Carut-Marut Pendidikan Kapitalis, Islam Sistem Pendidikan Terbaik

Berita85 Views

Penulis: Norma Yunita | Pemerhati Sosial

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dunia pendidikan hari ini tidak dalam kondisi baik-baik saja. Seperti diberitakan Balikpapan TV (2025), angka anak putus sekolah (APS) di Kota Balikpapan mencapai sekitar 1.000 siswa, dengan kasus terbanyak terjadi di wilayah Balikpapan Utara.

Meskipun pemerintah telah menerapkan kebijakan sekolah negeri gratis di berbagai wilayah, realitas menunjukkan bahwa persoalan pendidikan masih sangat kompleks.

Kondisi ini mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan melakukan penelusuran data secara langsung by name by address dengan melibatkan kelurahan setempat.

Langkah ini diharapkan mampu menekan angka putus sekolah sekaligus mengungkap faktor-faktor penyebabnya.
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa faktor ekonomi bukan satu-satunya penyebab.

Pemerintah beranggapan fasilitas pendidikan negeri telah digratiskan, sehingga biaya bukan faktor dominan. Ditemukan pula banyak siswa yang berpindah sekolah tanpa mengurus administrasi kependudukan.

Ironisnya, kasus yang paling dominan justru terkait pernikahan dini. Data menunjukkan ratusan siswa menikah pada usia muda, sebagian dipicu oleh kehamilan di luar pernikahan. Selain itu, terdapat pula faktor rendahnya minat siswa untuk melanjutkan pendidikan.

Fakta-fakta tersebut memperlihatkan bahwa sistem pendidikan tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan erat dengan sistem sosial, ekonomi, bahkan budaya masyarakat.

Maraknya pernikahan dini akibat pergaulan bebas menunjukkan adanya persoalan serius dalam pembentukan karakter generasi. Sebaliknya, kualitas pendidikan juga sangat menentukan kondisi sosial masyarakat.

Dengan demikian, persoalan anak putus sekolah tidak cukup dipahami sebagai rendahnya minat belajar semata. Akar masalahnya lebih kompleks, mencakup budaya pergaulan bebas yang berujung pada kehamilan di luar nikah, serta tekanan ekonomi yang mendorong anak bekerja membantu keluarga.

Yang paling memprihatinkan adalah maraknya pergaulan bebas yang berujung pada pernikahan dini. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kualitas generasi yang akan lahir dan keberlangsungan kehidupan keluarga ke depan. Padahal, kualitas generasi sangat menentukan masa depan bangsa.

Karena itu, kebutuhan akan sistem yang sahih dan menyeluruh menjadi sangat mendesak. Pembenahan tidak cukup hanya pada sektor pendidikan, tetapi juga harus mencakup sistem sosial dan ekonomi secara terpadu.

Dalam perspektif Islam, sistem pendidikan memiliki fondasi yang jelas dan komprehensif. Islam menawarkan sistem yang tidak hanya mengatur aspek intelektual, tetapi juga spiritual dan moral. Tujuannya adalah membentuk generasi yang berilmu, berkarakter, dan berakhlak mulia.

Rasulullah SAW bersabda: “Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslim” (Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim) (HR. Ibnu Majah No. 224). Hadis ini menegaskan bahwa pendidikan merupakan kewajiban universal, tanpa memandang usia, jenis kelamin, maupun status sosial.

Dalam Islam, negara berkewajiban menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Hal ini sejalan dengan tanggung jawab pemimpin sebagai pelayan rakyat, sebagaimana ungkapan “Sayyidul qaumi khadimuhum” (pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka). Negara juga wajib menjamin kesejahteraan rakyat agar tidak ada hambatan ekonomi dalam mengakses pendidikan.

Sejarah mencatat, pada masa Kekhalifahan Abbasiyah (750–1258 M), dunia pendidikan Islam mencapai puncak kejayaannya. Salah satu simbolnya adalah berdirinya Baitul Hikmah di Baghdad, sebuah pusat penelitian dan penerjemahan yang menjadi rujukan dunia.

Di lembaga ini, para ilmuwan, filsuf, dan penerjemah mengembangkan berbagai disiplin ilmu, mulai dari matematika, astronomi, kedokteran hingga filsafat. Baitul Hikmah dilengkapi dengan perpustakaan besar dan fasilitas penelitian, serta menjadi pusat penyebaran ilmu pengetahuan ke Eropa pada abad pertengahan.

Dari sistem pendidikan yang kuat inilah lahir generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan berakhlak. Hal ini menunjukkan bahwa sistem yang baik akan melahirkan peradaban yang maju.

Pada akhirnya, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas generasinya. Islam menempatkan pendidikan sebagai kunci utama dalam meningkatkan kualitas umat dan membangun peradaban.

Dengan sistem yang sahih dan terintegrasi, generasi cemerlang bukan sekadar harapan, melainkan keniscayaan. Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment