by

Sri Nurhayati, S.Pd.I*: Nasib Petani Semakin Miris di Tangan Kapitalis

Sri Nurhayati, S.Pd.I
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Indonesia negeri yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Letaknya yang ada pada jalur khatulistiwa menjadikan Indonesia termasuk pada daerah tropis yang memiliki curah hujan yang cukup tinggi. Sehingga berbagai jenis tumbuhan bisa tumbuh dan hidup dengan cepat di negeri ini. Tak heran Indonesia dikenal sebagai negera agraris dan penduduknya sebagian besar menjadi petani. 
Dari hasil pertanian, perkebunan atau dari bercocok tanam ini telah menghasilkan berbagai jenis tumbuhan seperti dalan bidang pertanian Indonesia menghasilkan padi, jagung, kedelai, sayur-sayuran, berbagai jenis cabai, umbi-umbian. Adapun hasil perkebunan menghasilkan, tembakau, kapas, kopi, teh, karet, kelapa sawit, dan tebu. Bahkan sejarah telah mencatat pada decade 1980an, Indonesia pernah mengalami masa swasembada pangan, khususnya dalam komonidas padi. 
Hasil pertanian dan perkebunan yang berlimpah semestinya menjadi kekuatan bagi kita untuk membawa para petani menikmati hasil jerih payahnya dalam bercocok tanam dengan mendapatkan harga jual yang sepadan dengan kerja keras mereka. 
Namun seiring berjalannya waktu, hasil pertanian dan perkebunan kita tidak lagi membawa kebahagian bagi para petani. Tetapi justru kekecewaan yang mereka dapat. Hal ini karena anjloknya harga hasil pertanian mereka, sehingga membuat mereka mengalami kerugian yang tak sedikit. Seperti harga cabai yang anjlok dari harga Rp.12.000/kg menjadi Rp.7000/Kg.  
Selain itu cabai, harga kentang sama. Hal ini mendorong petani Kayu Aro membuang kentang dan sayuran kol hasil panen mereka dibuang ke jalan pada sabtu 26 Januari 2019, sebagai aksi kekecewaan mereka.
Indonesia sebagai negeri agraris, sudah selayaknya memeliki ketahan pangan yang baik. Serta haruslah mampu menjaga keberlangsungan para petani yang menggantungan kehidupan mereka di bidang pertanian atau perkebunan.
Namun, permasalahan senantiasa menghampiri para petanu kita. Selain harus menelan pahit karena anjloknya harga hasil panen mereka. Serangan impor pun menjadikan para petani harus menelan kepahitan yang sama. Seperti pada beras, misalnya selama tahun 2018 sebanyak 2 juta ton telah diimpor dari Vietnam dan Thailand. Hal sama pun terjadi pada jagubg, sebanyak 100 ribu ton telah diimpor oleh pemerintah. Padahal berdasarkan data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) Kementan, produksi jagung tahun 2018 diperkirakan mencapai 30 juta ton pipilan kering (PK). Padahal berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, kebutuhan jagung tahun 2018 diperkirakan sebesar 15,5 juta ton PK. Ini masih surplus 12,98 juta ton PK. 
Hal ini juga tidak berbeda jauh dengan komoditas gula. Bahkan yang menyedihkan alasan dari adanya impor gula ini. Menteri Perdagangan menilai gula lokal kualitasnya rendah, dengan mengatakan bahwa dodol Garut cepat berjamur atau bulukan karena menggunakan gula lokal. Padahal menurut pengusaha dodol Garut yang legendaries, justru gula lokal kualitasnya lebih bagus dari gula impor. Gula lokal mampu membuat dodol bisa bertahan lama tanpa memakai bahan pengawet tambahan. Berbeda dengan gula impor yang hanya bertahan sebentar. 
