![]() |
| Aisyah, S.H, Penulis |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Massa yang didominasi
kaum ibu di Gampong Keutapang Mameh, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur,
menghadang pengunjung yang hendak berwisata ke Pantai Keutapang Mameh, di
gampong tersebut, Minggu (16/9/2018). Kaum ibu mendirikan tenda di jalan masuk
pantai dan menghentikan setiap pengunjung yang hendak berwisata ke pantai
tersebut. Saat menghentikan kendaraan, kaum ibu ini memberitahukan kepada
pengunjung bahwa pantai ditutup dan lokasi itu tidak dibolehkan untuk berwisata
(serambiindonesia).
kaum ibu di Gampong Keutapang Mameh, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur,
menghadang pengunjung yang hendak berwisata ke Pantai Keutapang Mameh, di
gampong tersebut, Minggu (16/9/2018). Kaum ibu mendirikan tenda di jalan masuk
pantai dan menghentikan setiap pengunjung yang hendak berwisata ke pantai
tersebut. Saat menghentikan kendaraan, kaum ibu ini memberitahukan kepada
pengunjung bahwa pantai ditutup dan lokasi itu tidak dibolehkan untuk berwisata
(serambiindonesia).
Turunnya para ibu
dilatarbelakangi oleh pengunduran diri
teungku imum gampong tersebut dari jabatannya, karena tidak mampu menanggung
dosa para pengunjung yang mengabaikan Syariah Islam. Selama ini pantai
Keutapang Mameh memang ditutup dari aktivitas wisata. Hal itu ditunjukkan
dengan adanya pamflet bertuliskan pemberitahuan “Pantai Ditutup” yang dipasang
di pintu masuk pantai. Namun demikian, pengunjung tetap ramai berwisata ke
pantai tersebut dan tidak memedulikan imbauan warga.
dilatarbelakangi oleh pengunduran diri
teungku imum gampong tersebut dari jabatannya, karena tidak mampu menanggung
dosa para pengunjung yang mengabaikan Syariah Islam. Selama ini pantai
Keutapang Mameh memang ditutup dari aktivitas wisata. Hal itu ditunjukkan
dengan adanya pamflet bertuliskan pemberitahuan “Pantai Ditutup” yang dipasang
di pintu masuk pantai. Namun demikian, pengunjung tetap ramai berwisata ke
pantai tersebut dan tidak memedulikan imbauan warga.
Beberapa tahun terakhir
menguat wacana terkait wisata halal, wisata syariah, wisata religi dan wisata
pro muslim (muslim friendly tourism) di berbagai belahan dunia termasuk
Indonesia. Menurut
laporan Committee for Economic and Commercial Cooperation of the Organization
of the Islamic Cooperation pada Februari, ada sekitar 116 juta perjalanan
wisata halal yang dilakukan oleh wisatawan Muslim hingga 2014. Diproyeksikan
pada 2020, jumlah tersebut akan meningkat menjadi sekitar 180 juta atau naik
sebanyak 9,08 persen. Sementara di Indonesia, dalam tiga tahun terakhir, jumlah
tersebut juga naik sebanyak 15,5 persen.Tercatat, total pengeluaran wisatawan
Muslim di dunia tahun 2014 mencapai US$ 142 miliar (sekitar Rp1,8
triliun). Sebagai perbandingan, pengeluaran wisman dari Arab Saudi
rata-rata US$ 1.750 per kunjungan (sekitar Rp22 juta), sedangkan wisman dari
Asia US$ 1.200 (sekitar Rp15 jutaan) per kunjungan. Pertumbuhan pariwisata
halal di dunia pun ikut meningkat menjadi 6,3 persen, atau lebih tinggi dari
rata-rata pertumbuhan pariwisata dunia sebesar 4,4 persen dan pariwisata ASEAN
sebesar 5,5 persen (cnnindonesia).
