Tren Freestyle dan Tantangan Perlindungan Anak di Era Digital

Opini85 Views

Penulis: Mamik Susanti Ummu Firly | Aktivis Muslimah, Penulis, Pembina Komunitas Belajar di EduHOTS Center

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA- Meninggalnya sejumlah anak akibat meniru aksi freestyle yang viral di media sosial menjadi pengingat bahwa ruang digital memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang generasi muda.

Peristiwa semacam ini tidak cukup dipahami sebagai kecelakaan biasa, melainkan perlu dijadikan momentum evaluasi bersama terkait pola pengasuhan, literasi digital, dan arah pendidikan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Sebagaimana diberitakan DetikBali (8/5/2026), publik dikejutkan oleh kabar meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Lombok Timur yang diduga mengalami cedera fatal setelah menirukan aksi freestyle yang terinspirasi dari konten viral dan gim daring.

Peristiwa tersebut memunculkan kekhawatiran luas karena anak-anak berada pada fase perkembangan yang sangat mudah meniru apa yang mereka lihat, dengar, dan anggap menarik dari lingkungan sekitarnya, termasuk dari layar gawai yang mereka akses setiap hari.

Anak dan Pengaruh Konten Digital

Dalam kajian psikologi perkembangan, anak usia dini belum memiliki kemampuan penalaran risiko yang matang. Mereka cenderung tertarik pada hal-hal yang tampak menyenangkan, menantang, dan mendapatkan perhatian luas dari lingkungan sekitar.

Akibatnya, berbagai tren yang viral sering kali dianggap sebagai hiburan biasa tanpa disertai pemahaman mengenai potensi bahaya yang terkandung di dalamnya.

Sebagaimana dijelaskan UNICEF dalam kajian “Keeping Children Safe Online”, perkembangan teknologi digital membawa banyak manfaat bagi kehidupan anak.

Namun, pada saat yang sama, dunia digital juga menghadirkan berbagai risiko baru karena anak-anak belum memiliki kemampuan yang cukup untuk menyaring informasi, memahami dampak suatu tindakan, serta membedakan mana konten yang aman dan mana yang berpotensi membahayakan dirinya.

Di sisi lain, media sosial bekerja dengan algoritma yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Konten yang memicu rasa penasaran, sensasi, dan tantangan umumnya lebih mudah tersebar luas dibandingkan konten edukatif.

Dalam kondisi seperti ini, anak-anak menjadi kelompok yang sangat rentan karena kemampuan berpikir kritis dan kontrol diri mereka masih dalam tahap perkembangan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa literasi digital harus menjadi bagian penting dalam pendidikan anak. Mereka tidak cukup hanya dikenalkan pada teknologi, tetapi juga perlu dibimbing agar mampu memahami konsekuensi dari setiap informasi dan tontonan yang mereka konsumsi.

Pentingnya Peran Keluarga

Keluarga tetap menjadi lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Cara orang tua mendampingi, mengawasi, dan berkomunikasi dengan anak sangat menentukan bagaimana mereka menggunakan gawai dan berinteraksi dengan dunia digital.

Namun, realitas kehidupan modern sering kali membuat banyak orang tua harus membagi perhatian antara pekerjaan dan pengasuhan. Tidak sedikit anak yang akhirnya menggunakan perangkat digital tanpa pendampingan yang memadai.

Dalam situasi seperti itu, gawai tidak lagi sekadar menjadi sarana belajar dan hiburan, tetapi juga menjadi salah satu faktor yang membentuk pola pikir dan perilaku anak sehari-hari.

Karena itu, pengawasan tidak cukup dilakukan hanya dengan membatasi durasi penggunaan gawai. Yang lebih penting adalah membangun komunikasi yang hangat, memberikan pemahaman mengenai risiko konten berbahaya, serta menghadirkan aktivitas positif yang mampu memperkuat kedekatan emosional antara orang tua dan anak.

Ketika hubungan keluarga terjalin dengan baik, anak akan lebih mudah terbuka mengenai apa yang mereka lihat dan alami di dunia digital. Dengan demikian, potensi risiko dapat dideteksi dan dicegah lebih dini.