Para Petani Menangis Karena Para Kapitalis
Manis dan indahnya ketika apa yang menjadi kebutuhan pokok kita bisa terpenuhi dengan baik serta dapat memperolehnya dengan mudah, menjadikan kehidupan kita bahagia. Itu yang pastinya diinginkan oleh masyarakat. Terpenuhinya kebutuhan mereka dengan hasil dari negeri mereka sendiri. Seperti slogan yang selalu digemborkan ‘cintai produk Indonesia’. Tapi slogan ini hanya slogan semata, karena bagaimana kita mencintai produk kita, sedangkan produk yang ada terbatas dan banyak yang beredar di tengah-tengah kita banyak dari impor. Padahal negeri ini mampu untuk menghasilkan seperti yang diimpor itu.
Namun sayangnya, Indonesia saat ini ada dalam pusaran kekuatan ekonomi kapitalis, yang sudah sangat jelas tidak pernah memihak kepada kelompok kecil (petani/masyarakat). Mereka para kapitalis sebagai pemilik modal selalu menjadikan mereka kekuatan utama dalam orientasi ekonomi yang ada. Sehingga hal ini menjadikan sektor pertanian Indonesia tak lepas juga dari cengkraman sistem kapitalis yang menjadikan pertanian tidak memiliki kekuatan dari aspek produksi, pengolahan dan pemasaran.
Hal ini bisa dilihat dari peningkatan produksi dan produktivitas mereka yang tinggi serta adanya impor yang tinggi dapat menyebabkan pasar domestik (hasil lokal) menjadi lebih murah sehingga petani mengalami kerugian. 
Terbukanya impor, menurut Faisal Basri, ekonom senior INDEF, terkait impor gula , beliau mengatakan bahwa hal ini seharusnya bisa dihentikan dengan peningkatan produksi gula rafinasi di dalam negeri. Namun, Pemerintah secara sengaja menghambat peningkatan produksi ini. Justru yang terjadi, gula rafinasi ini stempel untuk berburu rente. Serta menikmati selisih yang sangat besar antara gula Indonesia da gula dunia. 
Menurut pernyataan Faisal Basri tersebut, sesunggugnya menunjukkan kepada kita, bahwa pemburuan rente inilah yang menjadi motif di balik adanya impor yang terus berlanjut tanpa henti. Hal inilah salah satu jalan menjadikan para importir yang memilik modal besar (kapitalis) mendapatkan keuntungan dari adanya impor ini dan membuat petani kita semakin miris dan menangis. 
Semua itu hanya gambaran kecil dari kondisi petani negeri ini dalam sistem kapitalis yang tidak pernah memberikan rasa manis bagi mereka. Jika kondisi ini terus dibiarkan sepuluh tahun ke depan anak cucu kita tidak akan merasakan hasil pertanian negeri sendiri karena kalah dengan barang impor.
Islam dan Senyum Manis Petani.
Hilangnya senyum manis petani saat panen, tak lepas akibat dari diterapkannya sistem kapitalis yang sudah lama membuat rakyat ini teriris. Berbagai masalah harus dirasakan oleh rakyat negeri ini, salah satunya dalam masalah pangan. Melejitnya harga pangan dan tidak meratanya penyebaran stok pangan ini, membuat kondisi negeri ini tak lepas dari krisis yang membuat miris dan ironis.
Krisis pangan  dan anjloknya harga hasil panen yang sering terjadi di negeri agraris ini, pastilah membutuhkan solusi agar negeri ini bisa terlepas dari semua kondisi yang miris ini. Solusi ini tentunya harus mampu mengatasi berbagai permasalahan yang muncul di negeri ini.
Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada nabi Muhammad SAW yang memiliki aturan hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan dirinya. Islam tak hanya mengatur masalah ibadah mahdoh saja yang bagian dari hubungan manusia dengan Tuhannya. Tapi Islam juga memiliki aturan dalam menyelesaikan permasalahan krisis pangan ini, yang masuk pada hubungan manusia dengan sesama manusia. 
Aturan Islam yang diterapkan oleh Negara akan mencegah terjadinya kerusakan dan krisis. Termasuk dalam masalah pertanian. Aturan Islam dalam masalah pertanian ditujukan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat di bidang pertanian. Negara akan menentukan kebijakan-kebijakan yang lahir dari aturan Islam dalam bidang pertanian mencakup sektor produksi primer, pengelolaan hasil pertanian maupun perdagangan dan jasa pertanian. Termasuk dalam menjaga kestabilan harga agar tidak merugikan petani.