menguat wacana terkait wisata halal, wisata syariah, wisata religi dan wisata
pro muslim (muslim friendly tourism) di berbagai belahan dunia termasuk
Indonesia. Menurut
laporan Committee for Economic and Commercial Cooperation of the Organization
of the Islamic Cooperation pada Februari, ada sekitar 116 juta perjalanan
wisata halal yang dilakukan oleh wisatawan Muslim hingga 2014. Diproyeksikan
pada 2020, jumlah tersebut akan meningkat menjadi sekitar 180 juta atau naik
sebanyak 9,08 persen. Sementara di Indonesia, dalam tiga tahun terakhir, jumlah
tersebut juga naik sebanyak 15,5 persen.Tercatat, total pengeluaran wisatawan
Muslim di dunia tahun 2014 mencapai US$ 142 miliar (sekitar Rp1,8
triliun). Sebagai perbandingan, pengeluaran wisman dari Arab Saudi
rata-rata US$ 1.750 per kunjungan (sekitar Rp22 juta), sedangkan wisman dari
Asia US$ 1.200 (sekitar Rp15 jutaan) per kunjungan. Pertumbuhan pariwisata
halal di dunia pun ikut meningkat menjadi 6,3 persen, atau lebih tinggi dari
rata-rata pertumbuhan pariwisata dunia sebesar 4,4 persen dan pariwisata ASEAN
sebesar 5,5 persen (cnnindonesia).
Aceh dengan
berbagai destinasi wisata muslimnya tak ingin ketinggalan memanfaatkan peluang
ini. Pada tahun 2016 lalu Aceh meraih Anugerah Pariwisata Halal Terbaik 2016
untuk kategori destinasi budaya ramah wisata muslim terbaik. Tentu kemenangan
tersebut berdampak langsung pada meningkatnya program pariwisata Aceh hingga
hari ini. Komitmen Pemerintah Aceh bersama pemerintah kabupaten/kota dan
stakeholder terkait lainnya untuk menjadikan pariwisata sebagai unggulan
semakin terlihat. Tahun 2018 ini Pemerintah Aceh menargetkan kunjungan 100 ribu
wisatawan mancanegara. Tahun 2017 kunjungan wisatawan mencapai sekitar
2.944.169 orang, terdiri dari 2.865.189 wisatawan nusantara dan 78.980
wisatawan mancanegara. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2016 yang
mencapai 2.865.189, terdiri dari 2.077.797 wisatawan nusantara dan 76.452
wisatawan mancanegara (aceh.tribunnews.com).
berbagai destinasi wisata muslimnya tak ingin ketinggalan memanfaatkan peluang
ini. Pada tahun 2016 lalu Aceh meraih Anugerah Pariwisata Halal Terbaik 2016
untuk kategori destinasi budaya ramah wisata muslim terbaik. Tentu kemenangan
tersebut berdampak langsung pada meningkatnya program pariwisata Aceh hingga
hari ini. Komitmen Pemerintah Aceh bersama pemerintah kabupaten/kota dan
stakeholder terkait lainnya untuk menjadikan pariwisata sebagai unggulan
semakin terlihat. Tahun 2018 ini Pemerintah Aceh menargetkan kunjungan 100 ribu
wisatawan mancanegara. Tahun 2017 kunjungan wisatawan mencapai sekitar
2.944.169 orang, terdiri dari 2.865.189 wisatawan nusantara dan 78.980
wisatawan mancanegara. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2016 yang
mencapai 2.865.189, terdiri dari 2.077.797 wisatawan nusantara dan 76.452
wisatawan mancanegara (aceh.tribunnews.com).
Daya tarik
wisata Aceh tidak hanya terletak pada keindahan geografisnya saja tetapi
didukung dengan destinasi cagar budaya, wisata Islami, wisata tsunami hingga
cita rasa kuliner yang unik. Semua pihak dilibatkan dalam kemajuan pariwisata
yang dirangkum dalam Calendar of Event (COE) Aceh 2018. Jika kita merunut
kembali setidaknya telah dan akan dilaksanakan beberapa event diantaranya, Aceh International Marathon, Aceh
Internasional Freediving di Sabang, Aceh International Surfing Championship di
Simeulue dan juga digelarnya dua event yang masuk dalam 100 Top event Nasional
2018, Aceh Culinary Festival dan Aceh International Rapa`i Festival. Industri
pariwisata Aceh sedang menggeliat, dengan semakin viralnya wisata Aceh di dunia
maya. Semangat branding yang dilontarkan adalah “The light of Aceh” atau
“Cahaya Aceh”.
