Anak-Anak Palestina di Tepi Barat Kian Tidak Terlindungi

Opini52 Views

Penulis: Irma Legendasari | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Suara dentuman bom, hujan peluru, hingga lemparan granat seolah telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari rakyat Palestina, termasuk anak-anak. Di tengah konflik yang terus berlangsung, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan kehilangan rasa aman, tempat tinggal, bahkan nyawa.

Dalam rentang Januari 2024 hingga Juli 2026, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memverifikasi kematian 174 anak Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Angka tersebut menunjukkan bahwa lebih dari satu anak Palestina kehilangan nyawa setiap pekannya.

Kondisi tersebut semakin memprihatinkan. Hingga Agustus 2026, sebanyak 76 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia, termasuk 18 anak di bawah umur. Lebih dari 1.500 anak juga mengalami luka-luka, dengan sekitar separuh di antaranya terluka akibat peluru tajam.

Sementara itu, 355 anak Palestina dari Tepi Barat dilaporkan berada dalam tahanan militer Israel.

Dampak kekerasan tidak berhenti pada korban jiwa dan luka. Sebanyak 3.800 warga Palestina, hampir separuh di antaranya anak-anak, kehilangan tempat tinggal akibat kekerasan pemukim, pembongkaran bangunan, dan penggusuran.

Kondisi tersebut sebagaimana dikutip Republika.co.id pada 12 Agustus 2026, disebut berkaitan dengan upaya memperluas wilayah Israel secara ilegal.

Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka terdapat manusia, keluarga, dan masa depan yang direnggut. Lebih menyedihkan lagi, sebagian dari korban tersebut adalah anak-anak yang semestinya mendapatkan perlindungan, pendidikan, dan kehidupan yang aman.

Kekerasan terhadap anak-anak Palestina juga meninggalkan trauma dan penderitaan yang tidak mudah dipulihkan. Serangan, penangkapan, pengusiran, perampasan tempat tinggal, serta berbagai bentuk kekerasan telah menciptakan situasi yang semakin tidak manusiawi bagi masyarakat sipil, terutama anak-anak.

Kondisi di Tepi Barat menunjukkan bahwa persoalan Palestina bukan hanya tentang konflik bersenjata. Ada persoalan kemanusiaan yang terus berlangsung dan membutuhkan perhatian serius masyarakat internasional.

Sayangnya, kecaman demi kecaman belum mampu menghentikan kekerasan. Berbagai seruan perdamaian dan kesepakatan yang pernah ditempuh belum sepenuhnya mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat Palestina. Kekerasan justru terus berulang dan menempatkan warga sipil dalam situasi yang semakin rentan.

Bagi umat Islam, penderitaan Palestina seharusnya tidak dipandang sebagai persoalan yang jauh dari kehidupan mereka. Palestina memiliki ikatan sejarah, agama, dan kemanusiaan yang kuat dengan umat Islam di berbagai belahan dunia.

Rasulullah SAW mengingatkan tentang kondisi umat yang jumlahnya banyak, tetapi kehilangan kekuatan dan persatuan. Karena itu, banyaknya jumlah umat Islam semestinya diiringi dengan kekuatan, kepedulian, dan persatuan dalam menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan.

Persoalan Palestina juga menunjukkan pentingnya solidaritas umat Islam. Perbedaan batas negara dan kepentingan politik semestinya tidak menghilangkan kepedulian terhadap penderitaan sesama manusia, terlebih ketika korban kekerasan adalah anak-anak.

Dalam perspektif Islam, perlindungan terhadap jiwa dan kehormatan manusia merupakan perkara penting. Kezaliman tidak boleh dibiarkan, terlebih ketika menimpa masyarakat sipil dan anak-anak yang tidak memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri.

Karena itu, dukungan terhadap Palestina tidak cukup berhenti pada kecaman. Dunia internasional, khususnya negara-negara Muslim, perlu mengambil langkah nyata melalui jalur diplomasi, bantuan kemanusiaan, perlindungan masyarakat sipil, serta upaya politik yang efektif untuk menghentikan kekerasan dan memastikan hak-hak rakyat Palestina terpenuhi.

Islam mengajarkan bahwa umat harus saling menolong dalam kebaikan dan mencegah kezaliman. Semangat tersebut semestinya diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menghadirkan perlindungan dan keadilan bagi masyarakat yang tertindas.

Semoga penderitaan rakyat Palestina segera berakhir. Semoga masyarakat sipil, khususnya anak-anak, memperoleh kehidupan yang aman, hak untuk tumbuh dan belajar, serta masa depan yang lebih baik. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Comment