Dr. Imam Shamsi Ali, Lc, M.A, PhD: Rasisme Masih Menjadi Tantangan Besar Amerika

RADARINDONESIANEWS.COM, NEW YORK — Direktur Jamaica Muslim Center New York sekaligus Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali, menilai rasisme masih menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Amerika Serikat hingga saat ini. Menurut dia, persoalan tersebut bukan fenomena baru, melainkan bagian dari sejarah panjang bangsa Amerika yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Pandangan itu disampaikan Imam Shamsi Ali dalam refleksinya memperingati Juneteenth, hari yang dikenang sebagai simbol berakhirnya perbudakan di Amerika Serikat, Jumat (19/6/2026).

Ia menyoroti adanya paradoks dalam kehidupan berbangsa di Amerika. Di satu sisi, Amerika dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai hak asasi manusia, keadilan, dan kesetaraan. Namun di sisi lain, berbagai bentuk diskriminasi terhadap kelompok minoritas masih kerap terjadi.

Menurut Imam Shamsi Ali, kebijakan terhadap imigran, terutama yang menyasar komunitas Hispanik dan kelompok non-kulit putih, serta pembatasan terhadap suara-suara yang mendukung Palestina di sejumlah kampus, menjadi bagian dari realitas yang menunjukkan masih kuatnya persoalan diskriminasi di negeri tersebut.

Sebagai bagian dari komunitas minoritas yang telah puluhan tahun tinggal di Amerika Serikat, Imam Shamsi Ali mengaku tidak terkejut dengan kondisi tersebut. Meski demikian, ia tetap meyakini bahwa nilai-nilai konstitusi Amerika dan prinsip-prinsip universal tentang keadilan merupakan fondasi yang harus terus dijaga.

“Rasisme bukan fenomena baru, melainkan persoalan yang telah ada sejak awal sejarah Amerika,” kata Imam Shamsi Ali.

Ia menjelaskan, sejarah Amerika tidak bisa dilepaskan dari pengalaman masyarakat asli atau Native American yang mengalami peminggiran setelah kedatangan bangsa Eropa. Selain itu, sejarah perbudakan terhadap warga keturunan Afrika juga meninggalkan jejak panjang yang dampaknya masih terasa hingga kini.

Menurut dia, berbagai kelompok minoritas lain, termasuk warga keturunan Jepang, komunitas Asia, Hispanik, dan Muslim, juga pernah mengalami perlakuan diskriminatif dalam berbagai bentuk.

Imam Shamsi Ali menilai perkembangan politik beberapa tahun terakhir turut memunculkan kekhawatiran akan menguatnya sentimen rasial dan identitas.

Dalam pandangannya, sebagian kelompok yang mengusung supremasi kulit putih maupun nasionalisme ekstrem menjadi lebih berani mengekspresikan pandangan mereka secara terbuka.

Ia juga mengingatkan bahwa Islamofobia bukanlah fenomena baru yang muncul setelah tragedi 11 September 2001. Sikap negatif terhadap umat Islam, kata dia, telah ada jauh sebelumnya dan masih menjadi tantangan hingga saat ini.

Dalam momentum Juneteenth, Imam Shamsi Ali mengajak seluruh warga Amerika untuk menjadikan peringatan tersebut sebagai pengingat pentingnya memperjuangkan keadilan dan kesetaraan bagi semua warga negara.

“Melawan rasisme dan ketidakadilan adalah tanggung jawab seluruh warga Amerika,” ujarnya.

Menurut dia, upaya menghapus diskriminasi tidak bisa hanya dibebankan kepada kelompok yang menjadi korban. Seluruh elemen masyarakat, termasuk para pemimpin politik, memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional untuk memastikan nilai-nilai keadilan ditegakkan.

Meski mengakui tantangan yang dihadapi tidak ringan, Imam Shamsi Ali tetap optimistis terhadap masa depan Amerika Serikat.

“Saya tetap percaya Amerika dapat menjadi lebih baik jika setia pada nilai-nilai konstitusi dan keadilan,” katanya.

Ia berharap semangat Juneteenth tidak hanya menjadi peringatan sejarah tentang berakhirnya perbudakan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam memerangi rasisme, diskriminasi, dan segala bentuk ketidakadilan demi terwujudnya masyarakat yang lebih inklusif dan setara.[]