wisata Aceh tidak hanya terletak pada keindahan geografisnya saja tetapi
didukung dengan destinasi cagar budaya, wisata Islami, wisata tsunami hingga
cita rasa kuliner yang unik. Semua pihak dilibatkan dalam kemajuan pariwisata
yang dirangkum dalam Calendar of Event (COE) Aceh 2018. Jika kita merunut
kembali setidaknya telah dan akan dilaksanakan beberapa event diantaranya, Aceh International Marathon, Aceh
Internasional Freediving di Sabang, Aceh International Surfing Championship di
Simeulue dan juga digelarnya dua event yang masuk dalam 100 Top event Nasional
2018, Aceh Culinary Festival dan Aceh International Rapa`i Festival. Industri
pariwisata Aceh sedang menggeliat, dengan semakin viralnya wisata Aceh di dunia
maya. Semangat branding yang dilontarkan adalah “The light of Aceh” atau
“Cahaya Aceh”.
Namun, dalam
pelaksanaannya wisata Islami hanya tinggal sebatas wacana saja. Sebagian besar
destinasi wisata Aceh belum serius menerapkan wisata Islami. Miris ketika
khalwat, ikhtilat dan pergaulan bebas terjadi di semua destinasi objek wisata
pantai Aceh. Berkunjunglah ke objek-objek
wisata pantai di Banda Aceh. Rata-rata tempat tersebut telah dikelola
dengan baik, dilengkapi fasilitas yang dihias cantik. Hanya saja kita akan mengelus dada ketika
mampir kesana. Tempat-tempat itu bebas digunakan oleh siapa saja termasuk
pasangan non mahram. Pasangan non mahramlah yang menjadi pengunjung terbanyak
dengan perilaku mereka yang memprihatinkan. Tidak ada rambu-rambu atau himbauan
tentang wisata Islami, tidak ada pengawasan, tidak ada apa-apa. Wisata Islami
tinggal wacana.
pelaksanaannya wisata Islami hanya tinggal sebatas wacana saja. Sebagian besar
destinasi wisata Aceh belum serius menerapkan wisata Islami. Miris ketika
khalwat, ikhtilat dan pergaulan bebas terjadi di semua destinasi objek wisata
pantai Aceh. Berkunjunglah ke objek-objek
wisata pantai di Banda Aceh. Rata-rata tempat tersebut telah dikelola
dengan baik, dilengkapi fasilitas yang dihias cantik. Hanya saja kita akan mengelus dada ketika
mampir kesana. Tempat-tempat itu bebas digunakan oleh siapa saja termasuk
pasangan non mahram. Pasangan non mahramlah yang menjadi pengunjung terbanyak
dengan perilaku mereka yang memprihatinkan. Tidak ada rambu-rambu atau himbauan
tentang wisata Islami, tidak ada pengawasan, tidak ada apa-apa. Wisata Islami
tinggal wacana.
Maka ketika
para Ibu di Keutapang Mameh sampai turun ke jalan menyelamatkan daerahnya dari
azab Allah semata-mata didorong oleh keimanannya. Ini adalah upaya terakhir
mereka ketika kaum Bapak dan Pemuda sudah menepi. Harus diakui bahwa perilaku
para pengunjung objek wisata memang mengharuskan para ibu di Keutapang Mameh
menutup pantainya. Wajar jika mereka khawatir perilaku permissive yang
dibawa oleh pengunjung akan berdampak bagi anak-anak dan generasi mereka.
Belumlah lagi membayangkan ancaman Allah atas pembiaran itu.
para Ibu di Keutapang Mameh sampai turun ke jalan menyelamatkan daerahnya dari
azab Allah semata-mata didorong oleh keimanannya. Ini adalah upaya terakhir
mereka ketika kaum Bapak dan Pemuda sudah menepi. Harus diakui bahwa perilaku
para pengunjung objek wisata memang mengharuskan para ibu di Keutapang Mameh
menutup pantainya. Wajar jika mereka khawatir perilaku permissive yang
dibawa oleh pengunjung akan berdampak bagi anak-anak dan generasi mereka.
Belumlah lagi membayangkan ancaman Allah atas pembiaran itu.
Pariwisata
tidak hanya berdampak terhadap meningkatnya perekonomian, karena ada persoalan
yang jauh lebih penting dari semua itu. Keimanan, akan dikemanakan aqidah
kita. Sebagai contoh kita bisa melihat Sabang, mungkinkah wisata Islami
diterapkan di Sabang ? Sabang adalah bagian dari Aceh, negeri kaum muslimin.
