Workshop yang digelar dari tanggal 25-26 Oktober 2017 ini diikuti oleh 40 orang guru mata pelajaran sejarah dan seni budaya SMP/SMA/SMK dari berbagai daerah dan kota di Sumatra Barat, untuk hari ke duanya berpola diskusi panel, dimoderatori oleh Noviaty, SH, MM. (Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar). Sebagai penyaji awal materi, Sastri Bakry mengupas literasi.
“Sebagai orang berlatar belakang ilmu sejarah tentu sangat memahami, bahwa menulis adalah kerja untuk keabadian. Orang yang tidak menulis akan hilang dari sejarah. Jika yang lain mengatakan ‘menulislah, kamu akan kaya’. Bagi saya pribadi, menulis juga jadi obat awet muda. Dan menulis itu adalah kemauan, tuliskan saja apa yang kita suka, apa yang kita mau, jangan pernah takut salah. Jauhkan motivasi menulis hanya sekadar untuk penuhi syarat kenaikan pangkat saja,” kata Sastri Bakry saat menyajikan materi.
Selain itu Sastri Bakry juga mengatakan, bahwa minat masyarakat Indonesia pada buku masih rendah. Minimnya angka penjualan buku di berbagai acara peluncuran buku bisa jadi parameternya.
Sementara itu, Khairul Jasmi menyampaikan cara praktis untuk menulis. “Ketika kita menulis, jangan berpikir. Satu-satu melakukannya. Menulis itu keterampilan, bukan ilmu. Sama dengan mengajar di depan kelas. Ide-ide menulis itu seperti kelereng yang jatuh dari kantong anak-anak yang bolong. Tak bisa ditahan. Tuntaskan semua ide ke dalam pointer, dan tulislah pointer-pointer itu.”
Sejalan dengan materi yang dipaparkan oleh Sastri Bakry, Khairul Jasmi menamsilkan menulis itu seperti emak-emak bawa motor. Mulai saja, jangan takut, kalau salah urusan nanti, setelah selesai dikoreksi. Jangan hentikan menulis sampai semua pointer-pointer jadi tulisan.
Jika masih kesulitan untuk menulis, Khairul Jasmi memberikan solusinya dengan cara menceritakan kembali peristiwa kecelakaan yang pernah dilihat. Atau dengan membuat satu alinea, yang tidak ada kata yang sama. Jika ditemukan, cari padannya. Tulislah dengan bahasa sederhana, bahasa sehari-hari, yang tahap awal cukup dengan kalimat-kalimat pendek dulu. Atau bisa juga dengan cara yang lain, menuliskan perjalanan wisata.
“Semoga saja workshop ini melahirkan guru-guru sejarah dan budaya yang kreatif dan inovatif, serta memiliki keterampilan menulis. Sumatra Barat kaya dengan sejarah dan benda-benda peninggalan sejarah, dan banyak tulisan di situs-situs sejarah yang butuh pengkajian dan dialihbahasakan. Semoga ini jadi jalan untuk ekplorasi wisata dan tentu demi kelestariannya,” kata Dra. Zusnelli Zubir, M.Hum., Ketua Panitia, ketika menutup workshop pada hari ke dua.[MF]










Comment