by

Aisyah Karim,S.H*: Hypokrit Harga Jiwa Untuk #Justice For George FLoyd

-Opini-53 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Seorang pria kulit hitam di Minneapolis, George Floyd, meninggal pada Senin 25/5/2020 setelah diborgol dan diinjak ke tanah oleh penegak hukum, yang menyebabkan pemecatan terhadap empat petugas polisi.

Kematian George Floyd (46tahun) direkam dalam video dan dibagikan secara luas di media sosial. Dalam rekaman itu seorang petugas menjepit leher Floyd ke tanah saat Floyd memohon, ”Tolong, saya tidak bisa bernapas,” momen yang sangat mengingatkan pada Eric Garner, seorang pria kulit hitam yang meninggal karena tercekik petugas pada 2014.

Petugas Polisi lain terlihat menyaksikan adegan itu, seiring para pejalan kaki menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap Floyd. Satu orang berkomentar bahwa hidung Floyd berdarah sementara yang lain berteriak, “Bro, Anda sudah memborgolnya, setidaknya biarkan dia bernapas, kawan.”

Menjelang akhir video, Floyd menjadi diam tak bergerak seiring kepalanya tetap terdorong ke trotoar. Tidak lama setelah itu ia dinyatakan meninggal di Hennepin County Medical Center, menurut New York Time (matamatapolitik.com 29/5/2020).

Inilah tanggapan kepolisian Minneapolis atas panggilan bahwa seorang pria sedang mencoba menggunakan uang kertas palsu USD 20. Komunitas kulit hitam terlalu akrab dengan kebrutalan polisi yang menyebabkan kematian Floyd. Terlalu banyak cerita tentang penegakan hukum yang membunuh orang kulit hitam yang tak bersenjata.

Meskipun mereka mencakup sekitar 13 persen dari populasi, orang kulit hitam menyumbang 23 persen dari orang yang terbunuh oleh penegak hukum pada 2019, menurut database The Washington Post. Kematian George Floyd telah mengguncang Amerika dan dunia. Setidaknya 6,1 juta orang telah menandatangani petisi di change.org history.

Kepergian Floyd, sosok yang dikenal penyayang dan peduli pada sesama telah memicu kerucuhan di seluruh daerah Amerika setelah videonya menyebar di internet. Meski keempat polisi telah dipecat namun demonstrasi tidak mereda malah semakin memanas.

Los Angeles, Chicago dan Atlanta memerintahkan warganya untuk tinggal di rumah semalaman setelah banyak negara bagian memanggil tantara Garda Nasional untuk membantu mengendalikan kerusuhan sipil yang sudah lama tak terjadi di Amerika.

Dari Seattle hingga New York, puluhan ribu pengunjuk rasa turun ke jalan menuntut pembunuhan yang lebih keras dan penangkapan lebih banyak atas kematian Floyd. Sebanyak 25 kota dan 16 negara bagian memberlakukan jam malam. Kini aksi ini telah mencapai halaman Gedung putih.

Tagar Justice for George Floyd dinaikkan oleh seluruh dunia. Ungkapan belasungkawa dan empati mengalir kepada keluarga George Floyd. Dari mantan bintang WWE, The Rock, artis papan atas hollywood, pesepakbola, atlit hingga Presiden Erdogan tak ketinggalan menyampaikan turut berduka dan mengutuk tindakan memicu kematian Floyd. Aksi solidaritas atas kematian Floyd bahkan merambah ke Eropa, diantaranya terjadi di Inggris, Denmark dan Jerman (cnnindonesia.com 31/5/2020).

Ironisnya, kematian serupa yang dialami Floyd terjadi setiap saat di Palestina yang dilakukan oleh tantara Zionis. Hal yang sama setiap saat juga menimpa muslim di Syria, Xinjiang, Yaman, Rohingya bahkan muslim di India.

Namun dukungan untuk investigasi dan simpati dari masyarakat dunia nyaris tak terdengar. Pasukan keamanan Israel menggunakan kekuatan berlebihan setiap saat dengan membunuh individu yang bisa ditangkap atau menggunakan kekuatan mematikan Ketika nyawa mereka tidak dalam bahaya.