Perlunya Ekosistem Digital yang Aman

Perlindungan anak di era digital tentu tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga. Sekolah, masyarakat, platform digital, dan negara memiliki tanggung jawab yang saling berkaitan dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak.

Sekolah dapat memperkuat pendidikan karakter dan literasi digital agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis terhadap berbagai informasi yang mereka konsumsi. Di sisi lain, penyedia platform digital perlu meningkatkan pengawasan terhadap konten ekstrem, berbahaya, atau tidak sesuai dengan usia anak.

Sementara itu, negara memiliki peran strategis dalam menghadirkan regulasi dan sistem perlindungan digital yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Upaya pencegahan harus lebih dikedepankan melalui edukasi publik, penguatan pengawasan konten, serta penyediaan ruang digital yang lebih ramah anak.

Sebagaimana disampaikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur usai kasus tersebut mencuat, pengawasan orang tua terhadap aktivitas digital anak menjadi faktor penting yang tidak dapat diabaikan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa perlindungan anak membutuhkan keterlibatan semua pihak, bukan hanya satu institusi semata.

Pendekatan yang hanya bersifat reaktif setelah muncul korban tentu belum cukup. Dibutuhkan kolaborasi yang lebih serius agar ruang digital tidak berkembang tanpa arah dan tanpa perlindungan yang memadai bagi generasi muda.

Perspektif Islam tentang Perlindungan Generasi

Dalam pandangan Islam, anak merupakan amanah yang harus dijaga pertumbuhan fisik, mental, dan akhlaknya. Pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai proses transfer ilmu, tetapi juga pembentukan kepribadian serta penjagaan dari berbagai hal yang dapat membahayakan kehidupan mereka.

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS At-Tahrim ayat 6, kaum mukmin diperintahkan untuk menjaga diri dan keluarganya dari berbagai hal yang dapat menjerumuskan kepada keburukan.

Ayat ini menunjukkan bahwa tanggung jawab menjaga generasi bukan hanya urusan pribadi, melainkan bagian dari kewajiban yang harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Islam menempatkan keluarga sebagai pusat pembinaan utama, sementara masyarakat dan negara berfungsi menciptakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak.

Karena itu, perlindungan generasi tidak cukup dilakukan secara individual, tetapi memerlukan dukungan sistem sosial yang mampu menjaga anak dari berbagai ancaman, termasuk ancaman yang muncul melalui ruang digital.

Nilai-nilai Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga akal dan keselamatan jiwa sebagai bagian dari tujuan syariat (maqashid syariah). Prinsip inilah yang relevan diterapkan dalam menghadapi tantangan digital saat ini, yakni memastikan teknologi digunakan untuk kemaslahatan dan kebaikan, bukan justru membawa mudarat bagi anak-anak.

Menjadikan Tragedi sebagai Evaluasi Bersama

Kasus freestyle yang menelan korban jiwa hendaknya menjadi refleksi bersama bahwa perkembangan teknologi harus diiringi dengan kesiapan pendidikan dan pengasuhan. Anak-anak hidup di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat sehingga membutuhkan pendampingan yang lebih kuat dibandingkan generasi sebelumnya.

Sudah saatnya pendidikan tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada penguatan karakter, pengendalian diri, dan kemampuan menghadapi dunia digital secara bijaksana. Anak-anak perlu tumbuh dalam lingkungan yang menghadirkan keteladanan, perhatian, serta rasa aman.

Menyelamatkan generasi berarti memastikan mereka tidak berjalan sendiri di tengah derasnya arus pengaruh digital. Sebab, kualitas sebuah peradaban pada akhirnya ditentukan oleh bagaimana masyarakat menjaga, mendidik, dan membimbing anak-anaknya hari ini.

Jika perlindungan terhadap generasi diabaikan, maka risiko yang muncul bukan hanya menimpa individu, tetapi juga masa depan bangsa secara keseluruhan. []

Comment