Bagaimana Taubat yang Benar? Panduan Imam al-Ghazali dalam Minhaj al-‘Abidin

Opini67 Views

 

Penulis: Muhammad Agus | Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI),
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA — Kitab Minhaj al-‘Abidin merupakan karya terakhir Imam al-Ghazali. Syaikh al-Faqih as-Shalih az-Zahid Abdul Malik bin Abdullah rahimahullah menuturkan bahwa Imam al-Ghazali sendiri mendiktekan isi kitab ini kepadanya. Beliau juga menyampaikan bahwa karya tasawuf yang ringkas dan padat makna ini hanya beliau sampaikan kepada para sahabat terdekatnya.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa perjalanan menuju surga dan meraih ridha Allah bukanlah perkara mudah. Jalan itu penuh tantangan dan ujian. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَلاَ وَإِنَّ الْجَنَّةَ حُفَّتْ بِالْمَكَارِهِ، وَأَلاَ وَإِنَّ النَّارَ حُفَّتْ بِالشَّهَوَاتِ

“Ketahuilah, surga itu dipagari oleh hal-hal yang tidak disukai (kesulitan dan ujian), dan ketahuilah bahwa neraka dipagari oleh syahwat (hal-hal yang menyenangkan hawa nafsu).”

Karena itulah Imam al-Ghazali menyusun kitab Minhaj al-‘Abidin, sebagai panduan agar kita lebih mudah menapaki jalan menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Dalam kitab ini, beliau menjelaskan berbagai ‘aqobat (rintangan) yang harus dilalui seorang hamba, dan salah satu rintangan penting tersebut adalah ‘Aqobah at-Taubah — rintangan yang berkaitan dengan taubat.
Kenapa sih kita harus bertaubat?
Setidaknya ada dua alasan utama.

Pertama, agar kita mendapatkan taufik (pertolongan) dari Allah untuk bisa terus taat kepada-Nya. Sebab, dosa yang kita lakukan sebenarnya dapat menghilangkan kenikmatan dalam beribadah dan sering kali menjadi penghalang bagi kita untuk berkhidmah kepada Allah.

Karena itu, bertaubatlah!
Alasan kedua mengapa taubat menjadi sangat penting adalah agar amal-amal yang kita lakukan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ibarat seseorang yang punya utang besar di sebuah toko. Bertahun-tahun sudah ia ditagih, tetapi tak kunjung membayar. Ketika akhirnya ia datang ke toko itu, penjaganya mengira ia akan melunasi utangnya.

Namun ternyata, ia justru ingin membeli barang baru—bahkan menambah utang. Tentu saja, permintaan itu tidak akan dilayani sebelum ia menyelesaikan utang lamanya. Begitu pula kondisi seseorang yang mempersembahkan amal sunnah kepada Allah, sementara kewajiban taubat dan hak-hak dosanya belum ia selesaikan.

Setelah memahami betapa pentingnya taubat, kita juga perlu mengetahui apa sebenarnya makna taubat, serta syarat-syarat yang harus dipenuhi. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

A. Makna Taubat. Secara terminologis, taubat berarti ruju‘—kembali kepada Allah. Sementara secara etimologis, taubat bermakna membersihkan hati dari dosa, disertai pengagungan kepada Allah dan menjauhi segala yang dapat mendatangkan kemurkaan-Nya. Karena itu, istilah seperti “taubat cabai”, “taubat sambal”, atau sejenisnya sebenarnya kurang tepat.

Dalam ajaran Islam, taubat itu hanya satu: taubat nasūhah—taubat yang tulus, bersungguh-sungguh, dan dilakukan semata- mata karena Allah.

B. Syarat-syarat Taubat. Setelah memahami apa itu taubat, tentu ada langkah-langkah yang harus ditempuh. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa ada empat syarat yang harus dipenuhi seorang hamba agar taubatnya benar-benar menjadi taubat nasūhah. Adapun syarat-syarat tersebut di antaranya adalah:

1. Menguatkan Tekad untuk Tidak Mengulang Dosa. Deorang hamba harus memiliki tekad yang kuat untuk tidak kembali pada dosa yang pernah ia lakukan. Jika masih ada keraguan atau kekhawatiran dalam dirinya bahwa ia akan mengulanginya lagi, maka ia belum dapat dikatakan sebagai tā’ib, karena hatinya masih terikat oleh dosa itu.

2. Menyucikan Diri dari Dosa-Dosa Masa Lalu. Ia harus bertaubat dari dosa-dosa yang telah dikerjakannya di masa lalu. Sementara seseorang yang tidak pernah melakukan dosa, maka ia disebut muttaqiyan—orang yang selalu menjaga diri dari maksiat—sebagaimana sifat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam.

3. Menjahui Segala Jalan yang Mengantarkan pada Dosa
yaitu meninggalkan semua jalan atau usaha yang dapat mengantarkan seseorang kembali pada dosa, dengan kadar yang sebanding dengan dosa yang pernah ia lakukan.

Misalnya, seorang yang sudah lanjut usia sehingga tidak lagi mampu berzina atau mencuri. Ia tidak bisa disebut bertaubat hanya karena meninggalkan perbuatan itu—bisa jadi ia berhenti bukan karena kesadaran, tetapi karena fisiknya tak lagi memungkinkan.

Karena itu, ia harus menjauhkan diri dari segala bentuk maksiat lain yang setingkat, seperti berbohong, bergunjing (ghibah), mengadu domba (namimah), dan hal-hal serupa. Dengan demikian, ia benar-benar menunjukkan kesungguhannya dalam bertaubat.

4. Ikhlas Semata-mata Karena Allah.
Taubat harus dilakukan dengan niat yang benar-benar tulus, yaitu karena mengagungkan Allah dan takut akan kemurkaan-Nya. Taubat tidak boleh dilakukan karena faktor duniawi, rasa takut kepada manusia, ingin mendapat pujian, atau kepentingan pribadi lainnya. Taubat yang benar hanyalah taubat yang lahir dari hati yang ikhlas semata-mata karena Allah.

Setelah memahami syarat-syarat taubat, mungkin saja hati kita masih merasa berat atau ragu apakah kita mampu menghadapi berbagai tantangan dalam proses taubat.

Karena itu, Imam al-Ghazali memberikan beberapa nasihat agar kita tetap termotivasi untuk bertaubat, meskipun dosa sering kembali muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, kita perlu terus mengingat betapa buruk dan hinanya dosa yang pernah kita lakukan. Kesadaran ini akan menumbuhkan rasa enggan dan jijik terhadap maksiat, sehingga kita terdorong untuk menjauhinya.

Kedua, kita harus merenungkan betapa kerasnya azab Allah yang diperuntukkan bagi orang-orang yang durhaka. Dahsyatnya hukuman tersebut seharusnya menumbuhkan rasa takut dalam diri kita dan membuat kita kembali kepada-Nya dengan penuh ketundukan.

Ketiga, kita harus menyadari betapa lemahnya diri kita. Kita yang tidak sanggup menahan panasnya matahari atau sekadar gigitan semut, tentu tidak akan mampu menghadapi azab yang jauh lebih dahsyat—seperti gigitan ular yang kepalanya sebesar leher unta, atau sengatan kalajengking sebesar keledai. Na‘ūdzu billāhi min dzālik.

Semoga dengan perenungan ini, Allah menguatkan hati kita untuk senantiasa bertaubat dan istiqamah di jalan-Nya.
وَاللهُ الْمُسْتَعَان

#Referensi : Kitab Minhajul Abidin Karya Imam al-Ghazali

Comment