Al Quran Menyibak Dendam Yakjuj Wa Makjuj di Balik Serangan Zionis Plus AS ke Iran

Opini1161 Views

 

Penulis: Salas Aly Temur

“Sesungguhnya Yakjuj Wa Makjuj adalah Perusak di Atas Bumi (Mufsiduna FilArdl)” QS AlKahfi:94

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Tanggal 17 Ramadhan selalu hadir dengan dua cahaya. Ia adalah malam ketika Al-Qur’an diturunkan (Nuzulul Qur’an) dan hari ketika pasukan kecil nan beriman di Badar meraih kemenangan besar atas pasukan kafir Quraisy yang sombong.

Dua peristiwa agung ini tak pernah kering menginspirasi kehidupan beragama kaum muslimin sepanjang masa, mengajarkan bahwa pertolongan Allah adalah pasti bagi mereka yang berjuang di jalan kebenaran, meskipun tantangan tampak mustahil.

Pada momentum Ramadhan tahun ini (1447 H), semangat Perang Badar menemukan relevansinya. Umat Islam menyaksikan serangan brutal dari dua negara yang mengklaim diri paling bermoral—Israel dan Amerika Serikat—terhadap Iran yang berdaulat. Kedua negara arogan yang terikat erat dengan kepentingan zionis internasional ini melancarkan agresi, seolah sejarah dan moralitas tak lagi punya arti.

Namun, semangat Badar justru membangkitkan optimisme: pertolongan Allah akan datang bagi mereka yang tertindas, sekaligus menjadi pelajaran bagi kaum kafir yang sombong.

Semangat ini menjalar di tubuh umat Islam hari ini, meskipun berbagai propaganda gencar diluncurkan untuk membenturkan umat dengan narasi-narasi sektarian seperti Sunni-Syiah.

Untuk membaca peristiwa ini secara utuh, kita harus menggali akar masalahnya lebih dalam, melampaui argumen permukaan bahwa kebencian zionis terhadap Iran hanya karena dukungan Teheran pada perjuangan Palestina, Lebanon, dan Suriah.

Memang, Iran bertindak dengan platform eskatologisnya, meyakini bahwa Imam Mahdi dan para pejuang dari Khurasan akan membebaskan Yerusalem. Keyakinan yang mengakar sejak Revolusi 1979 ini menjadi ancaman eksistensial bagi entitas zionis. Namun, ada dimensi lain yang lebih purba, yang diungkap oleh Al-Qur’an sendiri.

Secara alkitabiah, seharusnya tidak ada kebencian mendasar antara Bani Israil dan bangsa Persia. Kitab suci bangsa Yahudi (Tanakh= Taurat Nevim Khetuvim) mencatat dengan tinta emas jasa besar Raja Persia, The Great Cyrus (Koresh Agung), yang membebaskan Bani Israil dari perbudakan Babilonia pada abad ke-6 SM.

Cyrus dan keturunannya tidak hanya mengizinkan mereka kembali ke tanah suci Palestina, tetapi juga membantu pembangunan kembali Solomon Temple (yang kita kenal sebagai Baitul Maqdis). Sejarah ini menunjukkan hubungan erat berbasis tolong-menolong di atas fondasi monoteisme. Lalu, mengapa Zionis masa kini begitu membenci Persia?

Al-Qur’an Surah Al-Kahfi memberikan petunjuk penting. Banyak ulama dan mufasir terkemuka, seperti Abdul A’la Al-Maududi dan Maulana Abul Kalam Azad, mengidentifikasi bahwa sosok agung Dzulkarnain yang disebut dalam surah tersebut adalah tidak lain The Great Cyrus, pendiri bangsa Persia.

Dialah penguasa agung yang kisahnya dipertanyakan para rahib Yahudi di Yatsrib kepada utusan Quraisy untuk menguji kenabian Muhammad SAW.

