Yayasan Project HOPE Dorong Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Lewat Inisiatif ESLAB di Empat Kabupaten

Sosial730 Views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA–— Angka kematian ibu (AKI) dan bayi (AKB) masih menjadi tantangan serius dalam sistem kesehatan Indonesia. Meski mengalami penurunan dalam satu dekade terakhir, capaian saat ini masih jauh dari target global.

Menurut Badan Pusat Statistik, AKI Indonesia turun dari 346 per 100.000 kelahiran hidup pada 2010 menjadi 189 pada 2020. Namun, angka ini masih tertinggal dibanding negara-negara ASEAN seperti Malaysia (21), Thailand (29), dan Singapura (7). Sementara AKB turun dari 26 menjadi 16,85 per 1.000 kelahiran hidup dalam periode yang sama.

“Target AKI dalam RPJMN 2024 adalah 183. Namun hingga semester I tahun ini, tercatat 4.151 kematian ibu di seluruh Indonesia—setara satu gerbong penuh penumpang kereta cepat Whoosh setiap bulan,” ujar dr. Tutut Purwanti, Program Manager Expanding Saving Lives at Birth (ESLAB), dalam Diseminasi Hasil Evaluasi Akhir ESLAB, yang digelar di Jakarta, 15–16 Juli 2025.

ESLAB merupakan inisiatif Yayasan Project HOPE (YPH) bersama Project HOPE US yang dijalankan sejak 2022 di empat kabupaten prioritas: Indramayu, Grobogan, Sumedang, dan Sampang. Program ini didukung oleh dana hibah dari Johnson & Johnson Foundation melalui Give2Asia.

Mengusung pendekatan holistik, ESLAB berfokus pada penguatan layanan kesehatan ibu dan bayi, serta pemberdayaan komunitas. Lima strategi utama yang dijalankan antara lain:

1. Pelatihan intensif bagi tenaga kesehatan dan kader mengenai deteksi dini komplikasi dan kegawatdaruratan.

2. Pendampingan klinis pasca pelatihan oleh dokter spesialis.

3. Penyediaan alat medis sesuai standar nasional.

4. Kelompok dukungan sebaya dalam kelas ibu hamil untuk edukasi dan solidaritas emosional.

5. Model “One Client One Cadre” yang memberikan pendampingan personal hingga pasca persalinan.

“ESLAB bukan sekadar proyek, tapi gerakan perubahan yang menempatkan ibu dan bayi di pusat perhatian,” ujar perwakilan YPH. “Transformasi bisa dimulai dari penguatan kapasitas lokal dan sentuhan empati komunitas.”

Dampak nyata mulai terlihat. Di Indramayu, angka rujukan emergensi menurun berkat kemampuan kader dalam mengenali tanda bahaya sejak dini. “Kepercayaan diri kader dan tenaga kesehatan meningkat, dan ini mengubah cara masyarakat memandang kehamilan—bukan sekadar urusan pribadi, tapi tanggung jawab bersama,” ungkap perwakilan Dinas Kesehatan setempat.

Diseminasi hasil evaluasi ini turut dihadiri perwakilan dinas kesehatan dari empat kabupaten pelaksana, kader, akademisi, serta pejabat dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, dan Bappenas. Tujuannya: merumuskan rekomendasi agar dampak program dapat berlanjut secara berkelanjutan.[]

Comment