Daun Kelor Tidak Bisa Gantikan Susu dalam Program Makan Bergizi Gratis

Nasional920 Views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA–  Guru Besar Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Prof. Tria Astika Endah Permatasari, menegaskan bahwa daun kelor tidak dapat menggantikan susu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurutnya, manfaat yang terkandung dalam susu berbeda dengan produk nabati seperti daun kelor.

Tria menjelaskan bahwa susu yang didefinisikan sebagai cairan bergizi berwarna putih yang dihasilkan mamalia wanita, memiliki kandungan Omega-3, Omega-6, dan asam oleat yang sangat penting untuk pertumbuhan, khususnya perkembangan otak anak.

“Daun kelor memiliki manfaat tinggi seperti antioksidan dan vitamin C untuk meningkatkan imunitas, tetapi tidak sebanding untuk mendukung pertumbuhan dan menambah berat badan anak,” jelasnya dalam sebuah diskusi di Rumah Wijaya, Kebayoran Jakarta Selatan, Rabu (15/1/2025).

Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyebut bahwa susu sapi dalam program MBG dapat digantikan dengan telur dan daun kelor. Namun, Tria menilai substitusi tersebut perlu ditinjau kembali karena kandungan gizi dan peran susu dalam pertumbuhan tidak dapat tergantikan sepenuhnya.

“Susu merupakan salah satu sumber gizi lengkap yang direkomendasikan, meskipun bukan satu-satunya. Kandungannya penting, baik makronutrien maupun mikronutrien,” tambah Tria.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sendiri merupakan program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Diluncurkan pada 6 Januari 2025, program ini telah berjalan di 26 provinsi dengan menyediakan makanan bergizi bagi anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Hingga saat ini, sekitar 220 dapur MBG telah beroperasi untuk memastikan distribusi makanan yang memenuhi prinsip gizi seimbang.

Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, menyarankan agar program MBG diatur melalui undang-undang untuk memastikan keinginannya, terutama jika terjadi pergantian pemerintahan.

“RUU tentang Badan Gizi Nasional atau RUU Pemenuhan Makanan Bergizi perlu dipertimbangkan agar program ini tidak hanya menjadi proyek jangka pendek,” katanya.

Dalam implementasinya, MBG menghadapi tantangan seperti kebiasaan makan anak yang belum terbiasa dengan menu seimbang. Prof Tria menyarankan adanya edukasi dan pembiasaan agar anak-anak lebih menerima makanan bergizi yang disediakan.

“Perubahan pola makan ini membutuhkan waktu, tetapi penting untuk membentuk perilaku makan yang lebih sehat di masa depan,” ujarnya.

Tria juga pentingnya menjaga sanitasi alat makan dan standar kebersihan dalam proses penyajian makanan di dapur MBG.

Ia berharap program ini terus berkembang dengan dukungan anggaran dan keterlibatan masyarakat, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan.[]

Comment