Dalam artikel yang ditulis oleh Abu Muhtadi, Islam yang diterapkan dalam bingkai Khilafah akan menjaga kestabilan harga dengan dua cara: 
Pertama: menghilangkan distorsi mekanisme pasar syariah yang sehat seperti penimbunan, intervensi harga, dsb. Islam tidak membenarkan penimbunan dengan menahan stok agar harganya naik. Abu Umamah al-Bahili berkata: “Rasulullah SAW melarang penimbunan makanan” (HR al-Hakim dan al-Baihaqi). Jika pedagang, importir atau siapapun menimbun, ia dipaksa untuk mengeluarkan barang dan memasukkannya ke pasar. Jika efeknya besar, maka pelakunya juga bisa dijatuhi sanksi tambahan sesuai dengan kebijakan khalifah dengan mempertimbangkan dampak dari kejahatan yang dilakukannya. 
Di samping itu Islam tidak membenarkan adanya intervensi terhadap harga. Rasul bersabda: “Siapa saja yang melakukan intervensi pada sesuatu dari harga-harga kaum Muslimin untuk menaikkan harga atas mereka, maka adalah hak bagi Allah untuk mendudukkannya dengan tempat duduk dari api pada Hari Kiamat kelak. (HR Ahmad, al-Hakim, al-Baihaqi). Adanya asosiasi importir, pedagang, dan lainnya, jika itu menghasilkan kesepakatan harga, maka itu termasuk intervensi dan dilarang. 
Kedua: menjaga keseimbangan supply dan demand.
Jika terjadi ketidakseimbangan supply dan demand (harga naik/turun drastis), negara melalui lembaga pengendali seperti Bulog, segera menyeimbangkannya dengan mendatangkan barang baik dari daerah lain. Inilah yang dilakukan Umar Ibnu al-Khatab ketika di Madinah terjadi musim paceklik.  Apabila pasokan dari daerah lain juga tidak mencukupi maka bisa diselesaikan dengan kebijakan impor. Impor hukumnya mubah. Ia masuk dalam keumuman kebolehan melakukan aktivitas jual beli. 
Allah SWT berfirman: “Allah membolehkan jual beli dan mengharamkan riba (TQS Al-Baqarah: 275). Ayat ini umum, menyangkut perdagangan dalam negeri dan luar negeri. Karenanya, impor bisa cepat dilakukan tanpa harus dikungkung dengan persoalan kuota. Di samping itu, semua warga negara diperbolehkan melakukan impor dan ekspor (kecuali komoditas yang dilarang karena kemaslahatan umat dan negara). Perajin tempe secara individu atau berkelompok bisa langsung mengimpor kedelai. Dengan begitu, tidak akan terjadi kartel importir. 
Dari penjelasan diatas menunjukan bahwa untuk mengembalikan senyum manis petani saat panen tiba tidak bisa lepas dari peran Negara yang di dalamnya melibatkan penguasa. Oleh karena itu, aturan Islam ini tidak bisa berjalan tanpa adanya penerapan oleh sebuah Negara. Namun Negara ini bukan Negara sembarang. 
Tetapi dia haruslah Negara yang telah diwariskan oleh Rasulullah SAW dan Khulafa ar Rasyid untuk kita kaum muslimin. Dialah Khilafah, yang sesuai janji Allah dan RasulNya akan segera tegak kembali. Dialah yang akan menerapkan Islam secara menyeluruh, sehingga kesejahteraan dan keberkahan negeri ini akan terwujud. Wallahu’alam bi ash-showab.[]
*Pengisi Keputrian SMAT Krida Nusantara
Footnote:
https://ekonomi.kompas.com/read/2017/02/19/163912926/negara.agraris.mengapa.harga.pangan.di.indonesia.rawan.bergejolak,  m.jatimnow.com,  tribun.kaltim.com, Finance.detik.com,3/11/2018,Industry.co.id,14/1/2019), web.facebook.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + eleven =

Rekomendasi Berita