Antara Pintar dan Bijaksana, di Mana Posisi Kita? 

Dari Redaksi19 Views

 

Otak Membuat Manusia Unggul, Tetapi Hati Membuat Manusia Lebih Berharga

 

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Di zaman modern, orang pintar semakin mudah ditemukan. Sistem pendidikan, teknologi, dan kompetisi global terus memproduksi manusia-manusia dengan kemampuan intelektual tinggi. Gelar akademik bertambah, keterampilan meningkat, dan kecerdasan menjadi ukuran keberhasilan sosial.

Namun, di tengah melimpahnya orang pintar, manusia bijak justru terasa semakin langka.

Kepintaran dapat dilatih melalui sekolah dan pendidikan formal. Sementara  sikap dan sifat bijaksana sering kali lahir dari pergulatan hidup, pengalaman, penderitaan, kegagalan, kehilangan, serta kemampuan seseorang memahami makna di balik setiap peristiwa kehidupan.

Psikolog perkembangan asal Jerman-Amerika, Erik Erikson, menyebut bahwa puncak kedewasaan manusia bukanlah kecerdasan, melainkan “wisdom” atau kebijaksanaan.

Dalam bukunya The Life Cycle Completed (1982), Erikson menjelaskan bahwa sikap bijak lahir ketika seseorang mampu menerima hidup secara utuh—termasuk luka, kegagalan, kemenangan, dan kematian—tanpa tenggelam dalam keputusasaan.

Dalam menjalani hidup dan kehidupan, lebih khusus dalam hal ekonomi – orang pintar biasanya berpikir tentang bagaimana mendapatkan keuntungan dengan beragam tindakan. Cara berpikirnya strategis, cepat, dan kompetitif. Ia berusaha menjadi yang terbaik, paling unggul, dan paling menang dalam berbagai arena kehidupan.

Namun, sejarah modern juga memperlihatkan bahwa kepintaran tanpa sikap dan sifat bijaksana justru sering melahirkan kerusakan dalam kehidupan manusia.

Kerusakan alam misalnya, tidak sedikit lahir dari tangan-tangan manusia cerdas yang mengeksploitasi bumi secara berlebihan demi keuntungan ekonomi. Bahkan mereka mengklaim sedang berbuat kebaikan dengan dalih yang dibuat.

Hutan ditebang dengan teknologi modern, tambang dikeruk secara masif, sungai dicemari limbah industri, dan laut rusak akibat kerakusan manusia yang terlalu berorientasi pada pertumbuhan material semata.

Begitu pula dalam bidang politik. Banyak kasus korupsi besar justru dilakukan oleh orang-orang berpendidikan tinggi, memiliki jabatan strategis, dan memahami sistem dengan sangat baik.

Kepintaran dipakai untuk memanipulasi aturan, menyembunyikan kejahatan, dan memperkaya diri sendiri. Dalam kondisi seperti ini, kecerdasan berubah menjadi alat pembenaran kerakusan.

Di titik inilah terlihat perbedaan mendasar antara orang pintar dan orang bijak.

Orang pintar sering kali tunduk kepada uang, jabatan, dan kekuasaan. Ketika kecerdasan tidak dibimbing moral dan hati nurani, maka ilmu dan kepintaran tidak jarang menjadi alat transaksi kepentingan.

Banyak orang rela menjual integritas demi materi, membungkam kebenaran demi jabatan, bahkan mengkhianati nilai kemanusiaan demi keuntungan pribadi.

Orang bijak sangat sulit ditundukkan oleh kekuasaan, apalagi oleh uang. Karena orang bijak tidak lagi dikuasai oleh keinginan nisbi yang hanya sementara.

Bagi mereka, harga diri, nurani, dan nilai kebenaran jauh lebih tinggi daripada materi. Ia memahami bahwa tidak semua hal dapat dibeli. Bijaksana membuat seseorang memiliki kebebasan batin, sehingga ia tidak mudah diperbudak oleh ambisi duniawi.

Psikolog dan filsuf sosial, Erich Fromm, dalam bukunya To Have or To Be? (1976), menjelaskan bahwa manusia modern cenderung terjebak dalam orientasi “memiliki” daripada “menjadi”. Manusia berlomba mengumpulkan kekayaan, status, dan kekuasaan, tetapi kehilangan kedalaman moral dan kemanusiaannya.

Pandangan serupa juga disampaikan psikolog humanistik Abraham Maslow dalam Toward a Psychology of Being (1962). Maslow menjelaskan bahwa manusia yang matang secara psikologis bukanlah manusia yang dikuasai kebutuhan materi semata, melainkan manusia yang mampu melampaui kepentingan dirinya menuju nilai-nilai kemanusiaan yang lebih tinggi.

