by

Tyas Ummu Amira: Cluster Baru OTG Milineial, Di Era New Normal

-Opini-17 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Baru – baru ini ditemukanya cluster baru peyebaran covid -19, di tengah diberlakukannya new normal. Ditengarai kasus baru (Orang Tanpa Gejala) OTG berkisar pada usia yang tergolong masih muda atau kaum milinieal. Dengan ini menandakan bahwa akan ada ledakan penambahan jumlah pasien positif covid-19.

Dilansir dari laman, IDN Times – Kasus ribuan siswa-siswi Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD) terpapar virus corona (COVID-19) membuktikan penyebaran virus tersebut tidak pandang bulu.

Terlebih dari siswa yang kini dinyatakan positif, rata-rata merupakan Orang Tanpa Gejala (OTG) dengan usia muda atau millenial.

Dikutip dari berbagai sumber, untuk menjadi siswa-siswi secapa AD yang ada di Jalan Hegarmanah, Kecamatan Cidadap Kota Bandung, calon siswa mesti berusia di bawah 26 tahun bagi yang berijazah D3, 30 tahun bagi yang berijazah S1, dan 32 tahun bagi yang berijazah S1 Profesi.(12/07/2020)

Dengan melihat kasus yang terjadi diatas, bisa di pastikan penyebaran virus covid – 19 ini semakin masif adanya.

Bersadasarkan sumber data yang dikutip dari CNN- Laporan Gugus Tugas Penanganan covid-19 mencatat peningkatan kasus covid-19 per hari ini, Minggu (12/7/2020) tercatat 404 kasus baru, sehingga akumulatif 14.361 kasus, 9.200 orang dinyatakan sembuh dan 702 kasus meninggal dunia.

Maka bertambahnya pasien positif OTG membuat beban rumah sakit semakin berat, pengeluaran anggaran kesehatan untuk penanganan pandemi ini juga membengkak.

Apalagi dengan diterapkanya new normal yang abai dengan protokol kesehatan dan sebagian sekolah swasta sudah memasukan anak didiknya meskipun dilakukan secara bergilir. Secara tidak sadar akan muncul cluster baru ditengah kaum milineal, yang kelihatannya mereka sehat tapi ternyata positif OTG.

Dari beberapa rentetan fakta yang terjadi terbukti bahwa New Normal bukanlah solusi atas pandemi, malah justru menimbulkan masalah baru yang sangat berbahaya bagi masyarakat.

Ledakan pasien akan bertambah, seiring dengan aktivitas masyarakat yang sudah berjalan bebas. Salah satunya pusat perbelanjaan dan tempat pariwisata mulai ramai dipadati pengunjung, yang mayoritas anak muda.

Mereka menyalahgunakan kesempatan belajar dirumah dengan liburan ke tempat keramaian bersama teman – temanya, yang seakan menyepelehkan kondisi pandemi ini.

Ditambah lagi dengan diberlakukanya new normal ini seakan negara lepas tangan akan tanggung jawabnya terhadap rakyat. Nyawa dan kesehatan rakyat terabaikan, rakyat harus menanggung beban hidup yang amat berat.

Mulai dari biaya untuk kegiatan belajar online, tarif listrik yang semakin melejit, hilangnya mata pencaharian karena di PHK, dan naiknya harga kebutuhan bahan – bahan pokok yang mencekik .

Seperti pribahasa “sudah jatuh tertimpa tangga” inilah potret kelam kehidupan yang terjadi di sistem kapitalis. Dimasa pandemi yang tak kunjung menemukan solusi, ditambah lagi dengan berbagai masalah yang timbul.

Memang pada sistem ini yang dibuat acuan adalah materi, jadi tidak heran jika kepetingan ekonomi yang harus mereka selamatkan daripada nyawa rakyat.

Dengan dijalankanya new normal, maka mereka akan kembali mengais pundi – pundi keuntungan dari rakyat, ditengah resesi yang sekarang terjadi.

Sehingga sejatinya sistem kapitalis ini telah gagal, dalam menyelesaikan dan menangani masalah kehidupan ini termasuk problem pandemi.

Semua sektor industri dan pariwisata mengelola kembali tempatnya untuk menyedot para wisatawan lokal maupun mancanegara.

Kondisi seperti ini juga sangat rentan dalam peyebaran virus, karena tak sadar berinterkasi dengan banyak orang apalagi OTG yang tak bisa terdektesi. Sehingga bisa dipastikan berbagai cluster baru akan bermunculan, menyumbang angka penambahan pasien positif covid -19.

Lantas dengan cara apa untuk menyelesaiakan pandemi ini secara tuntas?

Tidak lain, tidak bukan harus ada sistem yang mampu memecahkan segala problematika kehidupan dan sesuai fitrah. Sistem ini adalah Islam yang hadir seperti cahaya di kegelapan malam, yang memiliki segudang solusi yang jitu dan tuntas. Menyelesaikan masalah tanpa masalah,
sebab hanyalah islam agama satu – satunya yang diridhoi Allah SWT, sebagaimana yang tercantum dalam QS Al Maidah ayat 3

“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.”

Jika masalah pandemi ini mengambil solusi dalam sistem Islam, dengan metode yang diajarkan Rasulullah SAW yaitu diberlakukanya lock down secara total maka virus ini tidak akan menyebar ke penjuru negeri. Pandemi atau wabah akan segera berakhir dan tidak menimbulkan kegaduhan seperti halnya sekarang ini.

Dalam Islam negara akan melakukan upaya maksimal dalam rangka pengurusan terhadap rakyatnya. Negara dan pemimpin dalam Islam menjalankan fungsinya untuk mengatasi problem pandemi di tengah umat. Sepanjang sejarah peradaban hanya sistem Islam yang mampu untuk mengakhiri pandemi.

Maka sudah saatnya untuk mengambil metode Islam dalam mengakhiri pandemi ini. Mengadopsi sistem Islam secara kaffah dalam seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara. Waallhu’alam bishowab.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × four =

Rekomendasi Berita