Abai Terhadap Pendidikan, Sekularisme Ciptakan Pergaulan Bebas dan Merusak Generasi

Opini1153 Views

 

Penulis: Endah Dwianti, S E., CA., M.Ak.
| Pengusaha

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Fenomena kerusakan moral di masyarakat semakin hari semakin memprihatinkan. Berbagai berita tentang pesta seks, kasus kekerasan seksual hingga tingginya permohonan dispensasi nikah di usia muda menjadi gambaran nyata betapa nilai-nilai agama telah tergerus oleh liberalisasi pergaulan.

Laman Kompas.com (10/1/2025) Menulis, Kabupaten Sleman mencatat 98 permohonan dispensasi nikah sepanjang tahun 2024, mayoritas disebabkan oleh kehamilan di luar nikah.

Di Jakarta dan Bali, muncul fenomena pesta seks “swinger” yang melibatkan pertukaran pasangan secara terang-terangan seperti ditulis Republika.co.id, 11 Januari 2025). Fenomena ini bukan hanya sekadar potret perilaku individu, melainkan cerminan dari kerusakan sistemik akibat penerapan sekularisme.

Sekularisme, Akar Masalah Liberalisasi Pergaulan

Sekularisme, yang memisahkan agama dari kehidupan telah mengikis nilai-nilai moral di masyarakat. Dalam sistem ini, kebebasan individu diutamakan tanpa batas, termasuk dalam urusan pergaulan. Negara yang menganut sekularisme justru memfasilitasi liberalisasi ini, baik melalui kebijakan kontrasepsi untuk pelajar maupun pendidikan seks yang berlandaskan pandangan Barat.

Tidak hanya itu, kebijakan kesetaraan gender yang mengadopsi konsep hak reproduksi dan bodily autonomy semakin melanggengkan perilaku permisif. Dalam sistem kapitalisme sekuler, perilaku manusia tidak lagi berlandaskan nilai moral dan agama, melainkan pada kebebasan yang bersifat individualistis.

Islam Menjaga Moral Generasi

Islam, sebagai sistem hidup yang sempurna, memiliki mekanisme yang jelas untuk menjaga kemuliaan manusia dan moral generasi. Dalam pandangan Islam, pergaulan antara laki-laki dan perempuan diatur secara ketat untuk mencegah terjadinya kerusakan moral. Negara bertanggung jawab untuk:

1. Menerapkan Sistem Pergaulan Islam

Islam menetapkan aturan tegas dalam interaksi antara laki-laki dan perempuan, seperti larangan berzina, kewajiban menutup aurat, serta perintah untuk menjaga pandangan. Aturan ini bukan hanya untuk individu, tetapi juga diterapkan melalui kebijakan negara.

2. Pendidikan Berbasis Akidah Islam

Sistem pendidikan Islam bertujuan membentuk generasi yang memiliki kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyah). Kurikulum pendidikan dirancang untuk menanamkan akidah Islam dan membekali generasi dengan ilmu yang bermanfaat bagi umat.

3. Sanksi yang Tegas dan Mendidik

Islam menerapkan sanksi tegas terhadap pelaku maksiat untuk memberikan efek jera. Misalnya, pelaku zina yang belum menikah dikenai hukuman cambuk, sementara yang telah menikah dikenai hukuman rajam. Sanksi ini tidak hanya melindungi masyarakat dari kerusakan moral, tetapi juga mendorong pelaku untuk bertaubat.

4. Menutup Celah Liberalisasi

Negara dalam konsep Islam menutup semua pintu masuk ide-ide liberal, termasuk media yang mempromosikan gaya hidup permisif. Media yang bertentangan dengan syariat akan ditindak tegas karena Islam memahami bahwa media memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola pikir masyarakat.

Nasib Pendidik dalam Sistem Sekuler

Kerusakan sistem sekuler tidak hanya terlihat dalam liberalisasi pergaulan, tetapi juga dalam pengabaian sektor pendidikan. Penghapusan tunjangan kinerja dosen ASN pada 2025 menjadi salah satu bukti nyata (tempo.co, 10 Januari 2025). Banyak dosen yang mengeluhkan bahwa kebijakan ini membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

Di sisi lain, mahasiswa dari keluarga kurang mampu juga semakin sulit mengakses beasiswa karena ketatnya persyaratan, seperti hanya tujuh calon mahasiswa yang lolos program KIP Kuliah pada 2025 (kompas.com, 10 Januari 2025).

Dalam Islam, pendidik memiliki posisi yang mulia. Negara bertanggung jawab memberikan gaji yang layak dan jaminan kesejahteraan agar para pendidik dapat fokus mendidik generasi tanpa terbebani masalah finansial. Pada masa Kekhilafahan Abbasiyah, para ulama dan ilmuwan mendapatkan dukungan penuh dari negara, baik dalam bentuk penghargaan finansial maupun fasilitas untuk mengembangkan keilmuan.

Islam Solusi Nyata untuk Generasi Emas

Liberalisasi pergaulan dan pengabaian sektor pendidikan adalah bukti nyata bahwa sistem sekuler kapitalistik telah gagal melindungi dan memajukan generasi. Islam, dengan penerapan syariat secara kaffah, memberikan solusi yang komprehensif. Pendidikan dan moral generasi akan terjaga dengan baik melalui kebijakan berbasis akidah Islam, sementara kesejahteraan rakyat, termasuk para pendidik, dijamin oleh negara melalui sistem ekonomi Islam.

Saatnya umat menyadari bahwa perubahan sistemik adalah kunci untuk menciptakan generasi emas yang berakhlak mulia dan berilmu. Liberalisasi pergaulan dan kerusakan moral hanya dapat dihentikan dengan kembali kepada Islam sebagai aturan hidup yang sempurna dan menyeluruh.Wallahu ‘alam bisshowab.

Comment