by

Viral Tidaknya Palestina, Membelanya Adalah Separuh Akidah

-Opini-31 views

 

 

LP

Oleh: Arinda Nurul Widyaningrum, Aktivis BMI Makassar

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA— Saat Israel menggempur Gaza dan kompleks Masjid al-Aqsha, gelombang solidaritas untuk membelanya kembali bergejolak di seluruh penjuru dunia. Namun begitu tetap saja ada segelintir suara sumbang yang muncul berkebalikan.

Mereka mengatakan bahwa palestina merupakan persoalan Palestina  bukan urusan kita. Namun yang perlu diingat adalah bahwa membela tanah kaum muslim tersebut tak boleh hanya karena pemberitaannya yang sedang viral. Meski nantinya kembali sepi dari pemberitaan, palestina tetap masih urusan kita.

Ingatlah bagaimana awal mula pendudukan kaum zionis atas tanah Palestina. Ketika Inggris mengeluarkan Deklrasai Balfour tahun 1917. Sebuah restu dari Inggris kepada kaum Yahudi di Eropa untuk bermukim di wilayah Palestina. Lengkap dengan misi mereka untuk mendapat dukungan dari para pengusaha kaya Yahudi sekaligus menciptakan konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Namun, lihatlah respon pemimpin kaum muslim saat itu, Khalifah Sultan Abdul Hamid II ketika Herzl benar-benar mendatanginya untuk meminta tanah Palestina.

Dengan gagahnya Sultan mengeluarkan kalimat-kalimat tegas, “Aku tidak dapat memberikan walau sejengkal dari tanah ini (palestina) karena ia bukan milikku. Ia adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi bumi ini. Mereka telah membasahi tanahnya dengan darah-darah mereka.”

Kemudian, dia melanjutkan, “Jika kekhalifahan Islam ini hancur pada suatu hari, mereka dapat mengambil Palestina mereka dapat mengambil Palestina tanpa biaya! Namun selagi aku masih hidup, aku lebih rela sebilah pedang merobek tubuhku daripada melihat bumi Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Kekhalifahan Islam. Pemisahan tanah Palestina adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.”

Sungguh begitu jelas, bahwa kaum muslim adalah bersaudara dan satu tubuh. Sultan tak mau bagian tubuhnya yang lain terpisah selagi mereka masih hidup. Bukankah Allah telah berfirman,
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. al-Hujurat: 10).

Tak peduli dari bangsa dan negara mana pun, apabila mereka muslim, maka mereka adalah saudara kita. Kita perlu memenuhi hak-hak ukhuwah (persaudaraan) kepadanya.

Bukankah kesempurnaan iman salah satunya juga diwujudkan dengan mencintai saudara sesama muslim seperti kita mencintai diri kita sendiri?

Dari Anas ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka adalah sebuah kewajiban untuk mencintai palestina sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Dan tentu saja cinta butuh pembuktian. Maka kecintaan pada sesama muslim dapat diwujudkan dengan peduli terhadap urusan mereka sebagaimana kita berusaha memenuhi kebutuhan kita sendiri. Layaknya sabda Rasulullah saw., “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, [adalah] seperti satu tubuh. Jika salah satu anggotanya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. al-Bukhari no. 6011).

Pada akhirnya, apakah semua bukti yang berlandaskan firman Allah swt. dan sabda Rasululllah saw. ini tidak menyebabkan kita merasa mendidih lantaran dorongan akidah yang bergejolak? Apalagi bila ditengok lebih jauh perkara keistimewaan Palestina, tentu kecintaan itu akan semakin menggerakkan kita melakukan sesuatu, bukan?

Namun sayangnya, hingga hari ini, kecaman hanya diterbangkan ke sana kemari oleh pemimpin kaum muslim, jauh dari ketegasan yang pernah dicontohkan Sultan Abdul Hamid II yang mengusir Herzl karena meminta tanah Palestina.

Bahkan parahnya sejumlah negeri muslim kini mengakui keberadaan negara Israel dan menjalin hubungan diplomatik dan kerja sama lainnya, seperti Mesir, Yordania, UEA, Maroko, Bahrain, Sudan dan Turki.

Dengan begitu akan mustahil hari ini untuk mengharap negeri-negeri muslim melakukan pembelaan, sebab mereka justru tunduk pada kepentingan Barat, sementara Barat sudah sangat tentu berpihak pada Israel.

Perlu disadari bahwa Palestina hingga hari ini diserang secara fisik, maka dibutuhkan kekuatan yang sepadan untuk melawan, seperti dalam bidang militer.

Namun, bidang militer yang dibutuhkan adalah tentu yang tak terikat dengan kepentingan Barat, melainkan dari luar. Satu-satunya harapan adalah pada negara yang menerapkan aturan Islam dalam sendi-sendi kehidupan. Yang akan serius menangani permasalahan Palestina. Layaknya, Sultan Abdul Hamid II yang dulu menjadi pemimpin umat Islam.

Kepemimpinan yang berlandaskan akidah Islam tentu akan memancarkan kepemimpinan yang adil. Sebab terbebas dari kungkungan kepentingan pada negara penjajah, dan hanya melaksanakan aturan Allah yang sempurna untuk umat manusia.

Sudah saatnya, kaum muslim serius melihat masalah Palestina sebagai panggilan akidahnya, lantas terketuk untuk membela dengan serius mewujudkan kepemimpinan Islam.

Sebab tanah ini mulia dan diberkahi, berkaitan erat dengan isu agama, dan ada urusan kita di sana. Semoga saja gerak ini bukan hanya mengikuti arus pemberitaan yang viral, sebab bila esok berhenti viral, semangat membelanya bisa saja pudar. Wallahu a’lam.[]

Comment

Rekomendasi Berita