Konsekuensi Logis: Apa yang Terjadi adalah Akibat dari Ulah Anda Sendiri

Motivasi409 Views

Penulis: Amir Kumadin | Alumni IAIN Walisongo Semarang, Direktur Penerbit Intuisi Press, Penulis Lebih dari 15 Judul Buku

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dalam tulisan yang lain, saya sudah kupas tuntas bahwa “keberadaan dan kondisi Anda saat ini adalah akibat dari perbuatan dan ulah diri Anda sendiri”.

Di sini Anda jangan kaget, jika ketidaktahuan atas hikmah dan ilmu tersebut ternyata memiliki konsekuensi logis dan implikasi yang mengerikan dan sangat fatal dalam perjalanan hidup Anda.

Mari kita perhatikan kehidupan yang Anda alami sehari-hari!

Anda terlambat datang masuk kantor (tempat kerja), lalu Anda bilang, “Karena jalan macet”.

Anda naik motor jatuh di jalan raya, lalu Anda bilang, “Orang itu naik motor sembarangan, sehingga saya kesrempet dan jatuh”.

Anda marah, lalu Anda bilang, “Karena saya dibohongi orang itu”.

Dari beberapa contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa rupanya masalah yang menimpa Anda, atau apa saja yang terjadi dengan Anda, yang salah adalah orang lain, yang salah di luar diri Anda, yang salah adalah merupakan suatu akibat dari suatu sebab.

Ilmu hakikat (tasawuf) dan ilmu filsafat mengajarkan kepada kita, bahwa setiap kejadian yang terjadi dengan Anda, pada dasarnya berasal dari subyek yang bernama Anda, berasal dari sebab yang bernama Anda.

Yakni, bersumber dari pilihan-pilihan yang Anda ambil, pilihan-pilihan yang Anda bikin sendiri.

Jika Anda masih penasaran, maka yuk ikuti terus pembeberan berikut ini!

Anda terjebak macet sehingga Anda terlambat datang ke tempat kerja, itu adalah pilihan yang Anda bikin sendiri. Mungkin Anda berangkat kerja terlalu siang. Coba jika Anda memilih berangkat jauh lebih pagi, maka Anda bisa sampai ke kantor sebelum jam masuk kerja.

Anda jatuh di jalan raya, itu adalah pilihan Anda. Mungkin Anda berkendara tidak berdoa, tergesa-gesa, tidak konsentrasi, ngebut, kondisi kesehatan Anda sedang menurun, dan seterusnya. Coba jika Anda memilih untuk berkendara dengan berdoa, lebih hati-hati, konsentrasi, tidak ngebut, kondisi kesehatan prima, dst, maka Anda, dengan izin-Nya, tidak akan jatuh di jalan raya.

Anda marah, itu adalah pilihan yang Anda ambil, yang Anda buat sendiri. Mungkin Anda sedang stres, sedang banyak masalah, sedang merasa harga diri Anda terhina, dll. Coba jika Anda berpikir dan memilih untuk tidak marah, tidak sakit hati, tidak merasa terhina, dll, maka Anda akan bersikap tenang, biasa-biasa saja, bahkan Anda yakin bahwa ini merupakan ladang pahala.

Tidak ada orang, atau sesuatu yang ada di luar diri Anda, yang bisa memaksa Anda untuk berbuat sesuatu, tidak ada yang bisa menyakiti Anda tanpa seizin Anda sendiri. Anda sendiri yang memberi peluang orang lain untuk masuk mempengaruhi Anda, atau sebaliknya, Anda menutup peluang itu. Semua pilihan dan perbuatan ada pada kendali Anda sendiri.

So, jika Anda tidak bertanggung jawab atas apa yang menimpa Anda, atas apa yang terjadi dengan Anda, yakni dengan Anda menyalahkan orang lain, menyalahkan benda-benda disekitar Anda, *MAKA* Anda telah menjadi pecundang.

Jika Anda sudah menjadi pecundang seperti itu, maka semua pilihan dan perbuatan akan lepas dari Anda. Kendali itu, pada saat yang sama, akan diambil oleh orang lain. Pilihan dan perbuatan Anda pada akhirnya hanya bergantung pada pilihan dan perbuatan orang lain yang mustahil Anda bisa kontrol.

Artinya, Anda hanya menjadi korban. Anda bukan lagi menjadi subyek lagi, tapi berubah menjadi obyek pilihan dan perbuatan orang lain, atau sesuatu yang berada di luar diri Anda.

Hidup Anda akhirnya akan diombang-ambingkan oleh orang lain dan sesuatu yang berada di luar diri Anda.[]

Comment