RADARINDONESIANEWS. COM, NEW YORK — Imam dan cendekiawan Muslim Indonesia di New York City, Shamsi Ali, menilai ketidakhadiran Wali kota Zohran Mamdani dalam Pawai Tahunan Israel tidak dapat dimaknai sebagai sikap antisemit atau kebencian terhadap komunitas Yahudi.
Menurut Shamsi, keputusan tersebut lebih merupakan sikap politik dan moral yang dilandasi pandangan kemanusiaan terkait konflik Palestina-Israel.
“New York adalah rumah bersama bagi semua etnis, agama, dan budaya. Karena itu, setiap komunitas memiliki hak untuk mengekspresikan identitas dan aspirasinya, termasuk melalui parade tahunan,” ujar Shamsi dalam keterangannya di New York, Jumat (29/5/2026).
Ia mengatakan parade telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat New York. Shamsi mengaku memahami makna simbolik sebuah parade karena pernah memimpin International Muslim Day Parade di kota tersebut.
Menurut dia, keputusan Mamdani tidak menghadiri parade Israel tahun ini dipengaruhi sikap politiknya yang sejak awal mendukung hak-hak Palestina dan menolak Zionisme yang dipandang sebagai ideologi penjajahan.
“Yang ditolak Mamdani bukan agama Yahudi, melainkan dukungan terhadap praktik penjajahan dan kekerasan yang menurut pandangannya masih dilakukan negara Zionis Israel terhadap Palestina,” kata Shamsi.
Keputusan tersebut memicu kontroversi di tengah masyarakat New York. Sejumlah kelompok Yahudi pro-Israel mengkritik langkah Mamdani dan menilai ketidakhadirannya sebagai bentuk diskriminasi. Demonstrasi bahkan sempat berlangsung di depan Gracie Mansion, kediaman resmi wali kota.
Namun demikian, Shamsi menilai kritik tersebut tidak sepenuhnya tepat. Ia menegaskan Mamdani tetap menjamin keamanan pelaksanaan parade dan tetap memberikan ruang penghormatan bagi komunitas Yahudi di New York.
“Sikap Wali kota Zohran Mamdani tidak bisa dipahami sebagai tindakan anti-Yahudi atau antisemit. Ia justru tetap menjamin keamanan penuh pelaksanaan parade dan terus membuka ruang penghormatan terhadap komunitas Yahudi di New York,” ujarnya.
Shamsi menambahkan, pemerintahan Mamdani juga tetap menggelar perayaan hari besar Yahudi serta meningkatkan dukungan terhadap program penanggulangan antisemitisme.
Karena itu, lanjut Shamsi, absennya Mamdani dinilai lebih tepat dipahami sebagai bentuk konsistensi terhadap janji politik dan keyakinan moralnya.
“Dalam situasi politik seperti ini, saya melihat Mamdani sedang berusaha menjaga konsistensi antara janji kampanye, nurani kemanusiaan, dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin kota,” katanya.
Ia mengakui posisi Mamdani tidak mudah. Selain memimpin kota dengan komunitas Yahudi terbesar di luar Tel Aviv, Mamdani juga merupakan seorang Muslim yang setiap langkah politiknya akan mendapat sorotan luas.
“Tidak mudah menjadi seorang Muslim yang memimpin kota dengan komunitas Yahudi terbesar di luar Tel Aviv. Karena itu, setiap keputusan beliau pasti akan mendapat sorotan besar dan mudah dipolitisasi,” ujar Shamsi.
Meski demikian, Shamsi menilai Mamdani tetap berusaha menjalankan tugasnya sebagai wali kota bagi seluruh warga New York tanpa meninggalkan prinsip yang diyakininya.
“Saya pribadi memandang langkah Mamdani sebagai bentuk keberanian moral. Ia tetap hadir sebagai wali kota bagi seluruh warga New York, tetapi pada saat yang sama tidak ingin kompromi terhadap isu yang ia yakini sebagai persoalan kemanusiaan,” tuturnya.[]









Comment