Bencana Kelaparan di Gaza: Umat Bersatu Bebaskan Palestina

Opini890 Views

Penulis: Nurul Latifah, S.Ag  | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA- Kekejaman Zionis di Gaza terus berlangsung tanpa henti. Setelah pembantaian demi pembantaian, kini mereka menciptakan bencana kelaparan yang melanda penduduk Gaza. Seluruh jalur logistik makanan, obat-obatan, dan kebutuhan hidup diblokade. Akibatnya, ribuan warga Gaza mengalami malnutrisi berat hingga kematian.

Foto dan video yang beredar menunjukkan kondisi memilukan. Anak-anak hingga orang dewasa tampak kurus kering, ibu hamil dan menyusui ikut menjadi korban. Data menyebutkan lebih dari 40 persen ibu hamil dan menyusui di Gaza mengalami malnutrisi parah. Kematian pun menyebar di berbagai sudut wilayah yang terkepung.

Kelaparan sebagai Senjata Genosida

Selain bom dan peluru, kelaparan kini dijadikan senjata genosida. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, bahkan secara terang-terangan menyatakan, “Mereka harus dihancurkan, dibiarkan kelaparan, dan tidak diberi bantuan kemanusiaan yang justru memberi mereka oksigen untuk bertahan hidup.” (Times of Israel, Juli 2025).

Meski demikian, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tetap membantah adanya kelaparan. Padahal, menurut laporan World Food Programme (WFP), Gaza sudah masuk fase catastrophic hunger atau bencana kelaparan. Berdasarkan Integrated Food Security Phase Classification (IPC), Gaza berada pada level 5, tingkat tertinggi dalam skala krisis pangan.

Laporan WFP menyebut, hampir sepertiga warga Gaza tidak makan selama berhari-hari. Sekitar 90 ribu anak-anak dan perempuan mengalami malnutrisi, sementara 70 ribu anak membutuhkan perawatan medis segera akibat gizi buruk. Dari total 5,5 juta penduduk Palestina, 100 persen warga Gaza kini menghadapi kerawanan pangan akut.

Blokade, Serangan, dan Kecurangan Bantuan

Blokade tidak hanya menghentikan aliran bantuan, tetapi juga menghancurkan distribusi. Lebih dari seribu truk bantuan pangan dilaporkan dirusak. Parahnya, militer Israel kerap menembaki kerumunan warga yang sedang mengantre makanan. Sejak Mei 2025, lebih dari 1.060 orang tewas dan 7.200 terluka saat mencoba mendapatkan pangan.

Lebih biadab lagi, ada laporan bahwa bantuan tepung yang dibagikan melalui Gaza Humanitarian Foundation (GHF)—lembaga yang disebut-sebut berafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat—dicampuri zat narkotika. Tindakan ini jelas di luar batas kemanusiaan.

Umat Islam Harus Bersatu

Genosida yang berlarut-larut di Gaza menjadi bukti bahwa dunia internasional, termasuk PBB, tidak mampu berbuat banyak. Barat, terutama Amerika Serikat dan Uni Eropa, justru berdiri di belakang Israel.

Maka, pertanyaannya, sampai kapan umat Islam berharap pada PBB atau solusi dua negara yang tak pernah terealisasi? Saatnya umat sadar, penindasan ini hanya bisa dihentikan dengan persatuan dan kekuatan nyata.

Allah SWT berfirman, “Perangilah mereka di mana saja kalian jumpai, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian. Fitnah (kekufuran) itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhan.” (QS. al-Baqarah [2]: 191).

Semoga setiap langkah kecil kita menjadi saksi di hadapan Allah SWT atas keberpihakan kita. Dan semoga kemenangan segera tiba, tanah Gaza terbebas dari penjajahan Zionis, serta umat Islam bersatu dalam menegakkan keadilan. Aamiin.[]

Comment