Petani Muria Raya Bahas Smart Farming dan Kemitraan Pasar dalam Diskusi Santai di Kudus

Jawa Tengah249 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, KUDUS — Komunitas petani yang tergabung dalam Fakultas Organik Muria Raya menggelar diskusi informal bertajuk “ngopi bareng” di Hotel @HOM Kudus, Ahad (23/2), usai acara buka puasa bersama.

Pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk membahas strategi penguatan sektor pertanian berbasis teknologi dan kemitraan pasar.

Dalam suasana santai, para peserta mendiskusikan peluang budidaya komoditas yang dinilai mampu memberikan keuntungan berkelanjutan bagi petani.

Fokus pembahasan mencakup pemanfaatan jejaring sosial antarpetani, penerapan smart farming, penggunaan teknologi tepat guna, hingga pentingnya produksi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Sejumlah peserta menilai pertanian ke depan tidak lagi cukup mengandalkan pola tanam dan panen konvensional. “Harus berbasis data, jaringan, dan kolaborasi,” ujar salah satu peserta diskusi.

Komunitas ini terbiasa menggelar forum diskusi di berbagai tempat, mulai dari kebun hingga ruang pertemuan berpendingin udara. Menurut mereka, ruang diskusi yang nyaman membantu peserta lebih fokus merumuskan strategi.

Dalam pertemuan itu hadir sejumlah pegiat pertanian lintas generasi. Salah satunya Mbah Jo, aktivis senior Himpunan Mahasiswa Islam angkatan 1987 yang kini mengelola lahan jagung sekitar dua hektar.

Hadir pula Unggul, alumnus Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus yang mengembangkan budidaya melon greenhouse di Karangmalang dan memimpin perusahaan pertanian Agreejaya.

Dalam diskusi terungkap sejumlah peluang kemitraan. Untuk komoditas hortikultura, perusahaan membutuhkan pasokan melon hingga 40 ton untuk pasar ekspor, sementara kapasitas produksi internal belum mencukupi. Kemitraan budidaya ditawarkan dengan pendampingan teknis. Selain itu, terdapat permintaan sekitar lima ton daun singkong mentega.

Komoditas ini dipanen pada bagian daun, bukan umbi, dengan masa panen sekitar dua bulan dan potensi panen berulang. Skema kemitraan juga dibuka bagi petani yang memiliki lahan kosong.
Dari sektor tanaman pangan, kebutuhan jagung pipil untuk industri pakan disebut mencapai ratusan ton per bulan.

Jagung dengan kadar air sekitar 35 persen disebut dapat diserap di kisaran Rp3.500 per kilogram, sedangkan jagung kering dengan kadar air sekitar 15 persen di atas Rp5.000 per kilogram. Permintaan bersifat rutin dan berkelanjutan.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, perusahaan membuka peluang kemitraan budidaya jagung dalam skala luas. Program ini dinilai potensial karena memiliki pasar yang jelas, daya serap besar, dan dapat melibatkan petani kecil hingga kelompok tani skala korporasi.

Diskusi menyimpulkan bahwa peluang pasar pertanian terbuka lebar, tetapi membutuhkan manajemen modern, produksi terukur, dan kolaborasi yang kuat. Para peserta sepakat bahwa peningkatan kapasitas dan jaringan menjadi kunci agar petani mampu bersaing dan naik kelas.

Forum ini direncanakan menjadi agenda rutin sebagai ruang bertukar gagasan sekaligus memperkuat jejaring petani di wilayah Muria Raya.[]

Comment