Penulis: Dr Shamsi Ali, Lc, M.A | Direktur Jamaica Muslim Center New York
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dalam menjalani kehidupan, kita sering lupa bahwa seluruh pergerakan alam semesta berada dalam genggaman Allah, Sang Maha Pencipta (Al-Khaliq) dan Maha Pengatur (Al-Mudabbir).
Segala sesuatu bergerak atas kehendak-Nya. “Bi yadihil-mulk”—di tangan-Nya segala kekuasaan. Dan Dia berkuasa atas segala sesuatu: “Wa Huwa ‘ala kulli syai’in qadir.”
Di hadapan kehidupan, kita memang dituntut untuk merencanakan, berikhtiar, mengejar target, dan menghitung berbagai kemungkinan. Namun, tak jarang kita merasa gelisah ketika kenyataan tidak berjalan sebagaimana yang kita harapkan.
Kita kecewa, marah, bahkan terkadang mempertanyakan keadaan dan tanpa sadar menyalahkan Allah atas sesuatu yang berada di luar kendali kita.
Bukankah sudah waktunya kita berhenti sejenak?
Lihatlah matahari yang terbit pada waktunya. Perhatikan bulan yang beredar pada garis edarnya. Pandanglah bintang-bintang yang tetap menghiasi langit malam. Semua bergerak dalam keteraturan yang sempurna, tanpa pernah kita minta dan tanpa pernah kita atur.
Lalu, sejak kapan kita merasa harus mengendalikan seluruh perjalanan hidup?
Boleh jadi, yang membuat kita lelah bukan semata-mata karena beratnya persoalan. Kita lelah karena terlalu lama memikul sesuatu yang sebenarnya bukan menjadi tanggung jawab kita: mengendalikan hasil akhir kehidupan.
Tugas kita adalah berikhtiar. Tugas kita adalah berdoa. Tugas kita adalah terus melangkah dengan sebaik-baiknya. Adapun hasil akhirnya, ada dalam genggaman Allah.
Maka, mari kita berhenti sejenak. Tarik napas perlahan dan istafti qalbak—bertanyalah kepada hati.
“Apakah aku benar-benar telah bersandar kepada Allah, atau selama ini aku hanya meminta Allah membenarkan apa yang sudah kuinginkan?”
Pertanyaan itu mungkin terasa dalam. Namun terkadang, ketenangan justru dimulai dari keberanian untuk jujur kepada diri sendiri.
Bisa jadi ada doa yang belum terkabul bukan karena Allah tidak mendengar. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada yang kita minta. Bisa jadi waktunya belum tiba.
Mungkin Allah sedang mempersiapkan diri kita agar ketika jawaban itu datang, kita benar-benar siap menerimanya.
Kita tidak harus memahami seluruh cara kerja alam semesta untuk dapat mempercayai Sang Pengaturnya.
Demikian pula dalam kehidupan. Kita tidak selalu harus mengerti mengapa sesuatu terjadi untuk tetap percaya bahwa Allah tidak pernah salah dalam menetapkan takdir.
Karena itu, setelah seluruh ikhtiar kita tunaikan, belajarlah berkata dengan hati yang lapang.
“Ya Allah, aku telah berusaha. Aku telah berdoa. Selebihnya, aku serahkan kepada-Mu.”
Di situlah tawakal menemukan maknanya.
Ketenangan sejati bukanlah ketika seluruh persoalan hidup telah selesai. Ketenangan hadir ketika kita sadar bahwa di balik setiap persoalan, ada Allah yang tidak pernah kehilangan kendali.
Langit tetap tegak tanpa tiang yang terlihat. Bumi tetap berputar tanpa kita kendalikan. Matahari tetap terbit tanpa kita perintah.
Maka jangan biarkan hati kita runtuh hanya karena satu rencana gagal, satu doa belum terkabul, atau satu jalan terasa tertutup.
Bersandarlah kepada Allah.
Sebab manusia bisa mengecewakan. Keadaan bisa berubah. Rencana bisa gagal. Kekuatan kita bisa melemah.
Tetapi Allah tidak pernah goyah.
Maka, ketika dunia terasa kehilangan pegangan, jangan mencari sandaran yang mudah runtuh. Kembalilah kepada Allah, berpegang teguh pada al-‘Urwatul Wutsqa—tali yang kokoh dan tidak akan putus.
Berusahalah tanpa merasa paling menentukan. Berdoalah tanpa memaksa hasil. Bersabarlah tanpa kehilangan harapan.
Sebab selama Allah menjadi sandaran, kita tidak pernah benar-benar sendirian.
InsyaAllah.[]









Comment