by

Anita Baye*: Bahaya Deislamisasi Bahasa

-Opini-56 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — “Kalau yang berkaitan ucapan semestinya, seorang tokoh bahasanya, harus bahasa yang baik. kalau ada kata lonte keluar dari seorang mubaligh, aduh kok nggak mencerminkan orang yang punya ilmu dan jabatan tinggi.” Ujar KH. Fadholi Hija ditemui di upacara FGD optimalisasi dana haji dan kemaslahatan di Malang, Sabtu siang (21/11/2020).

Komentar ketua majelis ulama Indonesia ( MUI) kabupaten Malang KH fadhol hija menganggap kata-kata lonte yang keluar dari ceramah saat maulid nabi. Tuturan ini tentunya menuai pro dan kontra karena diucapkan langsung oleh ketua MUI Malang.

kata lonte tentunya sebuah kata yang paling hina apalagi disampaikan oleh seorang pendakwah, untuk mengajak ke jalan kebenaran, namun, ada kalanya kata itu memang harus disampaikan dengan lantang, untuk membuat si pelaku jerah, membuat pelaku berpikir, dan membuat pelaku segera bertobat. karena kata disana akan membuat rasa malu yang luar biasa.

Lonte menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI)adalah perempuan jalang; wanita tunasusila; pelacur; sundal (https://kbbi.web.id/lonte)

Lonte adalah sebutan bagi wanita pezina, wanita rendah, wanita hina yang merusak tatanan moral kehidupan. Pezina tidak hanya merusak dirinya tapi juga keluarga, keturunanan masyarakat dan negara. Pezina sendiri sangat buruk dalam kacamata (worldview)Islam, diantaranya :

Zina mendatangkan azab jika tidak segera dihilangkan;

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللّٰهِ .

_”Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri”_
(HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Azab Allah akan berjatuhan seiring semerbaknya pelaku zina, di suatu negeri. Azab yang tidak akan hanya merusak dirinya tapi ikut dirasakan oleh semua orang. Sebab itu pelaku zina memang harus diberantas untuk menghindari azab Allah terhadap kita semua.

Bahkan mendekati zina saja haram hukumnya:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

_”Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”_ (QS. Al Isro 32)

Zina seperti apakah itu, yaitu zina berinteraksi dengan laki-laki tanpa ada batasan. Sehingga masuk kegolongan zina pemikiran, zina mata dan zina hati. Sehingga Islam yang mulia menetapkan batasan hanya dalam perkara pendidikan, muamalah , kesehatan dan hal lain yang benar-benar mendesak.

Hukuman bagi orang pezina adalah dijilid dan disaksikan orang banyak seperti dalam QS An Nur 2 sd 4, atau bagi yang sudah menikah, pelakunya dirazam hingga mati seperti dalam kasus Ma’iz bin al-Aslami, dan seorang wanita dari al-Ghamidiyyah.

Zina juga termasuk dosa besar, berkenaan dengan ini pula, Syekh Syamsuddin Muhammad bin Qaimaz at-Turkumani Al-Fariqi ad-Dimasqi asy-Syafii Adz-Dzahabi (673-748 H/1274-1348 M)memetakan dosa-dosa besar dalam kitab al-Kaba`ir.

Dalam kitabnya setebal 179 halaman tersebut, Syaikh Adz-Dzahabi menyebutkan, ada 70 dosa besar salah satunya berzina.

Inilah pandangan Islam bagi pezina, pelaku yang dilaknat, pelaku yang sangat rendah dimata Allah تَعَالَى dan RosulNya (kecuali ia bertaubat nasuhah), zina jangankan melakukannya, mendekatinya saja haram.

Sudah menjadi tanggung jawab dan tugas ulama menjelaskan ke masyarakat terkait dosa besar ini, karena ulama adalah pewaris para nabi. Ulama wajib menyampaikan kebenaran secara lantang .

Pandangan Islam bahwa lonte dilaknat, namun tidak dengan sekuler yang mengganti sebutan lonte dengan sebutan PSK atau pekerja sex komersial.

Namun karenaHanya ingin dianggap lembut, dianggap bijaksana, dianggap modern, lalu seorang ulama tidak boleh mengatakan kata-kata yang akan merugikan pelaku, lantas bagaimana keturunan para generasi yang akan datang, bagaimana orang yang awam (tidak tau bahasa modern).

