by

Akankah Materialisme Menggeser Nilai Dan Tujuan Pendidikan?

-Opini-31 views

 

 

 

Oleh: Mala Oktavia, Mahasiswi

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Materialisme merupakan paham yang eksis digaungkan oleh para filsuf Yunani, misalnya Karl Marx (James D White dalam bukunya “Karl Marx and the Intellectual Origins of Dialectical Materialism”). Paham ini memandang segala sesuatu hanya berupa materi belaka, sedangkan orientasi pada nonmateri menjadi hal yang tidak berarti.

Dalam kehidupan masyarakat, materialisme menjadikan ekonomi sebagai basis dalam kehidupan, sehingga bagi para materialis, ekonomi atau uang ini menjadi segalanya. Lantas, APA dan bagaimana dampak jika materialisme diterapkan dalam sistem pendidikan kita saat ini?

Tampaknya sangat tidak proporsional  jika paham ini dilebur ke dalam aktivitas pendidikan Indonesia. Pasalnya aliran filsafat ini menyalahi tujuan dari pendidikan itu sendiri.

Tujuan pendidikan yang tertuang dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki akhlak yang mulia, serta dengan dimilikinya ilmu, kecakapan, dan kreativitas akan menjadikan manusia mandiri. Lebih dari itu, akan melahirkan manusia yang sadar akan posisinya di masyarakat dan negara.

Jika dilihat, maka poin pertama dalam tujuan pendidikan tersebut adalah menjadikan peserta didik yang memiliki aspek spiritual (iman dan takwa) yang mantap sebelum tercipta akhlak dan ilmu serta kecakapan lainnya.

Dengan demikian, posisi spiritual tidak bisa dihilangkan begitu saja sebelum membentuk kecakapan atau keterampilan yang lain. Bahkan sebelum diserapnya ilmu, maka aspek spiritual ini harus terbentuk terlebih dahulu.

Namun sayang, hal ini belum terwujud secara riil di tengah masyarakat kita saat ini. Sebaliknya, produk pendidikan yang telah terkontaminasi oleh kapitalisme di negeri ini melahirkan generasi minim spiritual, moral, ataupun intelektual.

Minimnya aspek spiritual, moral, maupun intelektual hampir di setiap lapisan masyarakat mengindikasikan bahwa pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Pendidikan kita telah mengalami kebobrokan akibat bercampurnya materialisme ke dalam  paradigma dan.kebijakan pendidikan.

Generasi kita selama ini hanya mengakses paradigma materialistik yang digunakan dalam pendidikan barat. Padahal paham materialistik tidak akan pernah mampu melahirkan generasi yang beriman, bertakwa, ataupun memiliki adab yang baik. Paham ini terbukti gagal melahirkan generasi dengan kualitas yang terpercaya, sebaliknya malah lahir generasi yang rusak secara akal maupun mental.

Buktinya, banyak kaum terpelajar tetapi tidak sedikit dari mereka yang menjadi koruptor. Padahal para pejabat kita bukanlah orang-orang yang kurang dalam hal ilmu, mereka lahir dari berbagai jenjang pendidikan dengan jangka waktu yang lama.

Akan tetapi, ketika mereka sudah menduduki posisi yang mumpuni di tengah-tengah masyarakat, mereka – tanpa malu bertindak amoral dengan berani memakan harta milik masyarakat yang jelas-jelas terlarang baik ditinjau hukum positif apalagi syariat Islam.

Hal tersebut terjadi karena mereka hanya mementingkan materi dalam bentuk uang, tidak peduli dengan cara halal atau haram dalam mendapatkannya.

Selain itu, kini pendidikan hanya dijadikan tempat meraih gelar sebagai penunjang meraih pekerjaan atau uang tanpa  melihat apakah kualitas ilmu yang dimiliki telah setara dengan gelar yang didapatkan. Disiplin ilmu yang harusnya diimplementasikan dalam kebaikan sebagaimana Tridharma pendidikan hanya menjadi sebatas titel dan gelar.

