Aktivisme Gen Z di Bawah Bayang-Bayang Kapitalisme Digital

Opini140 Views

Penulis: Wanti Ummu Nazba
Muslimah Peduli Ummat

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA— Sebagaimana ditulis KOMPAS.com dari Bandung, sebuah penelitian Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) mengungkapkan bahwa 58 persen Generasi Z menggunakan layanan pinjaman online untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup dan hiburan.

Temuan ini disampaikan Ketua Program Studi Magister dan Doktor Fakultas Ekonomi Unpar, Dr. Vera Intanie Dewi, yang menekankan pentingnya pembiasaan pengelolaan keuangan sejak dini demi tercapainya financial well-being saat memasuki dunia kerja.

Data tersebut bukan sekadar persoalan finansial, melainkan cerminan dari realitas yang lebih dalam – Generasi Z hidup dan tumbuh dalam ekosistem digital yang dibentuk oleh logika sekuler-kapitalistik. Sebuah ruang yang menjadikan konsumsi, hiburan, dan validasi sebagai poros utama kehidupan.

Kemajuan teknologi informasi memang menghadirkan kemudahan luar biasa—akses pengetahuan semakin luas, komunikasi tanpa batas geografis, serta terbukanya ruang partisipasi sosial. Namun di balik itu, era digital juga membawa dampak sistemik yang perlahan membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak generasi muda, khususnya Gen Z.

Selama ini, Gen Z kerap dicap sebagai generasi rapuh, mudah cemas, dan minim daya juang. Stigma ini tidak sepenuhnya benar. Di balik tekanan mental yang mereka alami, Gen Z justru menyimpan potensi kritis yang kuat, keberanian menyuarakan pendapat, serta kecakapan memanfaatkan media sosial sebagai alat mobilisasi.

Maraknya aktivisme digital, kampanye sosial, dan advokasi isu lokal hingga global membuktikan bahwa Gen Z bukan generasi apatis, melainkan generasi yang sedang mencari bentuk dan arah perjuangan.

Ruang Digital yang Sarat Kepentingan

Sayangnya, ruang digital yang kerap dianggap netral sejatinya dibangun di atas kepentingan tertentu. Ia dikendalikan oleh logika sekuler-kapitalistik yang menempatkan keuntungan, atensi, dan kepuasan instan sebagai tujuan utama.

Algoritma media sosial tidak dirancang untuk mengantarkan manusia pada kebenaran atau makna hidup, melainkan untuk menjaga keterikatan pengguna demi akumulasi kapital.

Dalam ekosistem seperti ini, Gen Z dibentuk menjadi pribadi yang pragmatis, individualistis, dan relativis. Di satu sisi, ruang digital memudahkan proses belajar dan mempercepat penyebaran informasi.

Namun di sisi lain, ia melahirkan problem serius: meningkatnya gangguan kesehatan mental, budaya pencarian validasi, serta normalisasi nilai-nilai progresif-inklusif yang kerap bertentangan dengan ajaran agama.

Agama pun tak jarang dipertanyakan secara dangkal, tanpa fondasi pemikiran yang utuh. Akibatnya, sebagian Gen Z membangun sistem nilai sendiri yang makin menjauh dari nilai generasi sebelumnya.

Kondisi ini turut memengaruhi corak aktivisme mereka—sering kali spontan, reaktif, dan pragmatis, bergerak karena isu viral, demi eksistensi diri, atau sekadar mengikuti arus opini publik.

Karakter sebagai digital native memang membuat Gen Z gesit dan cepat bergerak. Namun tanpa visi ideologis yang jelas, mereka juga rentan kehilangan fokus, cepat lelah, dan berhenti di tengah jalan.

Membebaskan Generasi dari Hegemoni Digital

Realitas ini menunjukkan bahwa upaya menyelamatkan generasi muda dari dominasi ruang digital sekuler-kapitalistik adalah sebuah keniscayaan. Upaya tersebut tidak cukup ditempuh melalui pendekatan moral semata atau langkah teknis seperti pembatasan gawai dan literasi digital parsial.

Yang lebih mendasar adalah perubahan paradigma berpikir. Paradigma sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan harus digantikan dengan paradigma Islam yang menyeluruh. Islam tidak boleh direduksi sebatas ritual, melainkan dipahami sebagai sistem hidup yang mengatur cara berpikir, bersikap, dan berjuang.

Dengan paradigma ini, teknologi diposisikan sebagai wasilah (sarana), bukan tujuan; sebagai alat dakwah dan perubahan, bukan sumber identitas dan validasi diri. Aktivisme Gen Z pun tidak berhenti pada aksi simbolik atau tuntutan parsial, melainkan diarahkan pada solusi yang menyentuh akar persoalan secara sistemis dan ideologis.

Islam menawarkan kerangka perubahan yang komprehensif. Aktivisme yang berangkat dari akidah akan melahirkan perjuangan yang konsisten, bernilai ibadah, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Sinergi Menuju Perubahan yang Hakiki

Membina dan mengarahkan Gen Z bukan tanggung jawab individu semata. Diperlukan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara. Keluarga menjadi garda terdepan dalam menanamkan akidah.

Masyarakat berperan menciptakan budaya amar ma’ruf nahi munkar. Sementara negara memiliki posisi strategis dalam membangun sistem pendidikan, media, dan kebijakan publik yang selaras dengan nilai-nilai Islam.

Tanpa sinergi ini, Gen Z akan terus terombang-ambing dalam derasnya arus digital—aktif tetapi kehilangan arah, kritis namun miskin pijakan ideologis.

Sebaliknya, dengan bimbingan paradigma Islam yang lurus, Gen Z berpeluang besar tampil sebagai agen perubahan sejati, generasi yang mampu memanfaatkan era digital untuk menegakkan kebenaran dan menghadirkan solusi peradaban. Wallahu a‘lam.[]

Comment