Yanti: Komunis China Berhasil Kelabui Arab Saudi

Berita715 Views
 Yanti
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sungguh membingungkan. Kira-kira masuk logikakah bila yang memahmi agama sendiri tidak mengetahui hubungan dengan siapa yang seharusnya dia bekerja sama? Apalagi mendukung musuh islam dan Hak Asasi Manusia yang telah menggenosida kaum muslim. Parahnya, yang melakukan kerjasama dengan komunis ini adalah Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman dengan mendukung kamp konsentrasi untuk Muslim Uighur. Bahkan dia mengatakan bahwa tindakan China terhadap Uighur dapat dibenarkan.
Yaitu “China memiliki hak untuk melakukan pekerjaan anti-terorisme dan ekstremisme untuk keamanan nasionalnya”. Kata bin Salman, yang berada di China menandatangani banyak kesepakatan dagang pada jum’at (22/02/2019). 

Presiden China Xi Jinping, mengatakan kepada putra mahkota bahwa kedua Negara harus memperkuat kerja sama internasional tentang deradikalisasi guna mencegah infiltrasi dan penyebaran pemikiran yang dianggap ekstrem. 

China telah menahan sekitar satu juta Muslim Uighur di kamp sebagai perang melawan ekstremisme. Uighur adalah kelompok etnis Turki yang mempraktikkan islam yang tinggal di China barat dan sebagian Asia Tengah. Beijing menuduh minoritas di wilayah Xinjiang Barat itu mendukung terorisme sehingga harus diawasi dengan ketat.(m.kiblat.net/2019/02/24/putra-mahkota-saudi-dukung-cina-bangun-kamp-konsentrasi-uighur/). 

Jelas sekali sungguh mengerikan bukan? Putra Mahkota Saudi yang kita ketahui memiliki pemahaman agama yang mendalam itu mau bekerja sama dengan musuh islam yang telah banyak menumpahkan darah kaum muslim di Uighur. 

Tetapi hal yang diperbuat Putra Mahkota Arab ialah mau bekerja sama dengan komunis tentang deradikalisasi untuk mencegah pemikiran yang dianggap ekstrem. Dari kasat mata, berarti Putra Mahkota Arab Saudi menuduh kaum muslim yang ada di Uighur adalah orang yang ekstrem yang mendukung terorisme. Karna mana mungkin komunis menuduh yang teroris orang komunis, pastinya yang dituduh adalah orang muslim. 

Dengan dukungan Putra Mahkota Arab terhadap wilayah Xinjiang Barat yang mayoritasnya orang komunis (yang tidak percaya dengan adanya sang Pencipta) maka lebih mudah bagi mereka untuk menyiksa kaum muslim di wilayahnya dan mereka yang komunis tidak akan dikecam sebagai terorisme yang sebenarnya. Karna dukungan dari Putra Arab Saudi atau istilahnya putra dari raja islam sudah mereka dapatkan. Sehingga mudah bagi mereka untuk berkuasa di bumi Allah ini. 

Bukan hanya itu, Bahasa China bakal dimasukkan dalam Kurikulum Pendidikan Saudi. KIBLAT.NET, yang disepakati selama pertemuan Putra Mahkota Muhammad bin Salman, wakil perdana menteri, menteri pertahanan dan seorang delegasi senior China, Jum’at (22/03/2019). 

Rencana ini bertujuan untuk memperkuat persahabatan dan kerja sama antara Kerajaan Arab Saudi dan Pemerintah China untuk memperdalam kemitraan stategis di semua tingkatan. Menurut laporan Badan Pers Saudi (SPA). (m.kiblat.net/2019/02/24/bahasa-cina-bakal-dimasukkan-dalam-kurikulum-pendidikan-saudi/). 

Belajar bahasa China fungsinya sebagai jembatan antara orang-orang dari kedua Negara yang akan berkontribusi untuk mempromosikan hubungan perdagangan dan budaya. Dan kunjungan Putra Mahkota ke China untuk memperkuat kesepakatan dagang antara keduannya. Selain pembicaraan strategis diberbagai bidang. 

Apabila hubungan kerja sama islam dan orang kafir sudah melekat, maka akan semakin mudah wilayah kaum muslim itu terjajah. Salah satunya kurikulum komunis dimasukkan dalam kurikulum Negara yang mayoritas adalah ummat islam. Apalagi yang dimasukkan itu di Arab Saudi yang kental dengan aturan islam. Itulah salah-satunya impian dari orang kafir untuk menghilangkan bahasa arab, sehingga islam asing di dengar ditengah-tengah orang islam. 

Dan aturan-aturan islam akan dijauhkan dari umat islam itu sendiri. Bukan hanya demikian dari hubungan kerja sama ini akan memudahkan orang komunis keluar masuk ke Arab Saudi tanpa disadari pemikiran-pemikiran orang islam dan budaya islam akan terkontaminasi dengan pemikiran dan budaya komunis. Sehingga mudah bagi mereka untuk memecah belah ummat islam termasuk membuat propaganda jahat nantinya. 

Ini lah akibat tidak diterapkannya islam secara keseluruhan. Orang muslim terserah dia bekerja dengan siapa saja. Padahal dalam islam sudah dijelaskan tidak boleh bekerja sama dengan orang kafir yang riil memusuhi islam. Malahan justru harus menghentikan segala bentuk hubungan dengan Negara-negara kafir yang sedang memerangi umat islam. Pasalnya adanya hubungan kerjasama seperti hubungan dagang dan budaya itu, akan menghentikan jihad fi sabilillah (perang) kepada mereka. Padahal islam telah mewajibkan jihad fi sabilillah untuk melawan Negara-negara kafir yang nyata memerangi umat islam (Qs. Al-Baqarah [2]: 190 

“Dan perangilah di jalan Allah Orang-orang yang memerangi kamu,(tetapi) janaganlah kamu melampaui batas, karna sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. 

Qs al-Anfal [8]: 39). 

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah maha melihat apa yang mereka kerjakan”. 

Maka kembali lah kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dengan menegakkan khilafah ala minhajin nubuwah, mengambil islam sebagai pedoman hidup dan pengatur segala aspek kehidupan kita. Karna dalam kehidupan islam lah kita mendapatkan berkah dari langit dan bumi.[]

Penulis adalah mahasiswi UIN Imam Bonjol, Padang, 
Fakultas Syari’ah, jurusan Hukum Keluarga, semester 6

Comment