by

Aliansi Lintas BEM DKI Jakarta Menilai Issue Utang Negara Digiring Ke Ranah Politik

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Terkait pernyataan Menteri Keuangan kabinet Kerja, Sri Mulyani beranggapan adanya pihak yang sengaja membesar-besarkan isu utang, yang menurutnyaUtang ialah hal yang biasa dalam pengelolaan keuangan. Lagipula, keputusan pemerintah menambah utang bukan tanpa alasan. 

Hal itu guna menutup defisit anggaran negara di APBN akibat belanja negara yang selalu lebih besar dari penerimaan negara. Meski begitu, Pemerintah takkan tinggal diam, namun mengelola utang tersebut secara hati hati dan akuntabel. Dengan begitu, utang ditarik tetap produktif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. 

Sehubungan itu, Fhaiz Leslilawang, perwakilan Aliansi Lintas BEM Jakarta mengemukakan di negara Indonesia ini Pemimpin mana yang tidak punya hutang ? namun kesejahteraan masyarakat inilah yang menjadi masalah utama, demikian utaranya saat sesi diskusi bertajuk,”Warning…!!! Indonesia Dalam Bahaya ‘Utang Negara Membengkak’ Ini Salah Presiden Jokowi atau Warisan Presiden Sebelumnya ???” yang digelar di bilangan Rawamangun, Jakarta. pada Senin (16/4).

“Pemerintah membuat kebijakan berhutang pada beberapa negara, tentunya membawa namanya kesejahteraan pada masyarakat Indonesia” papar aktivis muda mahasiwa perwakilan Aliansi BEM Jakarta itu.

Adapun catatan utang RI yang sudah menembus Rp 3.706 triliun pada bulan Juni tahun 2017 lalu, bahkan Sri Mulyani mengatakan angka itu masih jauh lebih rendah ketimbang jumlah utang negara negara maju, semisalnya Amerika Serikat dan Jepang. Bahkan Jerman yang paling sehat Eropa pun utangnya gede, kata mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu. 

SMI justru menilai masalah utama di Indonesia bukanlah persoalan ada uang atau tidak, dimana problem besar APBN bukanlah soal utang, namun belanja negara yang mencapai Rp 2.133 triliun pada tahun ini, dan jumlah belanja sebesar itu harusnya mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat, mengurangi kemiskinan uang atau tidak. 

Pemerintah menilai posisi utang negara masih aman lantaran baru 28% dari produk domestik bruto (pdb), lebih rendah Dibandingkan batas yang ditentukan diundang undang yakni sebesar 60% terhadap PDB. Sementara, jika dibandingkan dengan sejumlah negara, rasio utang RI persen, PDB dinilai masih kecil, dimana rasio utang Malaysia 40 persen, Thailand 50%, Jepang 200% dan AS Rasio efektivitas 100%.

“Pemimpin berhutang, namun yang patut digarisbawahi bertujuan untuk kesejahteraan, baik merata bagi masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” ujarnya.

“Namun kini nampaknya menurut kajian hemat kami, persoalan ini mampu digiring ke ranah politik,” ungkapnya.

Ditambah lagi, persoalan terkait dimama setiap tahun, pemerintah pusat menggelontorkan lebih dari Rp 700 triliun dan ke daerah dan desa. 

Dirinya mempertanyakan efektivitas penggunaan anggaran oleh pemerintah daerah dan pejabat desa, sebab berdasarkan data BPS, jumlah penduduk miskin bukannya turun namun justru bertambah. 

Tahun ini, pemerintah pusat menggelontorkan dana transfer daerah mencapai Rp 764 triliun termasuk Rp 60 triliun alokasi dana desa. Bahkan tahun lalu dana transfer daerah dan dana desa mencapai Rp 776 triliun. 

“Alokasi dana desa sebesar Rp 60 triliun, maka satu dari 72.000 desa di Indonesia, rata rata alokasi dana sekitar Rp 800 juta-an,” tukasnya.

Namun apakah hasilnya berdampak kepada peningkatan kesejahteraan rakyat? Hal inilah yang masih dipertanyakan.”Ada indikasi tidak sampai ke desa sampai sebesar itu,” bebernya.

Utang membengkak hanya melihat dari satu sudut pandang, tanpa melihat dari sudut pandang yang lain, masih ada negara lain yang berhutang.”Jangan menilai negara kita hutangnya, namun melihat perkembangan pembangunan di daerah,” kemukanya 

“Maka itulah terkait Utang, dibangun sebuah opini, hingga dipolitisasi lalu digiring ke ranah politik. Kami perwakilan Aliansi Lintas BEM DKI Jakarta masih dalam kajian kajian dan belum turun ke jalan, masih belum ada wacana untuk turun ke jalan, dan tetap konsisten dalam kajian ilmiah,” pungkasnya.[Nicholas]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 + 9 =

Rekomendasi Berita