Salah satu episode terpenting dari kisah Dzulkarnain adalah saat ia membendung kerusakan kaum Yakjuj wa Makjuj (Gog and Magog). Mereka adalah kelompok brutal dari kawasan utara, di balik pegunungan Kaukasus, yang daya rusaknya berhasil dihentikan oleh tembok kokoh buatan Dzulkarnain. Di sinilah letak kunci pembacaan konflik modern.

Al-Qur’an dan hadits Nabi mengabarkan bahwa di akhir zaman, Yakjuj wa Makjuj akan kembali bangkit melakukan kerusakan di muka bumi. Mereka haus kekuasaan dan ingin menggenggam dunia. Lalu, siapakah mereka hari ini? Catatan sejarah abad ke-8 Masehi membawa kita pada konversi besar-besaran Kerajaan Khazar di kawasan utara Kaukasus.

Sebuah kerajaan penyembah berhala yang kemudian memeluk agama Yahudi, setelah menolak dakwah Islam dari Bani Abbasiyah dan ajakan menjadi Nasrani dari Romawi Timur (Konstantinopel). Dalam proses ini, mereka dibantu oleh para pemuka Yahudi Sepharadim dari Spanyol.

Bangsa Khazar, yang merupakan keturunan Yafit (bukan keturunan Sam seperti Bani Israel), kemudian menyebar ke Eropa Timur, terutama setelah runtuhnya tembok di Lembah Darial (Georgia) akibat gempa besar pegunungan salju Kherbeks. Mereka inilah yang kemudian diidentifikasi sebagai cikal bakal Yahudi Ashkenazi, sering disebut sebagai suku Yahudi ke-13.

Mereka tidak memiliki keterhubungan genetika dengan Nabi Ya’qub (Israel), sebagaimana diperkuat oleh kajian genetik modern, misalnya dari Hopkins Institute, yang menunjukkan mereka lebih identik dengan leluhur dari kawasan Kaukasus—dengan kata lain, keturunan dari bangsa yang dulu diblokade oleh Dzulkarnain.

Memahami hal ini, kita dapat menangkap lapisan kebencian yang lebih dalam dari para pemimpin Zionis seperti Netanyahu dan para elitnya yang haus perang. Sebagai Yahudi Ashkenazi, kebencian mereka kepada Persia (Iran) bukan semata-mata konflik politik kontemporer.

Ia berakar pada dendam ambisi nenek moyang mereka—Yakjuj wa Makjuj—yang ambisi ekspansi dan kekuasaannya pernah digagalkan untuk selama-lamanya oleh raja Persia, Dzulkarnain, dengan temboknya yang kokoh dan abadi dalam ingatan sejarah Al-Qur’an.

Serangan Zionis dan Amerika terhadap Iran di bulan Ramadhan ini, dengan demikian, bukan hanya agresi militer biasa. Ia adalah tabrakan peradaban antara kebenaran yang dilandasi kesalehan (sebagaimana ditegaskan Allah dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 105 tentang kepemilikan tanah suci yang diwariskan pada hamba-hamba-Nya yang saleh) dan kebatilan yang dilandasi ambisi destruktif kuno.

Zionis menduduki Palestina dengan aneksasi, penindasan, dan pembunuhan—tindakan yang mengidentifikasi ketidakshalehan mereka.

Semangat Perang Badar mengajarkan kita untuk tidak gentar. Pertolongan Allah akan datang, sebagaimana Ia pernah memenangkan Rasulullah dan para sahabat yang tertindas atas keangkuhan Abu Jahal.

Kini, umat Islam menyaksikan bagaimana Al-Qur’an sendiri membongkar tabir sejarah, mempertautkan peristiwa masa lampau dengan realitas masa kini.

Kebencian Zionis Ashkenazi kepada Iran adalah bukti nyata bahwa janji Allah tentang kebangkitan Yakjuj wa Makjuj dan perlawanan oleh kekuatan iman atas perilakunya adalah sebuah kepastian dan kekuatan iman tidak mudah untuk dikalahkan. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Comment