Ustadzah Nursalmi,S.Ag: Muslim Uighur Di Balik Kerjasama Arab Saudi – China

Berita734 Views
Ustadzah Nursalmi,S.Ag
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman mendukung pembangunan kamp konsentrasi untuk Muslim Uighur. Dia mengatakan bahwa tindakan Cina itu dapat dibenarkan.
“Cina memiliki hak untuk melakukan pekerjaan anti-terorisme dan ekstremisme untuk keamanan nasionalnya,” kata Bin Salman, yang telah berada di China menandatangani banyak kesepakatan dagang pada Jumat (22/02/2019).
Presiden Cina Xi Jinping, mengatakan kepada putra mahkota bahwa kedua negara harus memperkuat kerja sama internasional tentang deradikalisasi guna mencegah infiltrasi dan penyebaran pemikiran yang dianggap ekstrem.
Cina telah menahan sekitar satu juta Muslim Uighur di kamp konsentrasi, tempat mereka menjalani program pendidikan ulang yang diklaim sebagai perang melawan ekstremisme. KIBLAT.NET
Bahasa Cina akan dimasukkan dalam kurikulum dalam semua tingkat pendidikan di Arab Saudi. Demikian satu hal yang disepakati selama pertemuan Putra Mahkota Muhammad bin Salman, wakil perdana menteri, menteri pertahanan dan seorang delegasi senior Cina, Jumat (22/02/2019).
“Rencana ini bertujuan untuk memperkuat persahabatan dan kerja sama antara Kerajaan Arab Saudi dan pemerintah Cina dan untuk memperdalam kemitraan strategis di semua tingkatan,” demikian menurut laporan Badan Pers Saudi (SPA).
“Langkah ini juga untuk menjalin kemitraan strategis antara pemimpin Saudi dan Cina, dan untuk meraih peluang yang menjanjikan di antara rakyat mereka.”
Setelah membaca berita tersebut dapat kita yakini bahwa rasa ukhuwah Islamiyah dengan saudara seaqidah pada diri pemimpin Arab Saudi sudah terkikis. Tidak ada lagi rasa persaudaraan terhadap sesama mukmin. 
Perasaan mukmin seperti satu tubuh sudah terhapus dari sanubarinya. Tidak lagi merasakan sakit ketika saudara mukminnya disakiti, dibantai, bahkan dibunuh. Semua ini bisa terjadi adalah karena kepentingan nasional yang telah membutakan mata hati para pemimpin muslim di seluruh dunia. Termasuk Arab Saudi yang rela mendukung cina dalam pembangunan kamp konsentrasi sebagai tempat penyiksaan kaum muslim Uighur. 
Di saat mereka menjerit memohon pertolongan kepada para pemimpin muslim dunia, Arab Saudi malah menandatangani perjanjian perdagangan dengan cina yang merupakan mesin pembunuh muslim Uighur. 
Demi nasionalisme dan karena rakusnya terhadap kekayaan dan kekuasaan, mereka rela mendukung kafir untuk membunuh saudara seaqidah hanya karena alasan ekstrimisme. Hal ini sama saja dengan membunuh sendiri saudaranya. Ini menandakan tidak ada lagi nilai taqwa pada diri mereka, tidak ada lagi rasa kepedulian dan kasih sayang terhadap sesama muslim. Bahkan para pemimpin Arab Saudi tidak berani membahas tentang krisis muslim uighur yang sedang tersiksa karena takut kehilangan mitra dagang yang begitu penting bagi mereka. 
Pendapatan Arab Saudi sangat tergantung pada minyak. Selama ini Arab Saudi menjadi raja minyak di Cina. Dan ternyata belakangan ini pasokan minyak dari Arab Saudi ke Cina bisa dikalahkan oleh Rusia. Selain itu, cina terus menggenjot minyak dari Angola, Brazil, Venezuella dan Iran. Karena itu Arab Saudi terus berusaha mengikat hubungan erat dengan cina dan menjadikannya mitra perdagangan yang saling menguntungkan. Cinapun menanamkan modal di Arab Saudi pada bisnis properti. 
Saat fulus jadi tujuan utama dalam kehidupan, maka yang diutamakan adalah politik ekonomi antar negara, dengan mangenyampingkan politik theologi.  Sebab di hadapan uang dan modal semua mendambakan keuntungan dan laba. Apalagi menurut pandangan mereka bahwa kekayaan adalah sumber kekuatan. Padahal tanpa disadari kafir terus ingin aneksasi (menjajah sekaligus mengeruk) ekonomi negara muslim dengan tujuan untuk menghancurkan umat Islam. 
Beginilah kondisi dunia Islam tanpa khilafah sebagai junnah. Muslim menjadi sasaran empuk penindasan orang orang kafir. Yang sangat membuat hati kita miris pemimpin muslim sendiri memberi dukungan kepada kafir untuk membantai saudara seimannya. 
Maka sudah seharusnya umat muslim berjuang untuk mengembalikan kembali dunia Islam yang dipimpin oleh seorang khalifah. Karena hanya khalifahlah yang paling mengetahui kondisi rakyatnya. Hanya dalam negara khilafahlah umat Islam mendapatkan ketenangan hidup, kesejahteraan ekonomi, dan keamanan dari fitnah kafir. Umat Islam butuh khilafah. Semoga khilafah segera tegak.[]
Penulis adalah Da’iyah Aceh

Comment