Akibatnya, lahir generasi yang tidak siap terjun ke masyarakat secara utuh. Inilah konsep keliru yang sekarang tengah menjangkiti pikiran anak bangsa kita yang tengah menimba ilmu di lembaga pendidikan, khususnya mereka yang tengah menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi.

Materialisme pada akhirnya mampu menggeser kemulian tujuan Jangka panjang pendidikan yang bertujuan melahirkan sosok beriman, beradab, memiliki moralitas serta keterampilan yang berkualitas menjadi tujuan jangka pendek yang hanya berorientasi kepada materi semata.

Pendidikan berbasis materialistik hanya akan melahirkan generasi yang bersebrangan dengan hasil pendidikan yang bersifat nonmaterial.

Mereka mengaggap bahwa hasil pendidikan itu berupa materi yang dapat dirasakan secara fisik, baik itu untuk kekayaan, investasi, atau mengembalikan modal selama mengenyam pendidikan.

Akhirnya, pengembalian itu akan dikejar dengan cara apapun untuk mendapatkan materi atau uang. Bila diteruskan, paradigma pendidikan materialisme ini akan merusak tatanan kehidupan bangsa secara keseluruhan.

Kenyataan ini semakin diperparah ketika pendidikan yang kita jalani berubah serba daring. Semula pendidikan yang dilakukan secara normal dengan tatap muka secara langsung, kini terbatas pada tatapan di layar laptop atau gawai.

Kondisi ini tentu akan mempengaruhi serapan ilmu menjadi berkurang karena terbatasnya interaksi pun akan membentuk pola pikir baru bahwa sekolah atau kuliah cukup dengan mencantumkan presensi kemudian ditinggal melakukan aktivitas lain.

Pemikiran tersebut terbentuk karena tidak adanya pemahaman awal bahwa pendidikan adalah tempat menuntut ilmu yang diwajibkan oleh agama, tetapi hanya sebatas tempat mengantarkan generasi mendapat ijazah dan lulus dari jenjang sebuah pendidikan.

Tujuan itu menjadi kabur bahkan hilang karena paradigma pendidikan materialistik tidak mengakui adanya entitas-entitas nonmaterial seperti Tuhan, malaikat, dosa, ataupun pahala. Bagi materialisme satu-satunya yang diakui adalah materi itu sendiri.

Permasalahan paradigma pendidikan yang telah mixing dengan konsep materialisme sangat menyayat hati khususnya bagi mereka yang fokus dalam dunia kependidikan. Alih-alih mendapatkan generasi cemerlang, justru ikut terpuruk ke dalam falsafah yang keliru dan merusak moral.

Dibutuhkan strategi dan cara yang tepat dan bijak untuk menyelesaikan persoalan ini demi mengembalikan paradigma pendidikan yang mengakui aspek spiritual, moral dan intelektual dari paradigma pendidikan materialistik.

Kita tidak boleh menyerah dan pasrah begitu saja menerima paradigma pendidikan di tanah air ini sebagai tempat berkembangnya ide Karl Max yang jelas-jelas keliru dan merusak generasi muda. Sebab, pendidikan merupakan tempat lahirnya generasi pencetak nasib bangsa.

Lantas, di mana dan bagaimana paradigma yang mengakui aspek spiritual, moral, dan intelektual dapat kita temukan?

Pastinya, dalam sebuah konstruksi sistem pendidikan yang mengakui eksistensi entitas agama dan tuhan yang benar. Bukan hanya mengakuinya, tetapi juga berusaha untuk menerapkannya dalam setiap capaian kompetensi yang dituangkan dalam silabus dan kurikulum sekolah maupun kampus.

Sistem pendidikan yang tidak mengusung ide kebebasan manusia atau ide-ide rusak lainnya. Murni hanya untuk menciptakan generasi yang mulia berdasar pada tuntunan agama dan tuhan yang diyakininya demi membuahkan insan dengan keelokan moral, spiritual, dan kualitas intelektual yang berdaya.

Kiranya, sudahkah konsep sistem pendidikan tersebut saat ini diterapkan di Indonesia?[]

Comment

Rekomendasi Berita