Penulis: Nur Aisyah | Mahasiswi Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Seperti disampaikan Presiden Joko Widodo pada 2019, Indonesia ditargetkan menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia pada 2045.
Narasi optimisme itu kemudian dibingkai dalam visi besar Indonesia Emas 2045, sebuah cita-cita nasional menuju negara maju, berdaulat, adil, dan makmur tepat di usia satu abad kemerdekaan.
Namun pertanyaannya, sejauh mana fondasi pendidikan Indonesia benar-benar siap menopang mimpi besar tersebut?
Pendidikan kerap disebut sebagai kunci utama Indonesia Emas. Sayangnya, dalam praktik, pendidikan masih lebih sering diposisikan sebagai slogan pembangunan ketimbang agenda transformasi yang serius.
Negara berharap lahir generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan kompetitif secara global, tetapi sistem pendidikan yang ada justru masih berkutat pada persoalan klasik – ketimpangan akses, kualitas pembelajaran yang timpang, serta orientasi pendidikan yang belum sepenuhnya membebaskan daya kritis peserta didik.
Generasi Z—yang digadang-gadang akan menjadi motor Indonesia Emas—hari ini tumbuh dalam situasi paradoks. Di satu sisi, mereka hidup di era digital dengan akses informasi yang luas.
Namun di sisi lain, sistem pendidikan masih menempatkan mereka sebagai objek hafalan, bukan subjek berpikir. Kurikulum sering berubah, tetapi substansi pembelajaran belum sepenuhnya mendorong nalar kritis, kreativitas, dan keberanian bertanya.
Pendidikan seolah lebih sibuk mengejar angka kelulusan daripada membentuk kesadaran intelektual dan moral.
Masalah lainnya adalah ketimpangan yang masih nyata. Banyak anak Indonesia belum menikmati pendidikan yang layak, terutama di daerah tertinggal.
Akses terhadap sekolah, kualitas guru, hingga sarana belajar masih jauh dari merata. Ironisnya, visi Indonesia Emas sering dibicarakan di ruang-ruang elite, sementara realitas pendidikan di akar rumput berjalan terseok-seok tanpa perhatian yang memadai.
Kualitas guru juga menjadi isu krusial. Guru dituntut adaptif, inovatif, dan melek teknologi, tetapi dukungan negara dalam bentuk pelatihan berkelanjutan dan kesejahteraan yang layak belum sepenuhnya menjawab tantangan tersebut.
Akibatnya, proses pendidikan berjalan normatif dan administratif, kehilangan ruh pembebasan dan pencerdasan.
Di titik ini, wacana “Indonesia Emas atau Indonesia Cemas” bukan lagi sekadar permainan diksi. Indonesia Emas hanya akan terwujud jika pendidikan dijadikan prioritas substansial, bukan sekadar proyek kebijakan.
Sebaliknya, Indonesia Cemas akan menjadi kenyataan jika pendidikan terus dibiarkan berjalan timpang, terjebak rutinitas, dan jauh dari kebutuhan zaman.
Karena itu, pembenahan pendidikan harus dilakukan secara serius dan menyeluruh. Peningkatan kualitas guru dan kurikulum harus diarahkan pada pembentukan manusia yang berpikir kritis, bukan sekadar patuh.
Akses pendidikan berkualitas harus dijamin untuk seluruh anak bangsa tanpa diskriminasi wilayah dan kelas sosial. Lebih dari itu, investasi pendidikan dan teknologi harus berorientasi pada pembangunan manusia, bukan hanya pencitraan pembangunan.
Indonesia Emas 2045 adalah pilihan, bukan kepastian. Pendidikan akan menjadi penentu apakah bangsa ini melangkah menuju kejayaan atau justru terjebak dalam kecemasan kolektif.
Jika pendidikan tidak segera dibenahi secara radikal dan berkeadilan, maka Indonesia Emas berisiko tinggal sebagai janji yang gagal ditepati sejarah.[]









Comment