Tukar Guling Kemerdekaan, Jelas Sebuah Pengkhianatan

Opini685 Views

 

Penulis: Jylan Mumtaza | Mahasiswi ITS Surabaya

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pernyataan Prabowo Subianto mengenai kesiapan Indonesia untuk mengakui Israel jika Palestina diberikan kemerdekaan menjadi pernyataan kontroversial yang menyulut perdebatan publik.

Sebagian pihak melihat ini sebagai manuver diplomatik, namun secara mendasar pernyataan tersebut justru mengandung bahaya besar, yakni menyeret Indonesia ke dalam narasi palsu solusi dua negara yang selama puluhan tahun telah terbukti gagal dan sarat manipulasi.

Alih-alih terlihat adil, pada kenyataannya justru melanggengkan eksistensi negara ilegal Israel di atas tanah curian yang dirampas dari bangsa Palestina.

Menyatakan siap mengakui Israel meski dengan syarat kemerdekaan Palestina adalah bentuk kompromi ideologis yang berbahaya. Ia mengabaikan fakta sejarah, fakta penjajahan, dan fakta genosida yang tengah berlangsung.

Pernyataan ini juga sama artinya dengan menyetujui eksistensi negara penjajah yang telah membantai ribuan warga sipil Gaza, menghancurkan rumah sakit, masjid, dan sekolah, serta menghalalkan pengeboman terhadap anak-anak.

Pengkhianatan terhadap Perjuangan Mulia

Lebih dari sekadar diplomasi, pernyataan ini dapat dimaknai sebagai pengkhianatan terhadap darah para syuhada, para pejuang Intifada, para korban Nakba, dan umat Islam yang hingga hari ini tidak pernah berhenti menyerukan kemerdekaan hakiki bagi Palestina.

Ini juga merupakan pengkhianatan terhadap warisan para penakluk Al-Quds, dari masa Khalifah Umar bin Khattab hingga Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Lantas layakkah kita, sebagai bangsa dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, justru menjadi pihak yang membuka jalan untuk normalisasi dengan entitas penjajah? Bukankah hal ini justru akan menjadi preseden buruk bagi dunia Islam dan memukul balik semangat solidaritas global terhadap rakyat Gaza?

Beberapa pihak berdalih bahwa pernyataan ini hanyalah taktik, semacam batu loncatan untuk menekan Israel agar lebih terbuka untuk mendengar suara dunia. Namun, sejarah sudah menjadi saksi bahkan lembaga sebesar PBB pun tidak didengar oleh Israel.

Apakah kita begitu naif untuk berpikir bahwa satu pernyataan dari Indonesia akan mengubah arah penjajahan yang sudah berlangsung lebih dari puluhan tahun lamanya?

Jangan sampai bangsa ini terjebak dalam politik ilusi yang ujung-ujungnya melegitimasi keberadaan Israel dan mempercepat proses normalisasi hubungan dengan pihak yang jelas-jelas membantai umat Islam.

Jihad Satu-Satunya Solusi Nyata

Jika benar kemerdekaan atas Palestina lah yang diharapkan, maka meja perundingan yang dikendalikan penjajah bukanlah solusi yang layak untuk diambil.

Satu-satunya langkah adalah dengan mengerahkan kekuatan nyata yang terbukti pernah berhasil, yakni jihad fi sabilillah yang dipimpin oleh kepemimpinan politik umat Islam global sebagaimana yang dicatat oleh sejarah dalam peristiwa pembebasan Al-Quds.

Jihad dalam Islam bukan sekedar perang fisik tanpa arah, tetapi merupakan bentuk pembebasan yang dilakukan dengan komando pemimpin umat yang satu. Negara islam yang menerapkan syariat secara kafah memiliki peran strategis, yakni untuk memobilisasi umat, menyediakan logistik, melatih kekuatan, hingga memastikan bahwa pembebasan tanah suci Palestina dilakukan dalam kerangka hukum Islam, bukan anarkisme atau emosional belaka.

Langkah Nyata Umat Saat Ini

Maka, langkah yang harus diambil oleh umat Islam sekarang bukanlah mendukung normalisasi dengan Israel, tetapi:

1. mengokohkan pemahaman tentang kewajiban pembebasan Palestina melalui jalan jihad dan kepemimpinan politik Islam.

2. Menolak semua bentuk kompromi dengan penjajah, baik berupa pengakuan, kerja sama, maupun relasi ekonomi atau diplomatik.

3. Mendorong kesadaran kolektif bahwa solusi hakiki hanya bisa lahir dari sistem Islam yang diterapkan secara kaffah melalui institusi dan persatuan islam global.

4. Menguatkan barisan dakwah, bmengikuti pembinaan ideologis, dan menyebarluaskan pemikiran Islam ke tengah umat sebagai persiapan menuju kebangkitan Islam.

5. Menjaga semangat perjuangan dan menyuarakan perlawanan terhadap segala bentuk normalisasi yang mencederai perjuangan rakyat Gaza.

Pilihan Kita Menentukan Arah Sejarah

Jika umat Islam terus menunda kebangkitan dan malah terseret pada kompromi diplomatik, maka penjajahan akan terus berjaya di atas tanah suci Palestina.

Namun jika umat kembali pada tuntunan Rasulullah yakni membina umat, membangun kesadaran politik Islam, dan mempersiapkan persatuan islam global, maka kemenangan Islam dan pembebasan Palestina bukanlah hal mustahil.

Inilah saatnya umat Islam bersatu menolak narasi palsu dan bangkit bersama memperjuangkan sistem Islam sebagai satu-satunya solusi sejati. Tidak ada kemuliaan dalam pengakuan terhadap penjajah- yang ada hanyalah kehinaan dan kemunduran. Saatnya membalik arah, menuju kemenangan hakiki di bawah panji Islam.[]

Comment