Melansir dari pikiran-rakyat.com 1/6/2020 seorang pria Palestina penderita autisme, Iyad el-Hallak berusia 32 tahun tewas ditembak kepolisian Israel di Old City, Yerussalem. Setelah tertembak korban bahkan dibiarkan begitu saja hingga meninggal dunia. Hallak saat itu tengah berjalan menuju sekolah untuk siswa berkebutuhan khusus tempat dimana dia belajar pada hari saat ia di tembak.

Ini bukanlah kejadian satu-satunya penyerangan terhadap Palestina yang tidak memiliki hubungan yang jelas dengan kelompok-kelompok bersenjata. Realitasnya telah terjadi serangkaian penikaman, penembakan hingga tabrakan yang disengaja menggunakan mobil dalam beberapa tahun terakhir.

Di sinilah hipokrit dunia terhadap Islam. Sebesar apapun serangan yang menimpa kaum Muslim dunia seolah buta dan tuli terhadapnya. Nyawa seorang Muslim tak ada harganya sedikitpun. Kapitalisme dan peradaban modern telah gagal dalam melindungi jiwa, baik jiwa warga negara mereka apalagi jiwa kaum Muslim di seluruh dunia.

Allah telah menetapkan Syariah Islam sebagai aturan hidup dan pemecah berbagai problematika manusia. Salah satu dari fungsi Syariah Islam yang mulia adalah menjaga jiwa. Nilai jiwa dalam Islam demikian tinggi, bahkan dalam ranah ushul fiqih masuk dalam kategori “al-daruriyat al-khamsah” (lima hal primer yang wajib dipelihara). Pada asalnya, tidak boleh menghilangkan jiwa tanpa alas an yang jelas, baik itu jiwa seorang muslim ataupun kafir.

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang membunuh manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya” (QS. Al-Maidah:32).

Bahkan, jika yang dibunuh adalah orang beriman dengan sengaja-tanpa ada alasan jelas-maka diancam dengan hukuman neraka Jahannam, kekal didalamnya dan dimurkai Allah. “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu`min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya” (QS. An-Nisa:93).

Tidak berlebih-lebihan jika Nabi SAW pernah bersabda, “Pertama kali yang akan dituntut pada hari kiamat adalah masalah pertumpahan darah” (HR. Bukhari, Nasa`I, Ibnu Majah dan Ahmad).

Maka urusan menghilangkan nyawa seseorang dalam Islam bukanlah hal yang sederhana. Didalam hadits yang lain disebutkan, “Hancurnya dunia lebih ringan disisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim” (HR. An-Nasa`I dishahihkan oleh Syaikh Albani).

Semua dalil diatas mengisyaratkan betapa berharganya jiwa seorang muslim. Jika Islam sangat menjaga dan menghargai nyawa seorang muslim, maka fenomena yang kerap kali kita jumpai dari realita yang terjadi di sekitar kita dan dunia dewasa ini justru sebaliknya. Begitu mudahnya jiwa-jiwa umat ini melayang tanpa kejelasan alas an.

Sehingga rasa-rasanya jiwa seorang saudara Muslim hari ini tak lebih berharga dibandingkan nyawa orang kafir, yang notabene mereka tidak memiliki kemuliaan di sisi Allah SWT. Penjagaan jiwa ini telah dilaksanakan dengan paripurna oleh Khilafah Islamiyah selama 1300 tahun lamanya. Hingga system ini diruntuhkan oleh laknatullah Kemal Attarturk dan sekutunya pada 1924 Masehi. Sejak itulah nyawa seorang muslim tak lebih berharga dari seekor anjing.

Fenomena Floyd dan Iyad el-Hallak seyogianya menyadarkan dunia Islam, bahwa tegaknya Kembali Khilafah Islamiyah yang dijanjikan Rasulullah adalah tajul furud (mahkota kewajiban) yang urgensi untuk segera diwujudkan. Dengan institusi inilah kelak setiap jiwa akan dijaga dengan sebaik-baik penjagaan oleh negara.[]

*Lingkar Studi Perempuan Dan Peradaban

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − 11 =

Rekomendasi Berita