Yuk Ngaji Bu, Terus Semangat!

Opini894 Views

 

 

Oleh: Lilik Solekah, SHI, Ibu Peduli Generasi

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Rame di jagad maya, sebuah ungkapan dari seorang mantan presiden RI ke-5 tentang ibu-ibu yang doyan pergi ke acara pengajian. Megawati mengaku heran dengan banyaknya ibu-ibu yang suka pergi pengajian.

Dalam video yang tersebar luas tersebut ibu Megawati mengatakan “Saya ngeliat ibu-ibu tuh ya maaf ya, sekarang kayaknya budayanya, maaf beribu maaf Lo yah, kenapa toh seneng banget ikut pengajian? Maaf beribu-ribu maaf ya, saya sampe mikir gitu, iki pengajian ki sampai kapan toh yo, anake arep dikapakke? ” katanya saat di The Opus Grand Ballroom, Jakarta sambil terheran-heran.

Keheranan ibu Mega tersebut tempatnya pada saat kegiatan Gerakan Semesta Berencana Mencegah Stunting, Kekerasan Seksual pada Anak dan Perempuan, Kekerasan dalam Rumah Tangga, serta Mengantisipasi Bencana.
Pernyataan tersebut seolah -olah dimaksudkan bahwa anak yang stunting kurang gizi disebabkan ibunya pergi pengajian.

Pengerdilan Makna Pengajian

Maaf beribu-ribu maaf ya bu, hadir di pengajian dianggap melalaikan anak adalah tuduhan tak berdasar. Coba teliti lagi deh bu, apakah kebanyakan anak kurang kasih sayang, kurang gizi itu anaknya ibu-ibu yang suka pergi pengajian?

Selain itu, ini adalah salah satu bentuk salah paham terhadap aktivitas menuntut ilmu agama yang hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim termasuk muslimah. Dalil sebagai sandaran Hukumnya telah diriwayatkan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Ibnu Majah no. 224. yang artinya: “Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan .”

Juga hadis yang Artinya : “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat.”

Dalam hadits Nabi di atas dapat kita ketahui bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan tidak kenal batas usia dan waktu. Terlebih ilmu agama.

Sedangkan pengajian menjadi salah satu tempat alternatif untuk memahami berbagai hukum Allah secara kaffah yang dibutuhkan dalam mengarungi kehidupan, termasuk dalam mendidik anak, agar selalu dalam ridha Allah. Bahkan menuntut ilmu agama ini wajib, Karena tidak didapatkan di bangku sekolah yang kurikulumnya sekuler, maka bisa dicari di pengajian-pengajian.

Di dalam sistem pendidikan sekuler, ilmu agama dianggap tak penting sehingga hanya diberi waktu 2 jam /minggu. Apakah kita mencukupkan sampai di situ pengetahuan agama anak-anak kita? Tentu tidak. Maka Yuk ngaji Bu! semangat.!

ibu adalah pendidik paling utama bagi manusia di bumi. Kaum ibu yang ideal tidak sekedar dapat mengandung, melahirkan, namun seorang ibu harus cerdas berkualitas. Anak-anak mereka tidak cukup dijamin kebutuhan jasmaninya, namun juga kebutuhan  rohaninya. Jika ibu tidak terus menambah ilmu, mengupgrade diri secara terus menerus maka bagaimana kualitas anak-anak nya.

Contohlah ibu-ibu di masa kegemilangan Islam

Para ibu dengan ketakwaan tinggi akan memenuhi anak-anak mereka dengan cinta dan kasih sayang yang besar. Ia sempurnakan pengasuhan, mendidik dengan sabar hingga anak dewasa. Mampu mengarungi gelombang kehidupan yang menerapkan dengan berpegang teguh pada syariat Islam.

Banyak contoh di masa kejayaan Islam, ibu-ibu hebat karena ilmu agamanya mumpuni seperti Al-Khansa’ binti Amru, dijuluki sebagai ‘Ibu Para Syuhada’. Beliau merupakan contoh ibu tangguh yang berhasil menjadi madrasah bagi anak-anaknya.

Keempat anak laki-lakinya syahid di Medan perang membela negara, membela agama. Hal itu tidak lain karena ada dorongan motivasi dan semangat luar biasa dari ibunya. Bukan ibu yang hanya berusaha mati-matian agar anak cucunya bisa cantik dan ganteng agar diambil mantu orang kaya.

Ada lagi sosok ibu hebat yaitu Huma Hatun, ibu Sultan Muhammad Al-Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel. Ibunya luar biasa semangat mendidik dan memberi motivasi untuk putranya. Setelah shalat Subuh, diajarilah anaknya tersebut tentang geografi, Juga mengenalkan Muhammad Al-Fatih kecil setiap garis batas wilayah Konstantinopel.

Ia tanamkan keyakinan dan semangat dalam diri anaknya, bahwa kelak ia yang akan menaklukkan Konstantinopel, sebagaimana bisyarah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Dengan kesibukan ibu hebatnya, ia berhasil memimpin pasukan untuk menaklukkan Konstantinopel di usia belia. Itu semua butuh ilmu agama.

Maka dari itu sosok ibu tangguh tersebut bukan ibu-ibu yang tidak mau belajar, ibu yang tidak mau datang ke pengajian. Karena mendidik anak tersebut butuh ilmu.

Di sisi lain mengapa tidak menyalahkan penguasa? Karena sumber dari stunting, kurang gizi, tidak bermutunya generasi itu semua karena sistem sekuler kapitalis yang telah diterapkan. Tidak adanya distribusi pangan yang merata, tidak adanya edukasi yang baik pada masyarakat, kemiskinan terstruktur, itu semua bukan karena ibu mengaji melainkan tanggung jawab penguasanya.

Dalam Islam, mengkaji Islam secara kaffah itu bagian dari program pembinaan kepribadian setiap individu, yang terintegrasi dalam kurikulum dan kebijakan lainnya, sehingga menghasilkan individu yang beriman dan bertakwa, tinggi taraf berpikirnya, kuat kesadaran politiknya yang juga menjadi bekal bagi para ibu untuk mendidik anaknya menjadi muslim yang berkepribadian Islam serta calon pemimpin masa depan.[]

Comment