Sebagai muslim kita memahami bahwa setiap tindak tanduk kita terikat dengan
hukum syara`. Wisatawan kafir diizinkan
untuk masuk, akan tetapi keberadaannya di Aceh harus terikat dan menghormati
agama Islam, akhlak masyarakat Aceh dan kebudayaannya. Mereka tidak boleh
keluar kecuali dengan penampilan sopan bukan pakaian yang biasa dipakai di
negaranya yang terbuka. Sungguh aneh jika kita berlaku ketat terhadap
masyarakat kita soal busana dan perilaku, lalu membiarkan wisatawan asing itu
berperilaku bebas dan berpakaian terbuka sesukanya. Dimana nilai kita ?
tidak hanya berdampak terhadap meningkatnya perekonomian, karena ada persoalan
yang jauh lebih penting dari semua itu. Keimanan, akan dikemanakan aqidah
kita. Sebagai contoh kita bisa melihat Sabang, mungkinkah wisata Islami
diterapkan di Sabang ? Sabang adalah bagian dari Aceh, negeri kaum muslimin.
Sebagai muslim kita memahami bahwa setiap tindak tanduk kita terikat dengan
hukum syara`. Wisatawan kafir diizinkan
untuk masuk, akan tetapi keberadaannya di Aceh harus terikat dan menghormati
agama Islam, akhlak masyarakat Aceh dan kebudayaannya. Mereka tidak boleh
keluar kecuali dengan penampilan sopan bukan pakaian yang biasa dipakai di
negaranya yang terbuka. Sungguh aneh jika kita berlaku ketat terhadap
masyarakat kita soal busana dan perilaku, lalu membiarkan wisatawan asing itu
berperilaku bebas dan berpakaian terbuka sesukanya. Dimana nilai kita ?
Program
wisata Islami memang tidak sesederhana yang dibayangkan. Ini dikarenakan
kebutuhan wisata Islami bukan hanya merujuk pada aspek fisik saja. Bukan hanya
soal menutup aurat, makanan halal, fasilitas shalat, toilet dengan fasilitas
bersuci dan layanan Ramadhan. Ada aspek non fisik seperti bebas aktifitas
maksiat dan fasilitas wisata yang terpisah antar gender.
wisata Islami memang tidak sesederhana yang dibayangkan. Ini dikarenakan
kebutuhan wisata Islami bukan hanya merujuk pada aspek fisik saja. Bukan hanya
soal menutup aurat, makanan halal, fasilitas shalat, toilet dengan fasilitas
bersuci dan layanan Ramadhan. Ada aspek non fisik seperti bebas aktifitas
maksiat dan fasilitas wisata yang terpisah antar gender.
Kalau wisata tersebut mengandung unsur memudahkan
melakukan kemaksiatan dan kemunkaran serta mengajak kesana, maka tidak boleh
bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari Akhir membantu untuk
melakukan kemaksiatan kepada Allah dan menyalahi perintah-Nya. Barangsiapa yang
meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti yang lebih baik
dari itu.
melakukan kemaksiatan dan kemunkaran serta mengajak kesana, maka tidak boleh
bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari Akhir membantu untuk
melakukan kemaksiatan kepada Allah dan menyalahi perintah-Nya. Barangsiapa yang
meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti yang lebih baik
dari itu.
Sudah saatnya kita kembali kepada pemahaman wisata
dalam Islam yaitu safar untuk merenungi keindahan ciptaan Allah
Ta’ala, menikmati indahnya alam nan agung sebagai pendorong jiwa manusia untuk
menguatkan keimanan terhadap ke-Esaan
Allah dan memotivasi menunaikan kewajiban hidup. Karena refresing jiwa perlu
untuk memulai semangat kerja baru. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
dalam Islam yaitu safar untuk merenungi keindahan ciptaan Allah
Ta’ala, menikmati indahnya alam nan agung sebagai pendorong jiwa manusia untuk
menguatkan keimanan terhadap ke-Esaan
Allah dan memotivasi menunaikan kewajiban hidup. Karena refresing jiwa perlu
untuk memulai semangat kerja baru. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
Katakanlah : “Berjalanlah di (muka) bumi, maka
perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian
Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu. (QS. Al-Ankabut: 20).
perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian
Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu. (QS. Al-Ankabut: 20).
Penulis adalah seorang PNS di Langsa, Aceh










Comment