Oleh: Iim Muslimah S.Pd, Praktisi Pendidikan
__________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –Ada sebuah ungkapan bahwa ibu merupakan madrasah pertama bagi anaknya. Namun bagaimana jika seorang ibu tega menghabisi 3 buah hatinya karena hawatir sang anak lebih susah hidupnya.
Dikutip dari republika.co.id, seorang ibu muda berinisial KU (35 tahun) di Tonjong, Brebes, Jawa Tengah, menggorok leher anak kandungnya yang berusia 6 tahun, dan melukai 2 anak kandung lainnya menggegerkan masyarakat. Sebab, ibu muda yang dikenal pendiam di antara para tetangganya ini, tega menghabisi darah dagingnya sendiri dengan cara keji dan sadis.
Ahli Psikologi Forensik, Reza Indra Giri Amrielsebagaimana dikutip republika.co.id mengimbau, kepada pihak kepolisian untuk memeriksa lebih lanjut kejiwaan pelaku. Walaupun dari berita yang ada, penyebab pelaku melakukan tindakan sadis tersebut kepada anaknya karena alasan ekonomi, kesulitan hidup.
Salah siapa?
Fenomena orang tua membunuh anak kandungnya atau sebaliknya memang semakin banyak terjadi terlebih di tengah kondisi yang serba sulit seperti ini. Banyak para orang tua yang mengalami stres dan berimbas pada pembunuhan. Tentu ini tidak hanya sekedar salah ibu atau ayah.
Masalah ekonomi merupakan cabang masalah dari sekian masalah yang sedang dihadapi orang tua, terutama ibu. Yang akhirnya harus melampiaskan kekesalan pada sang buah hati.
Kenapa seorang ibu tega bertindak seperti itu? Sosok yang seharusnya menjaga ,mendidik dan memelihara serta menghantarkan anak menjadi generasi hebat , anak sholeh permata orang tua, ternyata berubah menjadi sosok yang sangat berbahaya. Pertanyaan besar hinggap di benak kita. Apa sebenarnya yang terjadi?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan ibu berlaku kadar diantaranya:
1. Kelelahan mengerjakan tugas rumah tangga
2. Kebosanan karena terkungkung di lingkungan rumah
3. Jenuh akibat pergaulan terbatas
4. Kurang dihargai suami dan lingkungan
5. Pelampiasan konflik dengan suami
6. Pengaruh latar belakang keluarga ketika masa kecil.
Kesulitan ekonomi membuat para ibu harus berperan ganda. Menjadi ibu sekaligus mencari nafkah untuk keluarga. Sudah lah harus mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus anak dan suami pun harus banting tulang menncari sesuap nasi.
Kondisi ekonomi menjadi penyulut terjadinya kasus ibu tega menyakiti anaknya. Tidak jarang kita lihat, karena faktor ekonomi yang rendah membuat tingkat stres para ibu tinggi, sehingga ketika ada hal hal diluar batas kesanggupannya, mereka tanpa pikir panjang berbuat jahat di luar akal sehat, menyakiti bahkan membunuh anak mereka sendiri.
Seolah tanpa sadar ketika melakukannya, setelah kejadian mereka pun menyesal, namun penyesalan tiada gunanya. Naluri ibu akhir hilang dengan mudahnya.
Kehidupan yang serba bebas, memisahkan aturan agama dari kehidupan di alam demokrasi, sehingga bagi pasutri yang belum mempunyai pondasi dan iman yang kuat akan mudah menyerah dengan kondisi yang ada. Standar mereka berbuat pun hanya suka atau tidak suka, bukan halal haram.
Sehingga wajar akhirnya ketika sesuatu yang tidak disukai terjadi standarnya tidak lagi Allah suka atau tidak. Inilah karakter ideologi kapitalisme yang sudah mengakar pada jiwa masyarakat.
Sistem kapitalisme hanya memprioritaskan hasil instan, menomorduakan agama. Sehingga berpikir pendek jika terjadi masalah.
Islam Mengembalikan Nurani Ibu
Islam agama sekaligus aturan hidup yang sempurna. Dalam pengaturan agar fungsi seorang ibu terlaksana dengan sempurna, tidak hanya peran ibu yang diperlukan ,nmaun peran suami, lingkungan ,bahkan negara sangat lah besar. itulah kenapa ketika Islam diterapkan maka fungsi ini dapat terlaksana tanpa beban.
Ibu adalah madrasah awal bagi anaknya. Mengasuh dan mengatur rumah tangga adalah tugasnya. Jika peran ini dikembalikan pada tempatnya, niscaya akan lahir generasi-generasi hebat dari pangkuannya.
Islam menanamkan akidah yang kuat. Mengajarkan bahwa tugas seorang ibu adalah mendidik dan mengasuh anak dengan kasih sayang bukan kebencian. Apalagi anak adalah titipan Tuhan.
Islam tidak hanya menciptakan para Ilmuan hebat, melainkan menyiapkan perempuan-perempuan perempuan agar siap menjadi Ibu dan pengatur rumah tangga ketika telah dewasa. Menyiapkan laki-laki agar siap memimpin keluarga, mencari nafkah, hingga memimpin masyarakat ketika telah dewasa. Sehingga dari mereka tercipta generasi-generasi emas.
Islam juga tidak menghilangkan peran ayah sebagai pendidik anak-anaknya. keberadaan sosok seorang ibu yang hebat akan terwujud jika didukung oleh suami dan keluarga yang juga menunaikan kewajibannya masing masing sebagai anggota keluarga , sehingga beban ibu yang memang luar biasa akan terasa ringan.
Hal yang utama adalah peran negara sebagai pelayan rakyat, di mana negara akan memberikan ruang yang luas agar fungsi seorang ibu dapat terlaksana dengan baik. Dengan bersinerginya antara peran ibu, ayah, masyarakat dan peran negara, maka naluri seorang ibu untuk menyayangi anaknya akan kembali .
Peran negara ialah memberikan pelayanan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat secara penuh. Pelayanan kesehatan, pendidikan dan kebutuhan lainnya secara gratis. Sehingga ibu tidak harus menjadi tulang punggung keluarga untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup.
Pemenuhan kebutuhan tersebut didapatkan dari APBN negara yakni dari hasil pengelolaan sumber daya alam yang ada.
Hal ini tidak bisa dilakukan tanpa sebuah negara. Karena dengan adanya negara, syariat Islam bisa diterapkan secara sempurna. Wa Allahu A’lam.[]









Comment