RADARINDONESIANEWS. COM, LEMBANG — Kawasan hijau seluas dua hektare milik Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang tampak lebih hidup sejak Senin (18/5/2026). Tokoh, pegiat, mentor, petani muda, akademisi, hingga aktivis pertanian organik dari berbagai daerah di Indonesia berdatangan mengikuti sertifikasi fasilitator pertanian organik bersertifikat nasional.
Sebanyak 49 peserta dari berbagai daerah memadati ruang sertifikasi yang telah disiapkan panitia. Suasana penuh semangat sekaligus tegang terlihat di antara para peserta. Sebagian tampak santai berbincang, sementara lainnya sibuk memeriksa kembali portofolio dan bahan asesmen.
“Ini seperti ujian hidup bagi pejuang organik,” ujar salah seorang peserta sambil tersenyum.
Peserta berasal dari berbagai lembaga dan komunitas, mulai dari Aliksa Organic SRI Consultant, BBPP Lembang, Polbangtan Yoma, sejumlah P4S, gapoktan, perguruan tinggi, organisasi petani muda, hingga komunitas organik dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Bangka Belitung, dan daerah lainnya.
Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah Rochmad Taufiq, pegiat pertanian organik asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Taufiq dikenal mengembangkan budidaya pisang yang terintegrasi dengan peternakan ayam kampung dan domba.
Di sela kegiatan sertifikasi, ia membagikan pengalaman mengenai konsep organik yang diterapkannya melalui teori yang ia sebut sebagai “teori gara-gara”.
“Gara-gara ternak ayam kampung, saya jadi bisa memproduksi pupuk organik berkualitas,” kata Taufiq.
Ia menjelaskan, sistem kandang ayam berpola litter menjadi kunci keberhasilan metode tersebut. Lapisan dasar kandang dibuat dari ranting-ranting mudah lapuk, kemudian ditumpuk kohe sapi, dilapisi kohe kambing, dan ditutup sekam padi.
Menurutnya, aktivitas ayam kampung yang terus mencakar lapisan tersebut memicu proses penguraian alami sehingga menghasilkan pupuk organik berkualitas tinggi.
“Selain tidak bau, hasil fermentasi alami ini juga menjadi vitamin kompleks alami bagi ayam,” ujarnya.
Metode sederhana namun inovatif itu langsung memantik diskusi hangat di antara peserta. Banyak yang menilai sistem tersebut cocok diterapkan petani kecil karena murah, ramah lingkungan, dan mampu mengurangi limbah peternakan.
Kegiatan sertifikasi resmi dibuka pada Selasa (19/5/2026). Acara diawali dengan pembacaan basmalah, menyanyikan lagu Indonesia Raya, laporan panitia, sambutan asesor, hingga pembukaan resmi oleh jajaran Kementerian Pertanian.
Para peserta akan menjalani serangkaian asesmen kompetensi, mulai dari pemeriksaan portofolio, wawancara, hingga uji kemampuan teknis sebagai fasilitator pertanian organik.
Selain menjadi ajang memperoleh sertifikat, kegiatan ini juga menjadi ruang pembuktian bahwa pertanian organik di Indonesia terus berkembang dan semakin diminati lintas generasi.
Turut hadir sejumlah asesor dan pakar pertanian organik nasional, antara lain Ina Puspita Dewi, Dr. Wasissa Titi Ilhami, S.P., M.Si., Dr. Ismi Puji Ruwaida, S.P., M.P., Dr. Neni Musyarofah, S.P., M.Si., serta Prof. Dr. Sri Ayu Andayani, S.P., M.P.
BBPP Lembang pun dinilai menjadi “kawah candradimuka” lahirnya mentor dan penggerak pertanian masa depan Indonesia. Dari tempat ini diharapkan lahir fasilitator tangguh yang mampu membawa pertanian nasional menuju sistem yang lebih sehat, mandiri, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
“Organik bukan sekadar metode tanam, tetapi gerakan menyelamatkan bumi dan generasi masa depan,” tutur Rochmad Taufiq.[]














Comment