Akan rasa tidak malu pada pelaku selanjutnya, padahal mereka melakukan hal hina tapi karena sebutan yang terhormat membuat mereka biasa aja.

Maka layaknya pekerja dalam sistem sekuler mereka diberi tempat terhormat, seolah profesi mulia karena memenuhi kebutuhan keluarga, mungkin suatu saat nanti PSK akan punya BPJS atau Jamsostek sendiri atau bahkan serikat pekerjanya sendiri misalnya SIPESEK (Sarikat Pekerja Sex Komersial).

Hal ini memungkinkan terjadi karena ulama tidak mampu membongkar upaya dari pembaruan kata-kata yang sepantasnya dilontarkan namun disederhanakan dalam bentuk kata terhormat lainnya. Itu semuanya akan terjadi jika ulama diam terkait hal ini.

Perubahan sebutan lonte menjadi PSK adalah upaya panjang kaum sekuler untuk mengaburkan makna sesungguhnya.

Di mana makna sesungguhnya lonte adalah orang hina, dilaknat agama dan dikucilkan adat, namun diupayakan baik dimata manusia, tidak memiliki pengaruh apa-apa dan di anggap sebuah kelumrahan, sehingga dianggap biasa saja.. Seperti yang dijelaskan diatas.

Akibatnya, terjadi distorsi makna dan bahasa,yang awalnya pezina terhina sekarang menjadi mulia, maka zaman sekarang menjungkirbalikkan fakta siapapun yang menyatakan pezina atau lonte maka, orang itu lah yang hina karena tak mampu menjaga tutur kata dengan baik, tidak sopan, tidak terhormat menurut pemikiran mereka.

Sehingga mereka akan melawannya dengan narasi sekuler bahwa tidak baik menyebut lonte, sebutlah PSK. Kata yang pantas disebut sebagai penghormatan untuk para pelaku pezina.

Dan ulama yang menyebutkan dan mengingatkan kembali bahayanya lonte ini, mereka hujat dengan pemahaman sekuler atau hanya ikut-ikutan saja tanpa ilmu dengan tuduhan-tuduhan akhlak buruk dll, seolah kaum sekuler lebih faham agama dari pada ulama.

Penggeseran bahasa secara sistematis dan masif yang dilakukan kaum sekuler ini adalah bagian dari deislamisasi umat islam yang salah satunya adalah deislamisasi bahasa.

Hal ini sangat bahaya bagi umat, seandainya jika tidak ada ulama yang dakwah benar, ikhlas dan berani, maka generasi setelah kita akan kacau. Karena akan menekan keberanian mereka dalam menjungkirbalikkan fakta sesungguhnya.

Selanjutnya ulama harus memilih terhadap tuturan dalam berbicara harus yang baik saja, sehinga terjadilah pembenaran pembaruan kata tadi, kata yang hanya mampu di pahami oleh segelintir orang dan sebagian lainnya tak memahami makna yang sesungguhnya.

Coba bayangkan beberapa tahun ke depan, generasi kita, mereka tak faham kata lonte, mereka malah menganggap lonte adalah bagian dari pekerja/profesi yang mulia, yang berhak dijamin negara keberadaannya, yang berhak punya BPJS jika sakit HIV, Jamsostek atau apalah sejenisnya.

Ketika kelak generasi setelah kita menganggap lonte mulia, maka mereka akan mendapat pertentangan luar biasa dengan Islam. Mereka akan menemukan persinggungan yang luar biasa dengan Al quran, hadit dan qaul ulama.

Di mana Islam memandang pezina (lonte) hina, dan dunia/masyarakat pada masa mereka kelak memandang pezina (PSK) mulia.

Hal ini akan menimbulkan kegoncangan luar biasa, sehingga memaksa generasi berikutnya untuk memilih, bertahan dengan keasingan pendapat Islamnya, atau meninggalkan agamanya.

Jadi bersyukurlah jika masih ada yang berani mengungkapkan hal yang sebenarnya, siapapun dia. Sejatinya kita ajukan jempol.[]

*Mahasiswi STMIK El Rahma,
Teknik informatika

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 + 13 =

Rekomendasi Berita