![]() |
| Wulan Eka Sari |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kaum Muslimin di Indonesia dihebohkan dengan ucapan selamat natal dari Calon Wakil Presiden No. urut 1, Maruf Amin dan Kementerian Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin.
Dari sini, hendaknya kaum muslimin mewaspadai apa yang ada di balik ucapan selamat natal ini. Sebab, di balik itu ada bahaya besar yang bisa mengancam aqidah Islam. Berpartisipasi dalam perayaan natal, tidak lain adalah kampanye ide pluralisme yang mengajarkan kebenaran semua agama.
Menurut paham pluralisme, tidak ada kebenaran yang mutlak. Semua agama dianggap benar. Seruan itu juga merupakan propaganda sinkretisme, pencampuradukan ajaran agama-agama.
Spirit sinkretisme adalah mengkompromikan hal-hal yang bertentangan. Padahal dalam Islam, batasan iman dan kafir, halal dan haram adalah sangat jelas. Tidak boleh dikompromikan.
Paham pluralisme dan ajaran sinkretisme adalah ajaran yang sesat. Kaum muslimin haram mengambil dan menyerukannya.
Allah swt telah menetapkan bahwa satu-satunya agama yang diridhoi dan benar adalah Islam. Selain Islam tidak Allah ridhoi dan merupakan agama yang batil.
Allah swt berfirman, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.”
Sehingga kaum Muslimin haram mengucapkan selamat natal apalagi turut serta merayakannya.
Kaum Muslim Indonesia terlalu toleransi dalam banyak hal bahkan sampai menabrak prinsip-prinsip agamanya sendiri. Lantas, bagaimanakah toleransi dalam Islam?
Toleransi dalam Islam, dijelaskan dalam tiga hal ini. Pertama, Islam memberi kebebasan kepada siapa saja untuk memilih agama. Kedua, Islam mewajibkan umatnya untuk meyakini hanya Islam saja yang benar. Ketiga, Toleransi tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.
Contoh toleransi ini pernah dipraktikkan oleh Rasulullah saw. Muhammad Shallabi dalam Sirah Nabawiyah menceritakan pada tahun 9 H, ketika utusan Kristen Najran pergi ke Madinah, mereka disambut dengan baik oleh Rasulullah saw. Rasul berkirim surat kepada uskup mereka, Abu al-Harits. Intinya tentang jaminan keamanan dalam melaksanakan ibadah. Jaminan ini tidak hanya berlaku bagi agama Nasrani saja, Tapi juga untuk agama-agama lain, selama mereka mau menaati perjanjian dalam Piagam Madinah.
Alhasil, Islam telah memiliki konsepsi toleransi yang adil dan proporsional yang akan menjadikan kaum Muslim dan Non-Muslim justru hidup rukun, penuh keamanan dan kesejahteraan. Hanya dalam Daulah Islamiyah hal ini bisa diwujudkan. Wallahu a’lam.[]
Penulis adalah seorang mahasiswi










Comment