Karena itu, orang bijak melangkah lebih jauh daripada sekadar untung dan kalah. Ia tidak hanya mempertimbangkan manfaat dari tindakannya, tetapi juga akibat yang ditimbulkan terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya. Baginya filsafat efek domino menjadi hafalan yang mengakar di benaknya.

Dalam perspektif psikologi modern, kebijaksanaan bukan hanya soal kemampuan berpikir logis. Kebijaksanaan adalah perpaduan antara kecerdasan, pengalaman hidup, empati, pengendalian diri, dan moralitas.

Penelitian psikologi yang dipublikasikan dalam jurnal Wisdom: Meaning, Structure, Types, Arguments, and Future Concerns menjelaskan bahwa orang bijak mampu mengintegrasikan kemampuan intelektual dengan nilai kemanusiaan dan kepedulian terhadap kebaikan bersama.

Karena itu, orang pintar lebih cenderung mengandalkan kerja otak, sedangkan orang bijak menggabungkan otak dan hati.

Psikolog Robert J. Sternberg melalui teorinya Balance Theory of Wisdom menegaskan bahwa kebijaksanaan bukanlah kemampuan memaksimalkan kepentingan pribadi, melainkan kemampuan menyeimbangkan kepentingan diri sendiri dengan kepentingan orang lain dan lingkungan sosial.

Dalam bukunya Wisdom, Intelligence, and Creativity Synthesized (2003), Sternberg menyebut bahwa orang bijak selalu mempertimbangkan “common good” atau kebaikan bersama.

Orang pintar berkompetisi dan orang bijak berlomba.

Orang pintar cenderung berkompetisi untuk mengalahkan. Dalam pikirannya selalu ada dikotomi menang dan kalah. Tidak jarang, demi kemenangan, hubungan sosial menjadi korban. Persaingan berubah menjadi pertarungan ego yang diam-diam melukai batin banyak orang dan serakah meskipun dengan cara tidak halal.

Sedangkan orang bijak tidak hidup untuk saling menjatuhkan. Ia lebih memilih berlomba dalam kebaikan. Jika orang lain maju, ia ikut senang. Jika orang lain berhasil, ia tidak merasa terancam. Kebijaksanaan membuat seseorang memahami bahwa kehidupan bukan arena saling menghabisi, melainkan ruang saling menguatkan.

Psikolog Swiss, Carl Jung, menjelaskan bahwa manusia yang matang bukanlah manusia yang sekadar cerdas secara rasional, tetapi mereka yang berhasil menyatukan akal, emosi, pengalaman, dan kesadaran moral dalam dirinya.

Dalam Modern Man in Search of a Soul (1933), Jung menekankan pentingnya kedalaman batin sebagai fondasi kebijaksanaan hidup.

Karena itu, orang bijak sangat berhati-hati terhadap luka rasa.

Ia tidak sekadar berpikir, “Apakah saya mampu melakukan ini?” tetapi juga bertanya, “Apakah tindakan ini akan menyakiti orang lain?”

Ketika sebuah tindakan berpotensi melahirkan keburukan, orang bijak cenderung meninggalkannya, meskipun sebenarnya ia mampu melakukannya. Kebijaksanaan membuat seseorang tidak diperbudak sekalipun oleh kemampuan yang dimilikinya. Di sinilah letak kedewasaan sejati manusia.

Kepintaran bisa membuat seseorang dikagumi. Namun kebijaksanaan membuat seseorang dihormati.

Kepintaran dapat memenangkan persaingan. Tetapi kebijaksanaan mampu memenangkan hati manusia.

Pada akhirnya, dunia mungkin dipenuhi orang-orang pintar. Namun peradaban hanya akan tetap bertahan melalui kehadiran orang-orang bijak.

Agar dunia dan masyarakat sekitar merasakan nuansa positif dan hidup nyaman berdampingan, hiasilah kepintaran dengan Iman dan Islam yang sesungguhnya.[]

 

#Referensi Buku dan Jurnal

The Life Cycle Completed — Erik Erikson (1982).

Wisdom, Intelligence, and Creativity Synthesized — Robert J. Sternberg (2003).

Modern Man in Search of a Soul — Carl Gustav Jung (1933).

To Have or To Be? — Erich Fromm (1976).

Toward a Psychology of Being — Abraham Maslow (1962).

“Wisdom: Meaning, Structure, Types, Arguments, and Future Concerns” — National Library of Medicine.

“A Psychology of Wisdom: History and Recent Developments” — Ursula M. Staudinger.

Comment