Tingginya Beban Hidup Dapat Mematikan Fitrah Keibuan

Opini69 Views

 

Penulis: Heidy Sofiyantri | Ibu Rumah Tangga, Pengemban Dakwah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Sungguh miris, insiden tragis di Desa Membalong, Kabupaten Belitung, di mana seorang ibu rumah tangga berusia 38 tahun diduga membunuh dan membuang bayi yang lahir secara normal di kamar mandi.

Peristiwa itu terjadi pada Kamis, 18 Januari 2024, sekitar pukul 21.00 WIB. Motif dari tindakan mengerikan ini diduga terkait dengan faktor ekonomi, dimana ibu tiga anak tersebut merasa terdesak secara finansial. (bangkapos,com).

Sebagaimana kita tahu bahwa anak adalah amanah dari Allah Swt yang harus dijaga kedua orangtuanya, dan ibu adalah sosok yang paling dekat dengan anak serta memiliki sifat lembut sebagai sumber kasih sayang. Tapi faktanya saat ini banyak terjadi kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu kepada anaknya. Kemanakah hilangnya kelembutan yang seharusnya dimiliki ibu ?

Tentunya ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap psikis seorang ibu. Lemahnya ketahanan iman seorang ibu disebabkan oleh sekulerisme, agama tidak dijadikan sebagai sandaran dalam kehidupan, pemisahan agama dengan kehidupan menjadi pemicu lemahnya iman.

Kesempitan hidup yang mengakibatkan kegelisahan dan jauh dari kondisi tentram terjadi karena berpalingnya manusia dari Allah sebagai Pencipta dan pengatur. Ketentraman adalah buah dari ketaatan. Di tengah kehidupan sekuler kapitalis banyak orang stres dan mengambil jalan pintas ketika menyelesaikan masalah tanpa mempedulikan halal dan haram, sehingga iman mudah tergoyahkan.

Faktor lain, tidak berfungsinya keluarga sehingga ibu terbebani pemenuhan ekonomi karena tingginya beban hidup. Sistem kapilatisme membuat beban hidup dan biaya hidup yang tinggi. Tetapi lapangan pekerjaan sulit untuk para suami, dan juga upah yang minim, sehingga ibu pun dipaksa untuk keluar rumah bekerja, namun masih juga belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Di samping itu, lemahnya rasa kepedulian masyarakat pada sesama saat ini, masyarakat bersifat individulis, mengurusi urusannya masing masing tanpa memperdulikan disekitarnya.

Serta tidak adanya jaminan kesejahteraan dari negara atas rakyat individu per indivdu, negara diduga abai atas periayahan terhadap rakyatnya dalam pemenuhan kebutuhan. Semua ini berkaitan erat dengan sistem yang diterapkan oleh negara saat ini, yaitu sekuleris kapiltas.

Islam mewajibkan negara untuk menjamin pemenuhan kesejahteraan ibu dan anak melalui berbagai mekanisme, baik jalur nafkah, dukungan masyarakat dan santunan negara. Ibu atau perempuan dalam islam tidak diwajibkan untuk mencari nafkah atau menafkahi dirinya.

Dalam islam, nafkah menjadi tanggung jawab seorang bapak atas anak perempuannya sampai ia menikah. Setelah menikah dan menjadi seorang istri, maka nafkah menjadi  tanggung jawab suami. Jika seorang perempuan tidak memiliki ayah atau suami, maka tanggung jawab nafkah adalah walinya. Jika tidak ada wali atau wali tidak mampu untuk menafkahi maka negara bertanggung jawab atas nafkahnya.

Jadi seorang ibu tidak disibukkan untuk mencari nafkah. Islam juga memiliki sistem ekonomi dan politik yang mampu mensejahterakan individu per individu, dan meniscayakan ketersediaan dana untuk mewujudkannya.

Sumber daya alam yang melimpah bisa dijadikan untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Negara mengelola sumber daya alam sendiri bukan menyerahkan kepada pihak asing atau swasta. Dari pengelolaan tersebut bisa digunakan untuk kepentingan umat.

Negara menyediakan lapangan pekerjaan bagi para laki-laki dengan upah yang disesuaikan dengan keahliaannya. Negara tidak membiarkan harta kepemilikan umum dikuasai oleh individu dan memastikan seluruh rakyat terpenuhi kebutuhan pokoknya.

Dengan demikian kehidupan ibu akan menjadi sejahtera, nyaman dan aman tanpa dibebani tingginya beban hidup yang berujung matinya fitrah keibuan. hal ini hanya akan terwujud dalam kehidupan yang menerapkan sistem islam. Wallahu alam bishawab.[]

Comment