Oleh : Raihun Anhar, Mahasiswi UN Khair
__________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — V-Day (Valentine Day) adalah perayaan yang berasal dari Barat, yang mana di dalam perayaan tersebut diartikan sebagai hari pembuktian cinta antara pasangan baik yang halal maupun tidak alias pacaran.
Perayaan tersebut juga sangat identik dengan warna pink dan coklat yang melambangkan kasih sayang antar pasangan. Meskipun ada pandangan yang sudah menikah, namun perayaan ini lebih didominasi kawula muda atau remaja yang merupakan pasangan yang tidak halal alias belum menikah.
V-Day sendiri telah membawa kerusakan perilaku para remaja muslim, di mana para remaja kehilangan kehormatannya demi cinta palsu yang ditawarkan dalam valentine day tersebut dengan dasar pembuktian cinta. Mereka tidak lagi mengenal dan mempertahankan jati diri mereka sebagai muslim.
Kenapa remaja kehilangan jati dirinya?
Pertama, para remaja tidak memahami penyaluran naluri berkasih sayang (gharizatul nau) berdasarkan Islam, sehingga mereka mengambil cara atau jalan yang salah yaitu pacaran.
Kedua, pengaruh lingkungan keluarga dan pertemanan yang mendukung. Pacaran sudah dianggap biasa oleh sebagian besar masyarakat bahkan ada sebagian orang tua justru membebaskan anaknya untuk berpacaran.
Ketiga, negara tidak melarang dengan tegas kepada para remaja untuk tidak pacaran dan tidak merayakan V-Day. Hanya beberapa wilayah saja, yang melarang – misalnya, di Makassar pada tahun 2020 kemarin mengeluarkan surat edaran untuk melarang para pelajar merayakan V-Day (detiknews.13/2/20). Depok melarang siswa merayakan V-Day karena bertentangan dengan Islam (liputan6.14/2/21). Walikota Banda Aceh juga melarang warganya untuk merayakan V-day (detikNews.11/2/20).
Negara dalam hal ini tidak menunjukkan kepedulian terhadap para generasi yang akan mengantikan posisi mereka sebagai pemimpin nantinya. Padahal menjaga generasi adalah tugas dan tanggung jawab negara.
Ketiga alasan di atas itulah yang menjadi faktor kerusakan pada remaja makin parah. Remaja kehilangan kehormatannya, tidak mencintai dirinya, merusak akhlak, depresi, dan kerusakan lainnya.
Itulah fakta kehidupan yang tidak menggunakan syariat Islam sebagai solusi atau aturan hidup. Dengan demikian membawa kerusakan yang tidak berkesudahan.
Lihatlah bagaimana Islam menjaga generasinya agar tidak rusak dan hancur.
Islam Menjaga Generasi
Tugas negara dalam Islam adalah sebagai perisai umat yang melindungi dan menjamin keamanan, memenuhi hak-hak syar’i setiap warga negara termasuk para remajanya.
Islam mengajarkan para remaja untuk menjadi remaja yang luar biasa sebagaimana para sahabat Nabi Saw yang cerdas dalam berbagai macam ilmu pengetahuan, berakhlak yang baik, mencintai dirinya karena Allah SWT dan Rasulullah Saw, menjaga martabatnya serta negara juga menjamin hal itu.
Lihatlah remaja-remaja yang hidup dalam peradaban Islam. Usama bin Zaid menjadi pemimpin perang termuda di masa Rasulullah Saw, ia berusia 18 tahun kala itu. Ali bin Abi Thalib yang telah menghafal banyak hadis saat masih remaja, Aisyah binti Abu Bakar menjadi gurunya para sahabat nabi takala Nabi Saw telah wafat, usia Aisyah waktu itu 18 tahun, bahkan sebelum Rasul wafat ia sering mengajarkan fiqih kepada sahabat Nabi yang perempuan.
Masih banyak lagi remaja yang luar biasa dalam peradaban Islam seperti Atab bin Usaid (menjadi gubernur Makkah pada usia 18 tahun), Anas bin Malik (menjadi asisten Nabi diusia 10 tahun), Mus’ab bin Umair menjadi duta Islam pertama yang diutus Nabi ke Madinah di usia belasan (menurut Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Khulafa menyebutkan, ia masuk Islam, umurnya baru 10 tahun), Zaid bin Tsabit (sekretarisnya Nabi Saw), dan salah seorang pemuda yang hidup setelah Nabi Saw yaitu Muhammad Al Fatih (22 tahun) menjadi panglima terbaik yang telah menaklukkan Konstantinopel.
Itulah perbedaan remaja dalam peradaban kapitalisme dan remaja dalam Islam, sangat berbeda seperti langit dan bumi. Mereka hebat karena dekat dengan Islam dan lingkungan serta negara menjamin mereka menjadi remaja hebat yang luar biasa dan mampu menggetarkan musuh serta berakhlak mulia.
Jika remaja saat ini hancur karena cinta dusta yang ditawarkan dalam valentine’s day, para remaja dalam peradaban Islam menjadi luar biasa karena cintai kepada Allah dan Rasul.
Cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah Saw harus lebih tinggi dari apapun karena dengan mencintai Allah dan Rasul akan membawa kita kepada kebahagian hakiki di dunia hingga surga.
“Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian”. (Ali Imran ayat 31).
“Dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang”. (Al-Balad ayat 17)
“Barangsiapa yang mencintai berjumpa Allah, Allah mencintai berjumpa kepadanya, sebaliknya siapa yang membenci berjumpa dengan Allah, Allah pun membenci berjumpa dengannya”. (HR. Bukhari).














Comment