Farid Nurdin: Tahun Politik 2019 Islam Semakin Cantik

Berita777 Views
Farid Nurdin
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Indonesia memiliki wilayah geografis yang sangat luas dan terdiri dari beberapa suku, budaya, Bahasa, dan juga agama. Bahkan adanya slogan “Bhinneka Tunggal Ika” untuk merangkul keberagaman yang terdapat di negeri Indonesia ini. 

Keberagaman ini bagi masyarakat luar sangat dianggap unik dan menakjubkan. Karena dari banyaknya perbedaan, masyarakat Indonesia tetap hidup berdampingan, aman, nyaman, dan tentram. Keberagaman seakan-akan menjadi hal yang saling melengkapi dalam aspek nasionalisme seseorang dalam bersosial. Mereka tetap saling menghormati di atas perbedaan-perbedaan yang terjadi. 
Namun kenyataannya, menjelang pemilihan presiden 2019, keberagaman tersebut tidak lagi ditonjolkan. Dalam bidang politik yang lebih sering didengar dan diketahui kabar beritanya ialah Islam. Pada saat menjelang pemilihan presiden, Islam layaknya barang antik yang sering diperebutkan. Tak heran mengapa Islam diperebutkan, karena mayoritas penduduk Indonesia saat ini beragama Islam. Dari data yang tercatat, hampir 87% masyarakat Indonesia memeluk agama Islam. Oleh karena itu tidak heran mengapa sering bermunculan pasangan calon yang tiba-tiba mendekati Islam dari berbagai aspek, mulai dari individu, organisasi, hingga dalam acara-acara tertentu. 
Kaitan antara Islam dan politik di Indonesia menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan. Terlepas dari peran atau nilai yang dikandungnya, Islam seakan hanya kedok untuk mendulang suara. Seperti yang kita ketahui, calon-calon yang akan maju dalam pemilihan presiden sibuk dengan kegiatan-kegiatan yang isinya berkaitan dengan Islam.

Memang pada kenyataannya seseorang tidak bisa menebak niatan seseorang lainnya dalam melakukan sesuatu hal, namun jika dilakukan oleh pasangan calon presiden ataupun wakil presiden yang saat ini, menjelang pemilihan presiden, maka tak menutup kemungkinan adanya dugaan untuk mendulang suara dari umat Islam di Indonesia ini benar adanya. 

Dimulai dari dipilihnya Ketua MUI, K.H Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden yang dianggap kontroversial. Bahkan dirinya sendiri setelah dideklarasikan sebagai calon wakil presiden mengatakan tak menduga bahwa beliau dipilih menjadi calon wakil presiden.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan mengatakan bahwa dipilihnya K.H. Ma’ruf Amin sebagai keputusan yang baik dengan konsep religius dan nasionalisme yang diusungnya. Sedangkan menurut Wasekjen PAN, Erwin Izharuddin, terpilihnya K.H. Ma’ruf Amin sebagai sebuah jebakan yang pada saat itu partai oposisi sedang gencar-gencarnya mengkaitkan calon presiden dan wakil presiden dengan ulama. 

Selain itu, setelah semua mengetahui pasangan dan nomor urut masing-masing, kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan Islam masih terus dilakukan. Seperti apa yang dilakukan oleh Prabowo selaku calon presiden dan juga Sandiaga Uno selaku calon wakil presiden yang menghadiri kegiatan haul ataupun maulid di berbagai tempat. Meskipun diri mereka masing-masing mengatakan tak ingin berkampanye pada tempat dan acara tersebut, namun sejatinya dengan kehadirannya saja sudah memiliki kepentingan lain di atas kepentingan acara tersebut yang sesungguhnya. 
Terakhir, yang sedang ramai diperbincangkan yaitu pembebasan Abu Bakar Ba’asyir. Pada satu sisi calon presiden nomor urut 1 mengatakan bahwa pembebasan tersebut berasaskan kemanusiaan. Namun kenyataanya pembebasan tersebut urung terjadi karena ada beberapa pihak yang tidak menyetujuinya.

Anehnya setelah itu muncul sebuah komentar calon presiden, Joko Widodo yang mengatakan bahwa pembatalan pembebasan tersebut didasari oleh hukum yang telah berlaku. Hal ini bertolak belakang dengan sebelum dan sesudah terjadinya sebuah keputusan tersebut. Tidak mungkin terdapat dua alasan berbeda yang bertolak belakang dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan hukum. Setelah kejadian itu, masyarakat pun menilai bahwa adanya iming-iming pembebasan tersebut hanyalah sebuah tindakan yang ingin mendongkrak elektabilitas pasangan calon tersebut. 

Dari ketiga kejadian tersebut, maka tidak heran adanya dugaan di masyarakat Indonesia bahwa kegiatan-kegiatan tersebut hanyalah untuk menaikkan elektabilitasnya pada masa-masa menjelang pemilihan presiden tersebut. Karena jika saja satu dari pasangan calon tersebut sudah mendapat dukungan dari umat Islam, tidak menutup kemungkinan pasangan tersebut akan melonjak drastis elektabilitas dukungan yang dimilikinya.

Hal ini dikarenakan umat Islam di Indonesia sebagai masyarakat mayoritas yang dalam artian jika telah menguasai suara umat Islam maka mereka telah mengantongi suara mayoritas umat Islam walau tidak mutlak semua umat Islam akan sependapat dengannya. Islam menjadi begitu cantik memikat semua peserta pilpres 2019 ini.

Namun tidak cukup sampai pembahasan terkait Islam, Indonesia adalah negara dengan keberagaman yang sangat tinggi. Maka tidak cukup jika dalam pemilihian presiden ini, hanya aspek Islam yang sering ditonjolkan. Banyaknya agama, suku, dan budaya harus tetap dirangkul dan diperhatikan tanpa terkecuali. Sebab konteks yang saat ini dibicarakan adalah pemilihan presiden yang nantinya akan memimpin sebuah negara, bukan hanya golongan-golongan tertentu.

Semua aspek tersebut harus disamaratakan agar tidak ada suara sumbang yang mengatakan bahwa Indonesia bukan hanya umat Islam di dalamnya, melainkan agama-agama lain hendaknya tetap mendapat perhatian yang proporsional.[]

Penulis adalah mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Fakultas Ilmu Sosial, Jurusan Penyiaran Islam, Semester V

Comment