Israel adalah entitas penjajah sekaligus penjahat perang yang tanpa malu menghalalkan segala cara demi kemenangan. Mereka menggiring opini publik, mengklaim diri sebagai korban, lalu menggempur warga sipil dengan dalih “kemungkinan markas Hamas”—padahal faktanya hanyalah retorika.

Tak hanya itu, Israel juga berulang kali melanggar gencatan senjata, memblokade bantuan kemanusiaan, hingga menutup akses pangan dan air bersih, yang menyebabkan kelaparan massal hingga hari ini.

Sebagaimana diberitakan Middle East Eye pada 29 Juli 2025, laporan Integrated Food Security Phase Classification (IPC) mengungkap bahwa terjadi lonjakan signifikan kasus malnutrisi akut di Gaza pada paruh pertama bulan Juli. Tercatat lebih dari 20.000 anak telah dirawat akibat malnutrisi akut sejak April hingga pertengahan Juli 2025.

Sayangnya, kejahatan semacam ini hanya ditanggapi dengan kecaman internasional tanpa konsekuensi hukum yang tegas. Ini menunjukkan betapa lemahnya sistem hukum global saat berhadapan dengan negara sekutu Barat. Padahal, jumlah penduduk Israel hanya sekitar 9,7 juta jiwa—entitas kecil yang dengan leluasa mempermainkan hukum internasional.

Jelas, persoalan ini bukan sekadar konflik kemanusiaan, melainkan persoalan sistemik yang membutuhkan solusi sistemis pula.

Pertama, penting membangun kesadaran utuh di tengah masyarakat muslim dan internasional: siapa pelaku dan siapa korban. Menyamakan keduanya adalah bentuk pengkhianatan terhadap kebenaran.

Kedua, kita harus menyadari bahwa Palestina sedang dijajah. Maka, solusinya bukan hanya mengirim makanan, tetapi mendukung perjuangan mereka dengan logistik yang dibutuhkan, termasuk persenjataan.

Sebagaimana diberitakan Tempo.co pada 4 Januari 2025, Amerika Serikat bahkan secara resmi menyetujui penjualan senjata senilai USD 8 miliar (sekitar Rp126 triliun) kepada Israel untuk memperkuat serangan terhadap Palestina.

Ketiga, penjajahan yang terus berlangsung menunjukkan bahwa negeri-negeri Muslim saat ini lebih sibuk mengurus masalah domestik ketimbang mengambil sikap global. Ini adalah warisan dari sekat-sekat nasionalisme yang tumbuh pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyah.

Keempat, sudah saatnya negeri-negeri Muslim menumbuhkan kembali semangat persatuan. Bila umat Islam bersatu, kekuatan kita jauh melampaui kekuatan militer Israel yang kecil itu.

Kelima, solusi nyata adalah mengirimkan bantuan militer sebagai langkah awal mengakhiri penjajahan. Ini sejalan dengan amanat konstitusi Indonesia, sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945: “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.” Maka, apa lagi alasan kita untuk terus menunda Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Wahai Nabi (Muhammad), kobarkanlah semangat orang-orang mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh); dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir karena mereka (orang-orang kafir itu) adalah kaum yang tidak memahami.” (TQS. Al-Anfal: 65).

Kita tidak sedang bicara soal pilihan politik, tetapi soal nurani kemanusiaan dan harga diri umat. Diam adalah pengkhianatan, dan menunda tindakan adalah pembiaran terhadap genosida.[]

 

Referensi: Middle East Eye, 30 Juli 2025, Middle East Eye, 29 Juli 2025, Tempo.co, 4 Januari 2025

Comment