Di Balik Visi Yogyakarta sebagai The Little Singapore

Daerah1 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, YOGYAKARTA — Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menjelaskan alasan di balik visinya menjadikan Yogyakarta sebagai The Little Singapore. Menurutnya, Singapura dipilih sebagai acuan karena memiliki karakter yang lebih dekat dengan Indonesia, baik dari sisi geografis, iklim, maupun kultur masyarakat Asia.

Hal itu disampaikan Hasto saat berdialog dengan wartawan di Rumah Dinas Wali Kota Yogyakarta, Ahad (28/6/2026).

“Singapura dekat dengan Indonesia, iklimnya hampir sama, dan sama-sama berada di Asia. Masyarakat akan lebih mudah memahami contoh yang dekat dengan mereka,” kata Hasto.

Ia menilai kurang tepat apabila Yogyakarta mengambil contoh kota-kota di Eropa, seperti Wina, karena memiliki kondisi geografis, iklim, dan budaya yang berbeda.

“Kalau mengambil contoh Wina di Eropa, itu terlalu jauh dan kondisi iklimnya juga berbeda,” ujarnya.

Hasto juga menyoroti perilaku sebagian masyarakat Indonesia yang mampu bersikap disiplin saat berada di Singapura, namun belum konsisten menerapkannya ketika kembali ke tanah air.

Karena itu, menurut dia, visi The Little Singapore tidak berhenti sebagai slogan, melainkan diwujudkan melalui berbagai program nyata di lapangan.

Salah satunya dengan turun langsung ke masyarakat, termasuk melakukan patroli sungai menggunakan perahu karet untuk melihat kondisi kebersihan secara langsung. Pemerintah Kota Yogyakarta juga menyediakan gerobak pengangkut sampah sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan kebersihan.

“Kami tidak hanya membangun wacana, tetapi turun langsung melihat realitas di lapangan, termasuk bagaimana perilaku masyarakat dalam membuang sampah,” katanya.

Menurut Hasto, pengawasan terhadap kebersihan tidak hanya dilakukan di kawasan daratan, tetapi juga menyasar sungai-sungai di wilayah Kota Yogyakarta. Upaya upaya ini diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan secara menyeluruh.

Selain persoalan sampah, Pemkot Yogyakarta juga melakukan penataan kota melalui pembersihan “sampah visual”, seperti kabel-kabel utilitas yang semrawut. Kabel-kabel tersebut secara bertahap akan dipindahkan ke bawah tanah agar wajah kota menjadi lebih rapi dan nyaman dipandang.

Pemerintah Kota Yogyakarta juga menjalankan program bedah rumah bagi hunian yang dinilai tidak layak, terutama di kawasan permukiman padat dan gang-gang sempit.

Di bidang sumber daya manusia, Hasto mengatakan penguatan kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu program pendukung visi tersebut melalui pengembangan Kampung Inggris. Program itu diharapkan melibatkan perguruan tinggi untuk mendampingi masyarakat.

Selain itu, potensi wisatawan mancanegara juga dapat dimanfaatkan sebagai mitra pembelajaran bahasa agar mereka bisa lebih lama tinggal lebih lama di Yogyakarta, sekaligus mendorong interaksi yang memberi manfaat bagi masyarakat setempat.

Sebagai langkah dan upaya mendukung visi besar ini, Ignatius Trihastono, S.Sos., M.M. yang lebih akrab disapa Kelik ini melakukan sosialisasi di berbagai platform dan terjun langsung dalam kegiatan warga.

“Hal ini lebih efektif dan efisien. Tidak banyak mengeluarkan anggaran. ” Imbuhnya. []

Comment