Langkah Strategis Pembebasan Palestina

Opini1182 Views

Penulis: Novita Ratnasari, S.Ak | Mentor Kelas Menulis Smart With Islam Karawang

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dukungan untuk kemerdekaan Palestina menggema di ruang sidang ke-80 Majelis Umum PBB di New York, Senin (22/9/2025). Menurut laporan IDN Times (23/9/2025), sebanyak 156 negara—termasuk Prancis, Belgia, Luksemburg, Malta, dan Andorra—menyatakan dukungan resmi bagi pengakuan negara Palestina dan implementasi solusi dua negara atas pendudukan Israel.

PBB pun secara de facto mengakui Palestina sebagai negara merdeka. Namun pengakuan de jure masih menunggu keputusan Dewan Keamanan PBB yang kerap terganjal veto Amerika Serikat.

Potret Kekerasan Israel

Respons Israel langsung meletup. Dalam video yang beredar luas, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu murka, menegaskan “tidak akan ada negara Palestina di barat Sungai Yordania” dan menuding dunia memaksakan kemerdekaan “negara teroris” di jantung tanah air Israel.

Tak lama setelah itu, serangan udara dilancarkan secara membabi buta. Al-Jazeera (23/9/2025) melaporkan Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Bursh, menyebut beberapa rumah sakit utama di Kota Gaza berhenti beroperasi akibat pengeboman dan krisis bahan bakar. Pasien, katanya, menghadapi “kematian yang pasti”.

Sejak 7 Oktober 2023, serangan Israel menewaskan sedikitnya 65.382 jiwa—80 persen di antaranya perempuan dan anak-anak—serta melukai lebih dari 166.000 orang. Tenaga kesehatan dan jurnalis ikut menjadi korban. Ribuan lainnya tertimbun reruntuhan, sementara ratusan warga ditawan.

Hasbara dan Perang Opini

Di balik agresi militer, Israel juga menggerakkan hasbara—kampanye propaganda global. Beberapa laporan investigatif mengungkap kontrak Google senilai sekitar USD45 juta (sekitar Rp2,3 triliun) dengan pemerintah Israel untuk menyebarkan narasi pro-Israel dan mendiskreditkan Hamas maupun Palestina. Tujuannya jelas: memoles citra Israel dan memecah opini publik.

Namun dukungan internasional pada Palestina justru menguat. Sejumlah negara Eropa, yang selama ini menjadi mitra strategis Israel, kini berani menentang. London bahkan mengibarkan bendera Palestina untuk pertama kalinya pada 22 September lalu, menandai semakin sempitnya ruang propaganda Israel di Eropa.

Gelombang Boikot

Di ranah ekonomi dan budaya, boikot terhadap Israel meluas. Media hiburan Hollywood mencatat lebih dari 4.000 pekerja film—dari aktor hingga kru—menandatangani ikrar pemboikotan. Boikot yang konsisten berpotensi mengguncang perekonomian Israel.

Namun konsistensi menjadi tantangan: banyak konsumen hanya “musiman”—getol memboikot saat isu memanas, tetapi kembali membeli ketika tergoda promosi. Boikot pun kerap menjadi “politik lipstik”: gagah di wacana, lemah di praktik.

Menelusuri Akar Masalah

Konflik Palestina–Israel bukan sekadar perebutan wilayah. Kekuatan militer Gaza bergantung pada Hamas, yang pada dasarnya milisi sipil, berhadapan dengan militer Israel (IDF) yang lengkap, profesional, dan mendapat suplai senjata dari sekutu—terutama Amerika Serikat yang telah menggelontorkan ratusan triliun rupiah untuk mendukung operasi militer Israel.

Sejarawan hubungan internasional Prof. Abdul Fatah Al-Uwaisi dalam bukunya Planning Strategi Pembebasan Masjidil Aqsa menyebut Israel bukan negara biasa, melainkan “proyek kolonial strategis Barat” untuk mempertahankan dominasi di jantung dunia Islam. Sejak Konferensi London 1907, Barat memandang Palestina sebagai lokasi kunci untuk menahan kebangkitan umat Islam.

Jalan Strategis

Dengan latar demikian, solusi dua negara tampak kian utopis. Pembebasan Palestina menuntut persatuan global yang nyata, bukan sekadar retorika. Presiden Kolombia Gustavo Petro, dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, bahkan mengusulkan pembentukan kekuatan militer internasional untuk menekan Israel—gagasan yang menggugah tetapi butuh komitmen politik luar biasa.

Langkah jangka pendek yang lebih realistis dapat dimulai dengan:

1. Memberi ultimatum dan menghentikan keanggotaan Israel di PBB bila genosida berlanjut.

2. Memutus hubungan diplomatik negara-negara anggota PBB dengan Israel.

3. Memberlakukan embargo total—darat, laut, dan udara—terhadap Israel.

Langkah jangka panjang mensyaratkan persatuan dunia Islam yang melampaui kepentingan nasional dan ekonomi. Sejarah mencatat, ketika umat Islam bersatu dalam satu kepemimpinan dan satu visi, kekuatan kolonial mampu dilawan.

Penutup

Al-Qur’an telah mengingatkan, “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (QS Al-Maidah: 82).

Membebaskan Palestina bukan hanya soal politik internasional, melainkan juga kesadaran kolektif untuk menegakkan keadilan sejati. Tanpa itu, pengakuan kemerdekaan hanya akan tinggal deklarasi tanpa daya.[]

Comment